697 Mahasiswa Asing Belajar Bahasa dan Budaya Indonesia

Ilustrasi/ADE BAYU INDRA/PR

JAKARTA, (PR).- Sebanyak 697 mahasiswa dari 94 negara akan mengikuti pendidikan di 70 perguruan tinggi nasional. Peserta program Darmasiswa tahun akademik 2018/2019 itu akan menetap selama setahun untuk mempelajari kesenian, budaya dan bahasa Indonesia serta daerah. Darmasiswa merupakan program yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Kementerian Luar Negeri.

Sekretaris Jenderal Kemendikbud Didik Suhardi mengatakan, program Darmasiswa dilaksanakan sejak 1974 dan diikuti sebanyak 7.852 peserta dari 117 negara. Menurut dia, program ini pada awalnya hanya untuk negara sahabat dari kawasan ASEAN dengan peserta tak lebih dari 20 mahasiswa. Peserta Darmasiswa menentukan sendiri perguruan tinggi negeri dan swasta yang akan dikunjungi.

“Peserta diberikan pengenalan budaya dan kearifan lokal sebagai bekal untuk tinggal di Indonesia. Kemendikbud selalu mempunyai komitmen untuk memberikan kontribusi pada hubungan persahabatan itu dan program Darmasiswa adalah salah satu cara untuk mewujudkan komitmen tersebut,” tutur Didik saat menyambut peserta Darmasiswa di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Kamis 30 Agustus 2018 malam.

Didik mengatakan, program ini untuk mempererat hubungan persahabatan antara Indonesia dan negara-negara sahabat. Sesuai dengan komitmen Indonesia yang tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar, yakni ikut menjaga perdamaian dan ketertiban dunia.

Ia menjelaskan, Darmasiswa merupakan beasiswa nongelar untuk mahasiswa asing yang serius mempelajari seni dan budaya tanah air. Program ini sangat strategis sebagai sarana diplomasi. Pasalnya, jumlah dan cakupan negara yang diundang terus meningkat.

“Sebagai bentuk diplomasi lunak untuk mengenalkan budaya Indonesia ke seluruh dunia. Darmasiswa ini mendapat pengawasan langsung dari Kemenlu dan para negara sahabat,” ujarnya.

Lanjut studi di Indonesia

Ia mengatakan, para peserta dapat membangun jejaring dan aktif dalam pengembangan bahasa dan seni budaya Indonesia. Didik menekankan bahwa peserta tidak hanya belajar di perguruan tinggi, tetapi juga belajar dari lingkungan masyarakat sekitar. “Pengalaman mereka selama satu tahun di Indonesia diharapkan akan menjadi pengalaman terbaik yang perlu mereka informasikan secara luas di negara masing-masing.

Hadir dalam pertemuan tersebut duta besar atau yang mewakili dari negara-negara asal peserta Darmasiswa, perwakilan dari Kemenlu, Sekretariat Negara, Kementerian Hukum dan HAM, serta unsur Kepolisian RI yang menjadi mitra pelaksanaan program Darmasiswa. “Saya berharap program ini terus berlanjut dan berperan lebih besar dalam mendukung upaya Indonesia untuk meningkatkan pengembangan bahasa Indonesia dan diplomasi budaya Indonesia di luar negeri,” katanya.

Kepala Biro Program Kerjasama Luar Negeri (PKLN) Kemendikbud Suharti menambahkan, setelah program selesai, peserta yang ingin melanjutkan studi di Indonesia bisa mencari sponsor sendiri atau dibiayai negara masing-masing. Ia menegaskan, Darmasiswa bisa menjadi sarana bagi peserta untuk mengenalkan budayanya kepada warga sekitar.

Suharti mengatakan, para peserta akan mendapat pelatihan budaya sebelum terjun langsung ke masyarakat. “Mereka akan mengikuti program belajar bahasa Indonesia terlebih dahulu. Lalu mempelajari seni budaya Indonesia pada sejumlah perguruan tinggi dan lembaga pelatihan di Indonesia,” kata Suharti.***

Baca Juga

Tingkatkan Kompetensi Guru SMK, Pusat Keunggulan Dibangun di Cimahi

CIMAHI, (PR).- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan resmi meluncurkan pusat keunggulan (center of excellent) bidang listrik, otomasi dan energi terbarukan di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Mesi