Pemain Mentereng, Persib Tak Berdaya di Liga 1

Michael Essien/ARMIN ABDUL JABBAR/PR
PEMAIN Persib Michael Essien berlari mengejar bola saat Maung Bandung menjamu Persela di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Gedebage, Kota Bandung, Rabu 12 Juli 2017. Dalam laga itu, Persib harus puas dengan raihan 1 poin.*

BENTUKNYA yang bulat membuat bola akan menggelinding saat ditendang atau dimainkan. Setiap sisinya tak akan pernah terus berada dalam posisi yang sama, sesekali bisa di atas, di bawah, atau di samping. Demikian pula halnya dengan tim yang ikut serta dalam kompetisi rutin, tak terkecuali Persib.

Ada kalanya mereka bisa meraih prestasi terbaik dan meraih gelar juara, ada juga waktunya mereka terpuruk di dasar klasemen.

Pasang surut serupa pun dialami tim kebanggaan masyarakat Jawa Barat, Persib Bandung. Setelah menjadi yang terbaik di ajang Liga Indonesia I pada 1994/1995, tim berjuluk Maung Bandung itu pernah berada di papan atas, papan tengah, dan bahkan terancam degradasi sebelum akhirnya kembali meraih gelar pada Liga Super Indonesia 2014.

persib, juara 1994, 1995, liga indonesia,

Bagai bola yang kembali bergulir deras, nasib Pangeran Biru kembali mengalami dinamika signifikan. Kini, dua musim sudah dilalui Persib setelah terakhir merengkuh trofi.

Di tangan Dejan Antonic, Persib mengawali Indonesia Soccer Championship 2016 dengan langkah kurang meyakinkan. Namun, kembalinya sang maestro, Djadjang Nurdjaman membawa kembali mental juara 2014 di tubuh Maung Bandung, hingga nama besar Persib tetap terjaga di akhir musim meskipun tak berhasil mempertahankan gelar.

Sosok Djadjang Nurdjaman juga kembali menjadi secercah asa saat Persib menapakkan kaki di Liga 1 edisi 2017. Sejuta harapan dari bobotoh agar Persib kembali menjadi jawara, dibebankan di pundak pelatih legendaris itu.

Harapan yang cukup wajar, terlebih Maung Bandung memang mengawali musim tersebut dengan materi yang sangat mumpuni. Selain pemain lama yang pernah mempersembahkan trofi, Maung Bandung juga diperkuat oleh sejumlah talenta muda berbakat dan pemain kelas dunia seperti Michael Essien dan Carlton Cole.

Kenyataannya, materi tersebut ternyata tak menjadi jaminan bagi Persib untuk dengan mudah menaklukkan lawan-lawannya. Tak menunjukkan performa memuaskan, Carlton Cole pun lebih sering dicadangkan dan Persib tergopoh-gopoh hingga tekanan demi tekanan membuat Djadjang akhirnya memilih mundur.

Dari 17 laga yang dilakoni, Maung Bandung berada di papan bawah klasemen pada akhir putaran pertama Liga 1 dengan torehan 21 poin dari hasil 5 kali menang, 6 seri, dan 6 kalah.

Parahnya lagi, Maung Bandung pun mengalami defisit 2 gol karena hanya memasukkan 16 gol dan kemasukan 18 gol.

Peran striker

Selisih gol tersebut menjadi catatan bahwa produktivitaslah yang menjadi masalah utama Maung Bandung di putaran pertama Liga 1 2017. Hal itu ditegaskan Djanur sebelum mundur, bahwa salah satu kesalahan yang ia buat adalah tak mampu merekrut sosok striker murni yang menjadi kebutuhan primer Maung Bandung dengan materi lini lain yang sudah sangat lengkap.

Memasuki putaran kedua, Maung Bandung akhirnya memenuhi kebutuhan utama itu lewat sosok Ezechiel N'Douassel. Benar saja, kehadiran kapten Timnas Chad itu langsung membuat taring Maung Bandung semakin tajam dalam mengoyak jala lawan.

