SD Assalaam Bangkitkan Lagi Tradisi Cangkaruk Mulud

Siswa SD Assalaam/SARNAPI/PR
Para siswa SD Assalaam ikut membaca salawat nabi sebagai bagian dari pembacaan kitab Simtuddiraar, Rabu, 6 Desember 2017.*

BANDUNG,(PR).- Tradisi cangkaruk mulud saat peringatan kelahiran Nabi Muhammad yang sudah kurang dikenal di tengah masyarakat. Tradisi ini berusaha dibangkitkan lagi oleh ribuan siswa SD Assalaam, Rabu, 6 Desember 2017.

Tradisi cangkaruk berupa saling berbagi makanan di antara kaum Muslimin sebagai bentuk kepedulian sesama dan persaudaraan.

Menurut Kepala SD Assalaam, Imanudin, cangkaruk mulud baru tahun ini kembali diadakan karena sempat vakum puluhan tahun. "Apalagi setelah melihat kenyataan di masyarakat khususnya remaja dan anak-anak ternyata tak tahu sama sekali soal tradisi cangkaruk mulud. Akhirnya kami bangkitkan lagi," ucapnya.

Dalam tradisi ini, kata Imanudin, para guru dan siswa membawa makanan berat dari rumah masing-masing lalu saling bertukar makanan dengan guru atau siswa lainnya. "Namun ternyata masing-masing siswa membawa dua makanan. Satu makanan untuk berbagi dengan teman dan satu makanan lainnya untuk diri sendiri sehingga jumlah makanan berlimpah," ucapnya.

Dengan adanya tambahan makanan ini sehingga pihak sekolah bisa berbagi ke tukang becak atau pedagang kecil di sekitar sekolah. "Cangkaruk mulud sangat bagus untuk mendidik para siswa memiliki kepedulian sosial dengan saling berbagi," ujarnya.

Kitab Simtuddirar

Sebelum cangkaruk mulud, juga digelar pembacaan kitab Simtuddirar yang menceritakan kisah Nabi Muhammad. "Kitab ini karya  Al-Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, pendiri Masjid Riyadh di Kota Solo. Dia dikenal sebagai peribadi yang amat luhur budi pekertinya, lemah-lembut, sopan-santun, serta ramah-tamah terhadap siapa pun terutama kaum yang lemah, fakir miskin, yatim piatu dan sebagainya," kata Kabid Sosial dan Keagamaan Assalaam, Lukman Hakim.

Banyak sekali ucapan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi yang telah dicatat dan dibukukan, di samping tulisan-tulisannya yang berupa pesan-pesan atau pun surat-menyurat dengan para ulama di masa hidupnya, juga dengan keluarga dan sanak kerabat, kawan-kawan serta murid-muridnya. 
"Di antara karangan beliau yang sangat terkenal dan dibaca pada berbagai kesempatan di mana-mana, termasuk di kota-kota di Indonesia, ialah risalah kecil ini yang berisi kisah Maulid Nabi Muhammad yang dikenal sebagai Simtuddirar," ujarnya.***

Baca Juga

Ribuan Siswa Ini Ikuti Ujian Hafalan Juz Amma

BANDUNG, (PR).- Ribuan siswa SD Assalaam, Jalan Sasakgantung, Kota Bandung, mengikuti uji hafalan Alquran juz 30 (juz amma) sebagai syarat untuk mendapatkan nilai Pendidikan Agama Islam (PAI).

SMA, Usia Terbaik untuk Memberikan Gawai pada Anak

SOREANG,(PR).- Masyarakat khususnya orangtua sering salah kaprah dengan sudah memberikan gawai (gadget) sejak anak masih balita dengan alasan agar bermain dengan tenang dan tidak rewel.

Tumbuhkan Literasi di Sekolah

SOREANG,(PR).- SMA dan SMK di Kabupaten Bandung berupaya menumbuhkan semangat literasi dengan membudayakan membaca dan menulis.