Prestasi Persib di Liga 1 Jadi Hasil Terburuk Selama Era LSI

Persib/DOK. PR

SAYANG... apakah kau dengar jeritan hatiku/Mengharap engkau kembali/Sayang... sampai memutih rambutku/Tak akan luntur cintaku.

Demikian petikan lirik yang disadur ke dalam bahasa Indonesia dari lagu berjudul "Sayang" yang dilantunkan Via Vallen.

Lagu tersebut menggema di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung beberapa saat sebelum Persib Bandung menjalani laga pamungkas Liga 1, menjamu Perseru Serui, Minggu 12 November 2017.

Bukan hanya karena tengah menjadi tren, lirik lagu tersebut se­olah menyuarakan hati para bobotoh yang kembali membi­rukan stadion sore itu. Spontan, mereka pun ikut menyanyikan lagu tersebut dengan cukup kompak.

Jika Via Vallen menujukan lirik tersebut untuk mantan kekasih, bobotoh menujukannya untuk tim kesayangan mereka yang terpuruk di kasta tertinggi kompetisi sepak bola tanah air tahun ini.

Jeritan hati bobotoh mengharapkan Maung Bandung kemba­li ke jalur kemenangan karena sampai kapan pun kecintaan ­mereka terhadap tim Pangeran Biru itu tak akan pernah luntur.

Kenyataannya, awan hitam justru menyelimuti nasib Persib se­perti halnya langit di sekitar Stadion Si Jalak Harupat sore itu. Alam pun ikut menangis dan mengucurkan air mata ­berupa hujan deras setelah Persib tak mampu mencetak gol di babak pertama dan kemudian kecolongan dua gol di babak kedua.

Lengkaplah sudah penderitaan Maung Bandung di Liga 1. Selain membuat posisinya kembali merosot di klasemen akhir, kekalah­an 0-2 dari Perseru itu juga mematahkan satu-satunya kebang­gaan tersisa, yaitu rekor tak terkalahkan di kandang sendiri ­sejak terakhir ditekuk Semen Padang 1-2 pada 16 Februari 2014.

Akhirnya, Sang Maung pun harus puas di peringkat ke-13 kla­semen akhir Liga 1 2017. Mereka hanya mengoleksi 41 poin dari hasil 9 kali menang, 14 kali seri, dan 11 kali kalah.

Jika menilik hasil sepanjang era Liga Indonesia, capaian Persib musim ini serupa tak sama dengan musim 2006. Lolos dari zona degradasi, tetapi sama-sama hampir terjerumus ke jurang turun kasta.

Musim ini, posisi Persib sedikit lebih baik karena berada tiga ting­kat di atas jurang. Sementara itu, musim 2006, Persib tepat ber­ada di atas garis degradasi. Namun, dari segi peringkat, tahun ini tetap lebih buruk. Soalnya, pada 2006, Persib berada di urutan ke-12.

Setidaknya, musim ini bukan yang terburuk bagi Persib sepan­jang gelaran Liga Indonesia. Soalnya, rekor terparah masih di­pegang musim 2013 ketika Persib berada di peringkat ke-16 kla­semen akhir dan harus menjalani babak playoff sebelum bisa terhindar dari degradasi.

Meski demikian, capaian kali ini menjadi hasil terburuk di era Liga Super Indonesia (LSI) sejak 2008-2009. Di era tersebut, baru kali ini Persib keluar dari jajaran 10 Besar klasemen, sebelumnya capaian terendah Persib hanya terpuruk sampai peringkat ke-8 pada LSI 2011-2012.

Ketika itu, Maung Bandung sebenarnya mengalami kekalahan lebih ba­nyak dari musim ini. Namun, 13 kekalahan yang diderita masih bisa tertutupi dengan 14 laga yang dimenangi.

Begitu juga 13 ke­kalahan pada LSI 2009-2010 tak menghalangi Persib menduduki peringkat ke-4 klasemen akhir. Hal itu berkat 16 kemenangan yang dikemas Maung Bandung ketika itu.

Jumlah kekalahan Persib musim ini sama dengan LSI 2010-2011. Namun, lagi-lagi, 14 kemenangan di musim itu membuat Persib masih mampu merebut peringkat ke-7 klasemen akhir.

