Jumlah Pengangguran Lulusan SMK Menurun

Uji KOmpetensi SMK/USEP USMAN NASRULLAH/PR

JAKARTA, (PR).- Tingkat pengangguran terbuka atau TPT dari lulusan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) turun 0,17%. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengklaim, capaian tersebut merupakan bentuk dari keberhasilan program revitalisasi SMK yang dilakukan sejak 2016.

Kendati turun, TPT dari lulusan SMK masih yang tertinggi dibandingkan lulusan jenjang pendidikan lain, yakni 11,24%. Mendikbud Muhadjir Effendy mengatakan, penguatan revitalisasi SMK akan terus dilakukan pada tahun depan dengan menggandeng kalangan industri.

Turunnya TPT dari lulusan SMK menjadi bukti bahwa revitalisasi sebagai solusi untuk mengatasi pengangguran.

Menurut dia, penguatan revitalisasi SMK salah satunya dengan melakukan penataan anggaran. Kendati digagas sejak 2016, kebijakan tersebut berjalan 100% pada akhir 2017 atau awal 2018.

“Kami harapkan, revitalisasi SMK bisa menekan tingkat pengangguran SMK. Ini juga jadi tantangan bagi Kemendikbud, apakah bisa membuktikan bahwa revitalisasi SMK berjalan sesuai yang diharapkan,” ujar Muhadjir Effendy di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Kamis 6 Desember 2018.

Untuk mematangkan program revitalisasi SMK tahun depan, Kemendikbud menggelar rembuk pendidikan kejuruan SMK yang dihadiri 150 orang dari unsur kementerian/lembaga terkait. Perwakilan dari dunia usaha dan dunia industri, guru dan praktisi pendidikan vokasi turut dilibatkan. “Jadi, pengguran terus turun walaupun masih sedikit,” ucapnya.

Disesuaikan

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan, kebijakan revitalisasi SMK perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman yakni dengan melakukan perbaikan dan penajaman pada bidang tertentu.

Ia menuturkan, Kemenko Perekonomian bersama Kemendikbud dan lembaga terkait sudah memiliki peta jalan kebijakan pengembangan vokasi hingga 2025.

Peta jalan tersebut bukan hanya fokus pada SMK, tetapi juga Politeknik dan Balai Latihan Kerja (BLK) yang melibatkan pelaku industri.

Ia menegaskan, lembaga pendidikan vokasi harus memperhatikan 4 perkembangan tren global terkait sumber daya manusia di era industri 4.0. Pertama, munculnya teknologi digital yang memungkinkan orang bekerja di mana saja.

"Tren kedua, peran long life learning. Dengan kemajuan digital, pembelajaran tidak hanya dapat dilakukan di sekolah formal saja dan memungkinkan akses pendidikan ke seluruh pelosok Indonesia," kata Darmin Nasution.

Tren ketiga, penggunaan media sosial yang banyak memunculkan talenta secara global. Keempat, manajemen kinerja berbasis analisis data.

Menurut dia, kinerja seseorang tidak lagi diukur berdasarkan jumlah jam kerja, tetapi berdasarkan produktivitas mereka.

Dengan 4 tantangan tersebut, menurut Darmin Nasution, revitalisasi SMK secara menyeluruh harus segera dilakukan. Dimulai dari perbaikan kurikulum SMK yang sesuai dengan kebutuhan dan tantangan masa depan. Termasuk sertifikasi yang mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia.

"Kemudian, program pemagangan di industri untuk meningkatkan kemampuan dan kapasitas siswa. Training of trainers guru hingga memperbaiki sistem seleksi yang sesuai keahlian dan meningkatkan minat calon siswa menjadi siswa SMK,” ucapnya.***

Baca Juga

Data Guru di 1.900 Zona Segera Rampung

JAKARTA, (PR).- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menargetkan pemetaan jumlah guru pada setiap zona selesai bulan depan.