Meraba-raba Generasi Buku Elektronik

Perpustakaan daring/AMALIYA/PR

”Saya khawatir dalam 10 tahun ke depan kita akan punya generasi yang sebenarnya ’shallow’ (dangkal) dari sisi keilmuan tetapi tampak jago karena bantuan internet. Saat tidak ada sinyal wi-fi, baterai habis... (emot tutup muka).” Begitu kekhawatiran dosen Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung Pandji Prawisudha, atas pergeseran penggunaan buku teks cetak menjadi e-book dan sumber-sumber internet. Di kelas yang diampunya rata-rata 40-50 orang, mahasiswa yang masih memanfaatkan buku teks cetak hanya 2-3 orang. 

Pandji tidak memungkiri pada zaman sekarang ini dibutuhkan data yang siap saji seketika. Kebutuhan informasi dewasa ini ha­rus terpenuhi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Namun, melihat kenyataan mahasiswanya saat ini, agaknya wajar pernyataan Pandji tadi terlontar. Memanfaatkan buku elektronik dan sumber-sumber pengetahuan di internet artinya memudahkan urusan. Tinggal control+F, ketik apa yang sedang dicari, maka akan muncul otomatis. 

Namun, di situlah kekhawatiran muncul. Setelah mendapatkan yang mereka cari, hanya poin-poin itu saja yang akan dibaca. Itu pun kemudian mereka biasanya melupakannya. ”Ah, toh nanti mereka tinggal googling lagi,” kata Pandji akhir pekan lalu. 

Padahal, pemahaman butuh pengendapan dan waktu. Itulah alasan perkuliahan satu mata kuliah berlangsung sampai satu semester alias 6 bulan meskipun sebenarnya bisa dipadatkan hanya 2 minggu. 

”Pemahaman butuh keleluasaan. Kita tidak bisa disebut paham hanya dengan hafal definisi di Wikipedia. Harus baca buku secara keseluruhan. Bukan hanya buah, tetapi juga bunga, daun, batang, hingga akarnya,” tuturnya. 

Membaca bahan ajar tanpa pemahaman komprehensif pada ak­hirnya berujung kebingungan, terlebih saat ujian. Pandji meng­akui mahasiswa berbasis e-book biasanya bingung ketika dibe­ri­kan soal yang tidak sesuai dengan pola contoh soal. 

”Mereka biasanya bingung pakai rumus yang mana. Karena mereka menghafal rumus pakai buku elektronik tetapi alasan munculnya rumus, manfaat, dan penggunaan rumus tidak dipelajari,” ujarnya. Oleh karena itu, tak heran ketika seorang mahasiswa hanya mengejar target lulus, biasanya cukup membaca sekilas lalu banyak berlatih soal.

”Itu masalah kami di kalangan dosen. Bagaimana bikin soal yang bisa menguji kemampuan mahasiswa. Ada dosen yang krea­tif dengan memberikan soal beda dari buku, ada yang harus sesuai dengan materi yang telah diberikan,” katanya.

Relatif lebih kritis

Meskipun demikian, Pandji mengatakan, generasi e-book dan internet relatif lebih kritis dibandingkan dengan mahasiswa dulu. Mahasiswa terbagi menjadi golongan yang belajar banyak dan yang merasa tahu banyak. Mereka yang merasa tahu banyak dan berani tak takut mengkritisi penjelasan dosen.

”Dulu mana berani dengan dosen. Yang belajar banyak biasanya tidak banyak mendebat di kelas. Semakin banyak belajar akan semakin merasa tidak tahu, jadi semakin humble,” tuturnya.

Sementara itu, fakultas noneksakta juga menghadapi persoalan dengan buku elektronik. Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Padjadjaran Idil Akbar mengatakan, terkadang ada perbedaan cara pandang antara materi di internet dan dosen. 

”Jadi meskipun banyak bahan di internet tapi untuk hal-hal tertentu juga butuh interpretasi dan penjelasan dari dosen,” kata Idil. Materi di internet, menurut dia, cukup baik untuk dijadikan sebatas pengayaan atau tambahan pengetahuan.

Plagiarisme

Di sisi lain, copy paste dan plagiarisme juga menjadi persoalan yang muncul kemudian. Idil mengatakan, banyak mahasiswanya yang melakukan copy paste begitu saja tanpa menyebutkan sumber buku atau jurnal referensi. 

Hal itulah yang menurut Idil menjadi paradoks. Meskipun akses baca meningkat dengan banyaknya e-book dan sumber-sumber di internet, itu tak lantas meningkatkan minat baca. Mahasiswa hanya mencomot lalu selesai.

”Pengalaman saya menyuruh mahasiswa membaca itu cukup sulit. Faktanya, bahan bacaan yang banyak dibaca berupa posting-an di medsos,” ujarnya. Mahasiswa biasanya dia minta membaca apa pun buku yang sejalan dengan tema yang dia berikan.

Diharapkan ada diversitas bacaan dan ilmu pengetahuan. Sementara untuk versi digital, Idil mulai merujuk jurnal berbasis open journal system karena lebih update dan perkembangannya dinamis.

Dosen bahasa Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia Eng­kos Kosasih berpandangan berbeda. Keberadaan buku elektronik dan lite­ratur di internet tidak akan menggantikan buku-buku cetak. Se­jauh pengamatan dia, buku elektronik belum lengkap atau memuat semua poin-poin yang dicantumkan di silabus. 

Sejauh ini pun, mayoritas mahasiswa di kelasnya masih mempertahankan buku cetak. ”Yang pernah membaca e-book 15-20 persen,” katanya. Engkos mewanti-wanti bahan bacaan di internet apalagi jika bersumber dari blog. 

Kebanyakan, blog yang ditampilkan dengan beragam alamat akan menampilkan informasi yang relatif sama. ”Blog sering nyuri (informasi), apalagi jika ternyata itu pendapat anak SMA,” katanya.

Di sisi lain, dia menilai ke depan maraknya buku elektronik dan internet akan meningkatkan minat baca. Sekalipun yang mereka baca se­kadar informasi di media sosial, hal itu lebih baik daripada tidak melakukan aktivitas apa pun. Minimal membaca sekalipun dang­kal.

Yang menjadi masalah adalah penguasaan teoretis yang lemah. ”Di sinilah guru atau dosen seharusnya mengarahkan dan memfasilitasi. Saya biasanya ada lembar kerja, mereka akan bikin cerita gimana awal, isi, penutup, dan sumber buku yang mereka baca sehingga apa yang mereka baca itu fokus,” tuturnya.***

Baca Juga