#KlipingPR Adjat Sudradjat, Si Kepala Emas yang Tidak Besar Kepala

Kliping berita di PR, 22 November 1990.*

22 November 1990. Di hadapan 18.000 penonton, Persib berhasil kalahkan Galatama Arema Malang 1-0 (0-0). Satu-satunya gol dalam pertandingan babak penyisihan Piala Utama di Stadion Siliwangi Rabu 21 November 1990 itu, disumbangkan Adjat Sudradjat, pemain berjuluk kepala emas.

Betapa tidak. Adjat kembali mencetak gol dengan menyundulnya, kontan ke gawang Arema.

Dalam beberapa detik kepala Adjat menyambar umpan bola Djadjang Nurdjaman, dan dengan mantap bersarang ke jarring atas gawang Sukriwan. Sukriwan tak mampu menepis bola kilat sundulan Adjat. Arema pun dirundung malang karena ulah Adjat.

Julukan itu tidak berlebihan disematkan kepada Adjat. Ia kerap diandalkan untuk menciptakan gol dengan glance heading. Maneuver-manuver berbahaya pun dilayangkan Adjat dalam mengancam ambisi ranking keempat Galatama.

Di balik nama besar dan julukan kepala emas, Adjat tidak merasa paling hebat. Harian Umum Pikiran Rakyat menulis, sundulan kepala mematikan itu disadari Adjat buah dari kerja sama yang baik dengan rekan satu tim.

“Teman-teman sudah mengerti bagaimana keinginan saya. Saya kurang senang menerima umpan parabola dan meminta umpan bola lurus yang hidup. Jadi mereka tahu di mana kelebihan saya sehingga, Alhamdulillah saya bisa mencetak gol lewat sundulan tersebut,” tuturnya.

Latihan rutin bersama menjadi kunci saling pengertian dan kerja sama yang baik antar pemain. “Dalam latihan kita saling mengisi dan memahami kemampuan masing-masing,” katanya. Lanjut dia, ketika turun ke lapangan pun di antara sesama pemain sudah tercipta kerja sama solid.

Berawal dari Propelat

Perjalanan karier sepak bola Adjat mulai gemilang saat memperkuat Propelat selama sepuluh tahun. Sebelum akhirnya pindah ke klub Setia 1987 hingga kemudian menjadi primadona Persib Bandung. Ia beberapa kali menjadi bintang lapangan Persib baik dalam Kompetisi Divisi Utama Perserikatan, maupun memperkuat Tim Nasional.

Banyaknya prestasi yang diukir tidak membuat Adjat Sudradjat besar kepala. Ia tidak merasakan hal-hal yang istimewa setelah menjadi pahlawan Persib di hadapan Arema.

“Saya kira ini hal yang biasa. Mungkin karena hal ini bukan hanya terjadi sekali dalam karier sepak bola saya,” katanya.

Adapun tingkah Adjat Sudradjat yang bisa jadi kontroversi jika dilakukan saat ini ialah selebrasinya. Ia mengacungkan jari tengah setelah gol tercipta. Foto acungan jari tengah itu bahkan dipilih untuk dipasang pada halaman pertama Pikiran Rakyat.***

Baca Juga