SMK di Jawa Barat Punya Kurikulum Lokal Tahun Depan

Ilustrasi pendidikan/PR

JAKARTA, (PR).- Pemerintah pusat merestui pemerintah daerah untuk menetukan kurikulum lokal bagi SMK yang sesuai dengan wilayahnya. Kurikulum lokal bagi SMK di beberapa provinsi termasuk Jawa Barat akan mulai diterapkan pada tahun ajaran baru 2019.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, ‎dia sedang menyiapkan peta jalan dari kurikulum lokal tersebut.

"Kita perlu memulai dengan beberapa provinsi supaya ada SMK yang sesuai dengan potensi unggulan daerahnya," ujar Darmin Nasution usai Rapat Koordinasi di Jakarta, Jumat 7 Desember 2018.

Dia mengatakan, ‎beberapa provinsi tersebut sudah mengusulkan sektor prioritasnya masing-masing. Setelah rakor, Darmin Nasution akan membicarakan kurikulum sesuai bidang yang diusulkan.

"Supaya jangan masing-masing. Kita rombak struktur belajarnya. Diharapkan, tahun ajaran baru nanti sudah dimulai," ujar dia.

Selain menyiapkan kurikulum, Darmin Nasution mengatakan, dia juga akan melakukan pelatihan untuk tenaga pengajar. Dengan demikian, guru bisa lebih memahami kurikulum baru yanga akn diterapkan.

"Anggarannya ada dari APBN, tapi sedang kami rumuskan. Kami ingin melaksanakan vokasi besar-besaran tahun depan," tuturnya.

Gayung bersambut

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat UU Ruzhanul Ulum mengatakan‎, kurikululm lokal bertujuan agar para alumni SMK bisa langsung terserap dunia usaha.

"Karena sekarang kita menggunakan kurikulum nasional, sementara di daerah potensinya macam-macam. Di Jabar contohnya, ada pariwisata, pertanian seperti kopi, teh, dan sebagainya. Sekarang, pusat memberikan kebebasan, silakan jika di Jabar mau ada SMK khusus kopi, teh, dan sebagainya," ujar dia.

 UU Ruzhanul Ulum mengatakan, ada 9 sektor potensial di Jabar yang bisa dikembangkan. Sektor tersebut di antaranya adalah pariwisata, agribisnis pertanian, maritim, ekonomi kreatif, serta sektor lain yang sudah ada.

Menurut dia, Pemprovb Jawa Barat sebenarnya jauh lebih dulu berencana menyisipkan kurikulum lokal. "Jadi, ini seperti gayung bersambut pada saat kami sedang kebingungan ingin menyisipkan kurikulum lokal. Kami sudah lakukan itu," ujar dia.

UU Ruzhanul Ulum mengatakan, pemerintah juga akan mendatangkan tenaga kerja asing untuk melatih guru dengan kurikulum baru tersebut. Sebab berdasarkan hasil evaluasi, kualitas guru SMK juga kurang produktif.

"Jadi jangan hanya salahkan anak SMK-nya jika tidak sesuai harapan karena gurunya juga harus ditingkatkan," ujar dia.

Dalam kurikulum baru tersebut, dia mengatakan, guru juga diwajibkan menyisipkan ‎nilai-nilai moral dan akhlak saat menyampaikan teori pada siswa.

"Jadi tidak usah ada pelajaran khusus, seperti nilai-nilai moral, akhlak, dan Pancasila. Itu penting sebagai penguatan karakter,"ujar dia.***

Baca Juga

Guru Besar UPI: Bila Perlu, Kurikulum Berubah Setiap Hari

BANDUNG, (PR).- Kurikulum harus dinamis sesuai dengan tantangan zaman. Kurikulum bukan hanya untuk penguatan teori, melainkan dirancang untuk penguatan literasi dasar, pola pikir digital, serta penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.