Pers Mahasiswa pun Berpacu dengan Tren Media Online

Tangkapan layar laman suakaonline.com

DI dunia pers yang "sebenarnya", mahasiswa menjadi bagian dari pembaca yang saat ini banyak bergeser ke media massa dalam jaringan (media online). Kebiasaan mahasiswa memperoleh informasi melalui jalur daring pun, tak heran turut mendorong penyajian berita oleh pers mahasiswa melalui daring. 

"Isola Pos mulai online sekitar 2007. Waktu itu musim online," ujar Pemimpin Umum Isola Pos Universitas Pendidikan Indonesia, Nurul Yunita yang akrab disapa Caca. Isola Pos eksis di isolapos.com.

Caca yang bergabung dengan Isola Pos pada 2015, sudah mendapati kondisi bahwa media online menjadi satu-satunya media yang membuat nama Isola Pos bertahan. Sejak 2012 majalah Isola Pos vakum karena kurangnya personel pers mahasiswa.

Perubahan karakter membaca mahasiswa kekinian mempengaruhi kebijakan Isola Pos ke depan. Isola Pos memutuskan untuk tidak sering menyuguhkan media cetak kepada mahasiswa pembacanya.

"Sekarang orang sudah pegang HP. Orang juga lebih suka IG dan Line daripada website makanya kami link-kan website ke IG dan Line," katanya. Untuk itu, rencananya dalam kepemimpinannya, Caca hanya akan menghadirkan satu edisi majalah dengan 32 halaman.

Majalah butuh lebih banyak pemikiran karena diulas lebih dalam (in-depth) daripada berita daring. Kemampuan mengupas isu menjadi faktor penting selain kecukupan jumlah personel.

Dengan 12 personel, Caca menilai satu edisi cukup. "Yang penting terbit lagi. Ini juga menjawab pertanyaan teman-teman yang menanyakan kapan nih bikin majalah Isola?" tutur Caca.

Isu kampus kadang melempem

Caca mengapresiasi persma yang bisa mempertahankan kontinuitas penerbitan. Kontinuitas menjadi tantangan terbesar persma, apalagi jika dihadapkan kepada melempemnya isu di kampus.

"Sementara untuk online, kalau sedang libur panjang tetap jalan dengan isu-isu ringan. Misalnya fitur-fitur komunitas dan membahas Bandung Planning Galery," kata dia.

Saat ini, Caca dkk. sedang mengejar beberapa rubrik majalah untuk diselesaikan. Namun, lagi-lagi ada saja hambatannya. Pemimpin redaksi yang bertanggung jawab penuh atas pemberitaan harus magang karena duduk di semester akhir. "Jadi ya seperti itu salah satu hambatannya," tutur Caca.

Pengurangan produksi media cetak juga akan dilakukan Suara Kampus Universitas Islam Negeri Bandung. Majalah akan tetap terbit dua edisi setiap tahun. Namun, tabloid yang terbit setiap bulan, akan dikonversi dalam digital.

"Suaka bermain di online sejak 2014 dan diperbaiki pada 2016. Kami akan beralih ke online karena pembaca lebih digital. Tetapi kami upayakan mereka membaca berita online yang berkualitas," tutur PU Suaka, Isthi Qonita.

Portal daring Suaka bisa diakses melalui www.suakaonline.com. Dengan mengandalkan 34 personelnya, Suaka bertekad akan menggarap edisi cetak dan daring secara kontinu. "Kalau cetak itu gimana isu. Kalau isunya seksi pasti majalahnya habis," kata dia.

Sementara itu, Jurnalis Mahasiswa Universitas Pasundan (Jumpa), akan tetap mengelola informasi untuk diterbitkan dalam bentuk cetak dan daring tanpa perubahan berarti. Ketua Umum Jumpa, Durrotul Istiqomah Mardhiyyah, mengatakan bahwa mahasiswa memang cenderung mengakses informasi melalui media online.

"Tapi bukan berarti mereka meninggalkan media cetak. Ada, tapi beberapa," kata dia. Untuk itu, Jumpa akan menyapa pembacanya melalui tabloid Jumpa dua edisi dalam setahun dan www.jumpaonline.com setiap harinya.***

Baca Juga