Menristekdikti: Science and Technological Park Bukan Museum

Menristekdikti/DOK HUMAS KEMENRISTEK DIKTI

JAKARTA, (PR).- Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menegaskan fungsi Science and Technological Park (STP) jangan seperti museum. Pasalnya, STP dirancang untuk menghasilkan beragam inovasi teknologi yang dapat diproduksi massal sehingga berguna bagi masa depan masyarakat, sedangkan museum merupakan pusat penelitian masa lalu.

Ia mengatakan, perguruan tinggi yang selalu membanggakan raihan prestasi masa lalu tidak akan memberi pengaruh besar terhadap kelangsungan hidup masyarakat. Perguruan tinggi harus terus melakukan penelitian inovatif yang sesuai dengan tantangan masa depan bangsa. “Kalau perguruan tinggi bangga dengan capaian masa lalu, itu seperti museum,” kata Menristekdikti melalui siaran pers di Jakarta, Selasa, 2 Januari 2018.

Nasir menegaskan, sebanyak 22 Science and Technological Park yang dibangun pemerintah belum berkembang dengan baik. Sebagian besar hasil penelitian inovasi berakhir di rak perpustakaan dan terbit di jurnal ilmiah bereputasi dunia terindeks Scopus. Menurut dia, hasil inovasi teknologi seharusnya bisa berguna bagi dunia usaha dan industri. “Hasil riset harus bisa dihilirisasi,” kata Menristekdikti.

Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti Jumain Appe menambahkan, pemerintah berambisi untuk membangun 100 STP di seluruh Indonesia. Target tersebut tidak akan tercapai jika tak mendapat dukungan dari perguruan tinggi dan pihak industri. Menurut dia, membangun sebuah STP membutuhkan biaya yang sangat besar, lahan yang luas dan sumber daya manusia yang memiliki keahlian tertentu dengan jumlah tak sedikit.

Ia menyatakan, kebutuhan memiliki Science and Technological Park sangat penting agar Indonesia bisa bertahan dan bersaing dalam persaingan global. Pasalnya, negara yang memiliki STP akan bisa beradaptasi dengan kemajuan inovasi teknologi yang begitu cepat dan dinamis.

“Inovasi teknologi akan menjadi model bisnis masa depan. Contohnya, bisnis transportasi massal sekarang sudah memanfaatkan teknologi sederhana seperti ojek online. Bisnis yang mengandalkan inovasi teknologi akan terus berkembang di berbagai bidang,” ucap Jumain.

Model Science and Technological Park

Ia menjelaskan, ada tiga model Science and Technological Park yang sukses dikembangkan di berbagai negara maju. Pertama, STP yang sepenuhnya dikelola pemerintah, mulai dari pendanaan hingga penyediaan lahan. Kedua, STP yang diinisiasi pihak industri. Dalam STP jenis ini, pemerintah cukup mendukung dengan mempermudah regulasi, sedangkan para ilmuwan hanya melakukan penelitian yang dibutuhkan pihak industri dan hasil karyanya dipatenkan. Ketiga, STP yang dimotori perguruan tinggi.

“STP jenis ketiga ini, perguruan tinggi mengembangkan penelitian dan memiliki lahan, seperti di Swedia. Baru kemudian mengundang industri untuk menggunakan hasil inovasi teknologi dari para ilmuwannya. Pemerintah bisa membantu dengan memberikan insentif, misalnya bebas pajak. Model ketiga inilah yang paling mungkin dikembangkan di Indonesia,” katanya.

 Kendati demikian, ucap Jumain, untuk mengimplementasikan model tersebut juga cukup sulit. Pasalnya, suasana politik di dalam negeri kerap tak kondusif setelah Indonesia menerapkan sistem desentralisasi pemerintahan. “Makanya perlu ada kolaborasi yang tidak parsial. Sekarang kan tidak ada konsep yang jelas, industri, pemerintah dan perguruan tinggi jalan sendiri-sendiri,” ujarnya.

Pembangunan 100 Science and Technological Park merupakan program ambisius dari Presiden Joko Widodo yang meyakini STP akan menjadi salah satu solusi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di daerah. STP didesain untuk menjembatani antara kebutuhan industri dan hasil riset yang berdasarkan pada potensi sumber daya alam dan manusia di setiap daerah.***

Baca Juga

Kalla Tantang Ilmuwan Diaspora

JAKARTA, (PR).- Wakil Presiden Jusuf Kalla menantang 40 ilmuwan diaspora Indonesia yang kini berkarier di 32 kampus di 11 negara untuk membuat standar baru dalam dunia pendidikan tinggi nasional.

USBN SD Hanya untuk 3 Mata Pelajaran

JAKARTA, (PR).- Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) tiga mata pelajaran untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) dirancang untuk merangsang murid berpikir kritis dan meningkatkan kompetensi guru dalam membuat soal yang memenuhi standar pendid