Sejak mulai diturunkan penuh dari menit awal, Ezechiel N’Douassel mampu mendongkrak produktivitas Persib yang mampu mengemas 10 gol dalam 3 laga. Jumlah yang mencapai lebih dari setengah gol Maung Bandung dalam 17 laga putaran pertama.

Dalam tiga laga tersebut, Maung Bandung mencatat rekor kemenangan terbesar 6-0 saat menjamu Persegres, 28 Agustus 2017.

Selain itu, empat gol lain dicetak di kandang Sriwijaya FC, sekaligus menjadi rekor kemenangan terbesar Maung Bandung dalam laga tandang.

Meski demikian, kegemilangan itu tak bertahan lama. Maung Bandung tak mampu memenangi delapan laga berikutnya sehingga posisi di klasemen pun tak beranjak naik ke papan atas.

Hal itu jelas menunjukkan bahwa materi pemain bukanlah masalah utama terpuruknya Maung Bandung musim ini. Apalagi para pemain sudah menunjukkan kerja keras dan upaya maksimal mereka di lapangan.

Dalam kondisi seperti itu, faktor ketidakberuntungan memang bisa jadi faktor terbesar atas nasib buruk Maung Bandung di Liga 1. Namun, rasanya tak elok jika menyalahkan Dewi Fortuna, karena sepak bola adalah olah raga yang didasari taktik dan strategi.

Faktor pelatih

Tak boleh ditampik bahwa pada musim ini, sosok pelatih menjadi salah satu faktor krusial atas kegagalan Maung Bandung. Bukan karena ketidakmampuan mereka, dinamika pergantian di tengah faktor nonteknis dari tuntutan bobotoh pastinya memiliki pengaruh.

Musim 2016, kondisi serupa memang juga pernah terjadi. Namun, ketika itu Dejan Antonic mundur pada pekan ke-6. Hanya dua laga Maung Bandung harus diasuh oleh caretaker Herrie Setyawan sebelum akhirnya Djanur kembali turun pada pekan ke-9 sehingga memiliki waktu cukup lama untuk membenahi Persib.

Tahun ini, transisi kursi pelatih justru terjadi di waktu krusial ketika Djanur mundur dengan hanya menyisakan dua laga putaran pertama. Kali ini, Herrie Setyawan pun harus bertindak sebagai caretaker enam laga sebelum Emral Abus menduduki kursi pelatih kepala pada pekan ke-22.

Fakta lain yang mendukung bahwa transisi kepelatihan berdampak signifikan terhadap prestasi tim adalah capaian tim-tim lain di Liga 1. Hingga saat ini, hanya 6 tim Liga 1 yaitu  Bhayangkara FC, PSM Makassar, Barito Putera, Persija Jakarta, Madura United, dan Persegres Gresik United yang tak mengalami pergantian pelatih.

Dari keenam tim tersebut, hanya Persegres yang prestasinya terpuruk sebagai juru kunci klasemen. Berganti pelatih atau tidak, masalah tunggakan gaji pemain dan beberapa hal sensitif lain jelas membuat mereka sulit untuk bisa berprestasi.

Sementara itu, lima tim lainnya kini bercokol di posisi 7 Besar. Setidaknya hal itu menjadi bukti bahwa arsitek yang sama bisa mendeteksi dan segera memperbaiki kekurangan dalam sebuah tim yang dibangunnya sejak awal.***

Baca Juga

Persib Harus Lihat Gajah di Pelupuk Mata

Skuad Persib Bandung untuk Liga 1 musim 2018 masih tetap menjadi tanda tanya. Kepastian mengenai siapa yang bertahan dan siapa yang akan tergeser masih menunggu keputusan pelatih baru Maung Bandung, Roberto Carlos Mario Gomez.