Jusuf Kalla Sebut STM Dulu Lebih Baik dari SMK Sekarang

Wakil Presiden Jusuf Kalla/ANTARA

DEPOK, (PR).- Wakil Presiden RI Jusuf Kalla meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terus memperkuat dan memperbaiki sistem pendidikan pada sekolah menengah kejuruan (SMK). Pasalnya, lulusan SMK akan menjadi tulang punggung tenaga kerja masa depan bangsa. Keahlian khusus dari para lulusan SMK harus sesuai dengan kebutuhan model dunia usaha dan industri masa depan yang akan sangat dipengaruhi beragam inovasi teknologi.

JK menyatakan, di segala bidang, Indonesia masih kekurangan sumber daya manusia yang terampil. Menurut dia, kurikulum SMK harus lebih banyak diisi dengan praktik ketimbang belajar di dalam kelas. Ia menegaskan, revitalisasi pendidikan vokasi wajib berjalan dengan baik dan berkelanjutan. Dengan demikian, para lulusan SMK akan mengisi lapangan pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya masing-masing. Bukan kerja di sektor informal.

"Kadang-kadang kita ini agak bingung, saat ingin memperbanyak skill kita perbanyak SMK. Tapi kita tidak siap dengan guru, artinya saat ini SMK itu hanya seperti SMA plus. Lebih banyak pakai papan tulis. Padahal SMK itu harus lebih banyak pakai tangan. Sebanyak 3 dari 4 kedi di lapangan golf, 75 persennya itu lulusan SMK. Artinya apakah SMK nya tidak cukup, atau lapangan kerjanya yang tidak cukup. Mungkin keduanya.  Saya kira hasil dari pendidikan skill lewat vokasi harus dapat membuat orang bekerja dengan baik," ucap JK dalam Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan, di Pusdliklat Kemendikbud, Depok, Rabu 7 Februari 2018.

Ia menyatakan, kualitas SMK yang dulu ketika masih bernama sekolah teknik menengah masih lebih baik dari pada konsep SMK sekarang. Diferensiasi kompetensi antara lulusan SMK dan SMA sangat jelas. Ia mengakui, kemunduran tersebut merupakan akibat dari kesalahan pengelolaan sistem pendidikan dari pemerintah.

"Katakanlah dulu STM sangat dibanggakan. Sekarang SMK harusnya harus sama seperti STM zaman dulu, peralatannya dan sebagainya. Jangan hanya bicara di atas kertas bilang punya SMK sekian puluh ribu. Tapi tidak mengisinya dengan baik. Itu kesalahan pemerintah, kesalahan saya juga sebagai pemerintah," ujar Jusuf Kalla.

PPDB SMK

Guru produktif

Mendikbud Muhadjir Effendy menegaskan revitalisasi pendidikan vokasi masih menjadi program prioritas hingga 2019. Revitalisasi pendidikan vokasi sangat penting untuk menopang pembangunan ekonomi nasional. Langkah konkret dari program tersebur Kemendikbud terus melakukan percepatan penyediaan guru produktif.

Ia menjelaskan, sesuai dengan amanat Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2016, SMK dapat berperan sebagai rumah inovasi atau kewirausahaan pada 2025. Untuk mewujudkan hal tersebut, Kemendikbud telah merevitalisasi dan memfasilitasi sebanyak 219 SMK dapat bekerjasama dengan dunia usaha dan industri serta melakukan kerjasama dengan beberapa negara.

"Hingga 2017 kami telah menghasilkan 10.105 guru keahlian ganda, dan 10.304 guru telah memiliki sertifikat kompetensi keahlian. Setiap provinsi diharapkan dapat membuat peta jalan penataan dan pengembangan SMK agar selaras dengan kebutuhan dunia usaha dan industri dan pengembangan ekonomi di daerahnya," ucapnya.

Muhadjir menyatakan, daerah berperan dalam pengembangan SMK dengan menggali dan mengoptimalkan kerja sama dengan pihak swasta. "Serta pemetaan informasi lapangan kerja diperlukan untuk mengetahui setiap jenis industri yang mempunyai prospek masa depan menyangkut jumlah, kompetensi, lokasi, dan waktu," katanya.***

Baca Juga

Kuliah Daring Selesaikan Masalah Kekurangan Dosen

JAKARTA, (PR).- Ketidakseimbangan rasio jumlah dosen dan mahasiswa tidak akan menjadi masalah jika sistem perkuliahan diselenggarakan secara daring atau nontatap muka.

Sejuta Siswa Kesetaraan PKBM Terancam DO

JAKARTA, (PR).- Sebanyak 568.171 siswa ­kesetaraan terancam pu­tus ­sekolah (DO/ drop out) karena pemerintah menghentikan bantuan operasional pendidikan kepada sekolah tempat siswa tersebut belajar.