Kemendikbud Salurkan Perangkat TIK untuk Sekolah di Daerah Terluar

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyalurkan bantuan perangkat teknologi informasi dan komunikasi (TIK) ke 70 sekolah di daerah terdepan, terpencil dan tertinggal (3T). Bantuan tersebut sebagai satu dari beragam cara untuk mewujudkan layanan pendidikan bermutu, mudah diakses, dan terjangkau oleh semua masyarakat.

Mendikbud Muhadjir Effendy menyatakan, perangkat TIK sangat penting dalam upaya mempercepat pemerataan kualitas pendidikan dasar dan menengah nasional. Kemajuan teknologi informasi dan penetrasi internet harus dimanfaatkan dengan efektif agar akses pendidikan anak usia sekolah terus meningkat.

“Pemerintah harus jeli dalam menangkap persoalan sehingga yang diberikan bantuan bukan pusat atau kota. Tetapi membangun dari pinggiran untuk meningkatkan akses dan pemerataan kualitas pendidikan. Sehingga di tahun 2023 sekolah kita betul-betul menggunakan teknologi informasi, dan betul-betul siap menyongsong era 4.0,” kata Muhadjir di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Selasa 4 Desember 2018.

Bantuan yang diberikan ke setiap sekolah yakni 4 komputer jinjing (laptop), 1 LCD proyektor, 1 perangkat akses internet, dan 1 hard disk ekternal yang berisi konten-konten rumah belajar. Untuk pemberian koneksi internet di sekolah daerah 3T, Kemendikbud bekerja sama dengan Kemenkominfo melalui program Universal Service Obligation (USO). 

Muhadjir menjelaskan, Kemendikbud juga memberikan program bimbingan teknis pemanfaatan TIK untuk guru di daerah 3T. “Dengan perangkat TIK, harapannya daerah 3T dapat mengakses seluruh materi yang juga diakses oleh anak-anak diperkotaan sehingga sekolah-sekolah di daerah 3T tidak memiliki hambatan untuk belajar dengan materi-materi yang sama, sehingga kualitas pendidikan di daerah 3 T dan perkotaan sama kualitasnya,” ujarnya.

Pada tahun depan, pemberian bantuan perangkat TIK akan terus ditingkatkan. Sasaran penerimanya bukan hanya untuk sekolah di daerah 3T. Menurut Muhadjir, jumlahnya tak kurang dari 4.000 unit. “TIK mampu membangun interkoneksi satu sama lain dan memberikan informasi dalam mendukung belajar mengajar di sekolah. Saya minta semua guru buka jendela selebar-lebarnya,” katanya.

Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Kemendikbud Gogot Suharwoto menambahkan, penggunaan perangkat TIK secara masif tak bisa dihindari jika ingin meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Pasalnya, teknologi merangsek ke dalam semua sendi, termasuk sosial dan pendidikan. 

Ia menegaskan, melalui program Education 4.0, Kemendikbud menargetkan semua sekolah sudah terkoneksi internet dan perangkat TIK hingga 2030. “Tantangan utama pembelajaran era 4.0 adalah kesenjangan kompetensi guru. Kami sudah melakukan survey bahwa guru yang benar-benar siap mengajar dengan teknologi 4.0 hanya sekitar 40 persen. Jadi selain bantukan TIK ke sekolah, pelatihan guru juga terus dilakukan,” ucap Gogot.

Ia menyatakan, pada tahun depan pemerintah memberikan akses kepada sekolah-sekolah di daerah terpencil sebanyak 1.474 sekolah. Bukan hanya akses, tetapi juga bantuan peralatan dan pelatihan guru. “Penggunakan teknologi ini berperan sangat penting. Sekarang ini kami juga sedang mengembangkan audio book yang diperuntukkan bagi mereka yang tunanetra,” katanya.***

Baca Juga