Laga kandang

Dari data tersebut, jelas terlihat bahwa permasalahan musim ini adalah tak mampunya Persib mengoptimalkan laga kandang. Bermain di hadapan publik sendiri, musim ini Persib sampai sembilan kali ditahan imbang tamunya.

Sebuah catatan yang sangat buruk mengingat jumlah itu lebih besar dari hasil seri di laga tandang yang hanya sampai lima kali. Apa­lagi hal itu dikuatkan oleh pernyataan sang Manajer Umuh Muchtar beberapa waktu lalu yang menilai bahwa hasil seri di kandang sama saja dengan kekalahan.

Dari catatan tersebut, sederet evaluasi idealnya segera dilaku­kan oleh manajemen untuk memperbaiki kinerja tim musim depan. Terutama dalam menentukan arsitek yang akan meramu tim karena soal materi pemain musim ini sebenarnya masih terhitung berkualitas, bahkan berkelas.

Mentalitas dan loyalitas

Harus diakui, di luar faktor teknis, kendala utama Persib musim ini adalah mentalitas dan loyalitas. Baik pemain maupun pelatih harus memiliki kecintaan terhadap bobotoh seperti halnya bobotoh mencintai mereka sepenuh hati.

Untuk sosok pelatih, kecintaan itu tentunya harus ­diwujudkan dengan sikap mental yang tahan terhadap kritikan setajam apa pun.

Dengan begitu, tak akan terjadi lagi kepemimpinan pelatih yang terhenti di tengah jalan sehingga sedikit banyak memenga­ruhi skema dan strategi yang harus dijalankan para pemain dari laga ke laga.

Di sisi lain, tentu saja itu tak menjadi pembenaran bagi bobotoh untuk menyampaikan kritikan pedas tanpa menghiraukan ­etika dan sopan santun, terutama di media sosial. Karena hal ­seperti itu hanya dilakukan oleh oknum yang sebenarnya dibenci dan sama sekali tak mencerminkan sikap mental para bobotoh ­sejati.

Terkait materi pemain, bobotoh pun sudah banyak bersuara di media sosial. Mereka tak mengharapkan pemain bintang ­jika tak bisa menunjukkan loyalitas terhadap tim dan bobotoh yang setia mendukung dalam kondisi apa pun.

Bukan rahasia lagi jika keharmonisan antarbobotoh dengan beberapa pemain Persib musim ini tak begitu baik. Hal itu terbuk­ti dengan aksi unjuk rasa yang dilakukan bobotoh di Graha Persib beberapa waktu lalu.

Selain itu, suara bobotoh juga sudah santer terdengar bahwa mereka menginginkan kesempatan lebih dibuka lebar untuk para pemain muda potensial, terlebih mereka yang lahir dari hasil pembibitan Persib sendiri. Terakhir dan paling krusial, bo­botoh menginginkan tambahan striker untuk mempertajam gigi Maung Bandung musim depan.

Seperti diketahui, Maung Bandung memang mengalami krisis striker mu­sim ini. Setelah sama sekali tak bisa menampilkan sosok stri­ker murni dengan performa sesuai harapan pada putaran perta­ma, Persib pun memang hanya mengandalkan seorang Ezechiel N'Douassel sebagai satu-satunya striker murni di putaran ­kedua.***

Baca Juga

Persib Harus Lihat Gajah di Pelupuk Mata

Skuad Persib Bandung untuk Liga 1 musim 2018 masih tetap menjadi tanda tanya. Kepastian mengenai siapa yang bertahan dan siapa yang akan tergeser masih menunggu keputusan pelatih baru Maung Bandung, Roberto Carlos Mario Gomez.

Harapan Besar Persib Berada di Pundak Roberto Carlos Mario Gomez

SELAIN berbagai faktor nonteknis yang sudah menjadi rahasia umum, semua bobotoh paham betul bahwa sosok pelatih kepala menjadi perma­salahan yang membuat prestasi Persib Bandung kembali menurun sejak meraih gelar juara LSI 2014 dan Piala P