Persib Sulit Juara di Kompetisi Satu Wilayah

Persib/DOK. PR

LIGA 1 menjadi ajang kembali bangkitnya kompetisi sepak bola tertinggi di Tanah Air usai Liga Super Indonesia 2014 yang menjadi penutup kompetisi setelah FIFA membekukan PSSI. Pada LSI 2014, Persib menjadi juara setelah di final mengalahkan Persipura melalui adu penalti.

Saat  itu, forat LSI menggunakan sistem dua wilayah yaitu timur dan barat dan pada momen itulah Maung Bandung kembali mengulang sejarah setelah harus menunggu kurang lebih 19 tahun. Sebelum 2014, Maung Bandung terakhir kali menjadi juara adalah pada Liga Indonesia tahun 1995.

Selepas itu, prestasi Maung Bandung seolah meredup dan bahkan harus melalui ujian yang cukup berat. Banyak pelatih yang masuk dan keluar menanganai Persib selepas juara Liga Indonesia I.

Mereka mencoba untuk mengembalikann kejayaan Persib sebagai salah satu klub legendaris di Indonesia. Sederet prestasi telah diraih Pangeran Biru di kompetisi tertinggi sepak bola di Tanah Air.

Sejak era Perserikatan, Persib telah meraih tujuh gelar juara, ditambah satu gelar juara Liga Indonesia, satu gelar Liga Super Indonesia, dan terakhir pencapaian tertnggi mereka bisamerebut Piala Presiden.

Akan tetapi, Maung Bandung selalu kesulitan meraih gelar juara pada kompetisi sepak bola yang menggunakan format satu wilayah. Hal tersebut terkesan tidak masuk akal. Namun pada kenyataanya, mereka belum bisa meraih gelar juara jika kompetisi dilakukan dalam format satu wilayah.

Saat tampil sebagai juara Liga Indonesia I dan LSI 2014, format kompetisi yang digunakan adalah dua wilayah. Sementara ketika Maung Bandung juara Piala Presiden, ajang itu tidak masuk ke dalam kompetisi resmi karena FIFA mengeluarkan sanksi untuk Indonesia.

persib, juara 1994, 1995, liga indonesia,

Naik turun

Berdasarkan data dari rsssf.com prestasi terbaik Persib pada kompetisi sepak bola yang menggunakan format satu wilayah adalah menempati peringkat ketiga yaitu pada LSI 2008-2009.

Pada musim berikutnya, ketika kembali menggunakan format kompetisi penuh, Atep dkk. hanya bisa bertengger di peringkat keempat klasemen akhir LSI 2009-2010. Musim selanjutnya, prestasi Persib justru melorot ke peringkat tujuh di klasemen akhir.

Pada LSI 2011-2012, setelah melalui riak yang bergejolak di dalam tubuh Persib, Maung Bandung akhirnya hanya meraih peringkat delapan di klasemen akhir.

Setelah berganti pelatih di bawah asuhan Djadjang Nurdjaman, di LSI 2013, peringkat Maung Bandung di kompetisi dengan format satu wiayah kembali membaik yaitu menempati peringkat empat di klasemen akhir.

Kini, di Liga 1 yang kembali menggunakan format satu wilayah, posisi Persib justru nyaris berada di papan bawah klasemen sementara. Mereka masih tertahan di peringkat ke-11 dengan nilai 37 dari 8 kali menang, 13 kali seri, dan 7 kali kalah.

Hasil yang diraih oleh Maung Bandung di Liga 1 sangat jauh di luar dugaan karena dengan materi pemain yang mumpuni, mereka justru kalah bersaing dengan tim-tim lainnya. Dengan sisa enam pertandingan, Persib harus bisa memanfaatkannya dengan baik supaya posisi mereka bisa beranjak lebih baik lagi.***

Baca Juga

Catatan Sejumlah Mantan Pemain Persib di Tim Barunya

MENGAWALI musim baru, perubahan merupakan hal yang wajar dialami tim sepak bola. Masuknya pemain baru dan keluarnya pemain lama terjadi demi memenuhi kebutuhan tim yang berujung pada target prestasi yang lebih baik.