Ribuan Ruang Kelas SD dan SMP di Bandung Barat Rusak

Sekolah rusak/HENDRO SUSILO/PR
ATAP teras yang ambruk di SD Rajamandala 4 yang berlokasi di kawasan PTPN VIII, Desa Rajamandala, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), terjadi pada Senin 9 Oktober 2018.*

NGAMPRAH, (PR).- Ribuan ruang kelas di SD dan SMP yang berada di bawah naungan Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat mengalami rusak berat dan rusak sedang. Untuk merehab ruang-ruang kelas yang rusak tersebut, diperlukan anggaran puluhan miliar rupiah. 

Kepala Disdik KBB Imam Santoso menyebutkan, SD di KBB terdapat 672 ruang kelas yang rusak berat dan 765 ruang kelas rusak sedang. Sementara di SMP terdapat 361 ruang kelas rusak berat dan 192 ruang kelas rusak sedang. Belum ditambah ruang kelas yang rusak ringan, diperlukan anggaran yang besar untuk memperbaikinya.

"Buat memperbaiki ruang yang rusak berat itu anggarannya sekitar Rp 90 jutaan, sedangkan yang rusak sedang Rp 60 jutaan. Tinggal dikalikan saja berapa biaya yang diperlikan. Yang rusak berat itu tingkat kerusakannya di atas 60 persen, jadi sudah cukup berbahaya," kata Imam di Cisarua, Selasa 9 Oktober 2018.

Tanpa menyebutkan anggaran yang dialokasikan, menurut dia, setiap tahun Disdik berupaya mengurangi jumlah ruang kelas yang mengalami kerusakan. Anggarannya, kata dia, berasal dari APBD maupun dana alokasi khusus (DAK). "Dari DAK itu kan ada untuk ruang kelas baru, rehab kelas, dan untuk lain-lain," ujarnya.

Selain merehab ruang kelas yang sudah direncanakan, Imam menyatakan, Disdik pun langsung merespons atap teras ruang kelas yang ambruk di SD Rajamandala 4. Atap teras ruang sekolah yang berlokasi di kawasan PTPN VIII, Desa Rajamandala, Kecamatan Cipatat, itu ambruk pada Senin 8 Oktober 2018.

"Begitu mendengar informasi tersebut, saya langsung berkoordinasi dengan Kepala Bidang SD serta kepala sekolah. Tadi pagi sudah ada tim yang meninjau ke lokasi. Kami akan segera mempersiapkan untuk proses perbaikan atau pembangunan ulang," tuturnya.

Insiden atap teras SD Rajamandala 4 yang ambruk itu tidak sampai menimbulkan korban jiwa, karena terjadi sekitar pukul 13.30 ketika aktivitas belajar siswa baru selesai. Bagian atap yang ambruk berukuran sekitar 6x3 meter, sementara atap bangunan kelas masih tetap utuh.

Menurut Kepala SD Rajamandala 4 Iwan Suprihat, atap teras ruang kelas yang ambruk itu merupakan bangunan lama, yang sudah dibangun lebih dari 15 tahun lalu. Selama ini belum pernah dilakukan rehab, dan pihak sekolah sudah mengkhawatirkannya. "Kejadiannya siang, setelah siswa bubar sekolah. Jadi tidak ada korban jiwa," ujarnya.

Menurut dia, ruang kelas tersebut digunakan untuk siswa kelas 1, yang berjumlah 22 orang. Di barisan atap bangunan yang ambruk juga terdapat ruangan lainnya, yang dipakai untuk UKS, ruang kepala sekolah, dan dapur. "Tiga ruangan itu memang sudah tua dan perlu direhab. Di awal tahun ini ada konsultan yang memantau untuk bantuan rehab, tapi belum sempat ditindaklanjutu," katanya.

Akibat insiden ini, kegiatan belajar kemudian dilakukan dengan sistem shift, khususnya untuk anak-anak kelas 1. Iwan menyebutkan, di SD Rajamanda 4 total ada 12 ruangan, termasuk 8 ruang kelas. Ruang kelas itu digunakan oleh total 279 siswa. "Kami manfaatkan kelas yang ada. Jadi pakai sistem sekolah pagi dan siang," katanya.***

You voted 'tidak peduli'.

Baca Juga