Guru Besar UPI: Bila Perlu, Kurikulum Berubah Setiap Hari

Ilustrasi/ANTARA
Siswa SD.*

BANDUNG, (PR).- Kurikulum harus dinamis sesuai dengan tantangan zaman. Kurikulum bukan hanya untuk penguatan teori, melainkan dirancang untuk penguatan literasi dasar, pola pikir digital, serta penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Guru Besar UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) Ace Suryadi mengatakan, kurikulum yang memuat banyak mata pelajaran teoretis belum terbukti ampuh melahirkan pembelajar sepanjang hayat. Menurut dia, kurikulum tak bisa dibatasi masa berlakunya karena akan sulit beradaptasi dengan perkembangan zaman.

"Kurikulum harus beradaptasi dengan lingkungannya. Perspektifnya memang universal, tapi apa yang kita pelajari selalu berubah, setiap lokal juga berubah. Kurikulum jangan dibatasi 5 sampai 10 tahun, bila perlu setiap hari berubah," kata Ace Suryadi saat menjadi pembicara kunci dalam Seminar Nasional dan Diseminasi Hasil Riset Grand Desain Pendidikan Jawa Barat di Gedung Achmad Sanusi Kampus UPI, Jalan Dr. Setiabudi, Kota Bandung, Kamis 6 Desember 2018.

Ia mengatakan, kurikulum harus berpijak pada nilai-nilai lokal. Jika sifatnya nasional, isinya acenderung hanya berisi teori. Padahal, cara mengajar dan konten pelajarannya bisa berbeda-beda.

"Yang sama itu standarnya. Kalau bisa kurikulum dikembalikan ke KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) saja," ujarnya.

Ace Suryadi menjelaskan, dalam perspektif pendidikan sebagai pembangunan manusia, salah satu komponennya ialah pendidikan dasar untuk semua. Pada fase pendidikan dasar, yang terpenting ialah kemampuan dasar untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Literasi dasar yang dimaksud ialah membaca, menulis, menyimak, menutur, matematika dasar, serta pola pikir digital.

Menurut Ace Suryadi, pendidikan dasar itu sampai ke tingkat SMA. Seharusnya tak ada pendidikan vokasional di tingkat SMA.

"Beberapa negara, seperti Australia, pendidikan SMA kejuruan itu tidak ada. Setelah SMA baru dijuruskan karena mereka relatif lebih dewasa dan lebih mampu. Masa umur 16 tahun sudah dijuruskan," tutur Ace Suryadi.

Dengan konsep itu, kata Ace Suryadi, seharusnya model Ujian Nasional (UN) juga harus berubah. UN saat ini sifatnya menguji kemampuan setiap mata pelajaran.

"Kalau mengetes mata pelajaran itu seharusnya seorang ahli. Masak anak SD dites ilmu pengetahuan. Mereka tidak akan jadi ilmuan, paling 1-2 persen saja yang jadi ilmuan," tuturnya.

Ace Suryadi berpendapat, UN seharusnya menguji kemampuan literasi dasar siswa. Bagaimana kemampuannya membaca, menyimak, menulis, berkomunikasi, bergaul, juga berpikir kritis. "Pembelajaran pun bukan teori yang diujikan, tetapi praktis," ujarnya.

Ia mengatakan, Australia sudah menerapkan model itu lewat National Assessment Program Literacy and Numeracy. Ace Suryadi berharap, UPI bisa menjadi pelopor untuk menerapkan model pendidikan seperti itu.

Sekolah aman dan damai

Guru Besar UPI Sunaryo mengatakan, saat ini pendidikan sedang dilanda krisis yang ditandai dengan menguatnya budaya pengujian (culture of testing) dan menurunnya budaya literasi (cultural literacy).

Padahal, pendidikan yang gagal membekali orang dengan kemampuan hidup secara damai bukan pendidikan yang bermakna.

Perdamaian, kata Sunaryo, merupakan proses yang harus dibangun setiap manusia sejak dini. Pendidikan berperan untuk membangun budaya damai pada anak-anak.

Pada akhirnya, setiap anak mampu hidup dalam harmoni, toleransi, kebersamaan, penuh pemahaman, dan bisa menyelesaikan konflik dengan baik.

Menurut Sunaryo, tingkat kedamaian suatu negara berkorelasi positif dengan kualitas pendidikan dan kesejahteraan.

"Negara yang damai itu pendidikannya bagus, kesejahteraannya juga tinggi," ujarnya.

Seperti yang terjadi di Finlandia, Jerman, dan Jepang, negara-negara itu masuk daftar 20 negara paling damai di dunia dan 20 negara dengan sistem pendidikan terbaik.

Riset yang dilakukan UPI menunjukkan, skor siswa yang sesuai dengan indikator perilaku aman dan damai nilainya 56 persen. Sementara upaya guru untuk menciptakan kelas yang damai skornya 65,76 persen.

"Artinya mungkin masih ada ucapan anak yang menimbulkan konflik, mengasingkan orang lain, dan lainnya. Guru pun belum optimal menciptakan kondisi itu. Mungkin ada yang sedikit-sedikit marah atau yang tidak memberi perhatian pada murid, atau ada murid yang bertindak sedikit tidak berkenan, direspon negatif," tutur Sunaryo.

UPI kini sedang menguji coba implementasi pedagodi pendidikan kedamaian di beberapa sekolah yaitu SMA Labschool UPI, SMA Negeri 4 Bandung, dan SMK Negeri 1 Bandung Barat.***

Baca Juga

Sandiaga Uno Sempat Khawatir Saat Diundang ke Unpas

BANDUNG, (PR).- Calon Wakil Presiden nomor urut 2 Sandiaga Uno semlat khawatir saat diundang menghadiri Wisuda Universitas Pasundan. Ia khawatir dianggap melanggar aturan kampanye.

Orasi Ilmiah Jusuf Kalla di Unisba Diwarnai Aksi Mahasiswa

BANDUNG, (PR).- Orasi ilmiah Wapreas Jusuf Kalla ini diwarnai dengan aksi mahasiswa. Beberapa mahasiswa yang duduk di antara tamu undangan dengan mengenakan jaket almamater Unisba menutup mulutnya dengan lakban hitam.