Pertama Kali dalam 20 Tahun, Jumlah Publikasi Ilmiah Indonesia Lampaui Thailand

Menristekdikti/DOK HUMAS KEMENRISTEK DIKTI

JAKARTA, (PR).- Dalam kurun waktu selama dua bulan, jumlah publikasi ilmiah Indonesia pada jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus meningkat sekitar 2.000 jurnal. Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi mencatat, per 1 Desember 2017, publikasi ilmiah Indonesia mencapai 14.100 jurnal, sedangkan pada 1 Oktober 2017 sebanyak 12.098 jurnal.

Menristekdikti Mohamad Nasir menuturkan, jumlah tersebut hampir mendekati capaian publikasi dari Singapura dengan hampir 15.000 jurnal. Indonesia sudah jauh meninggalkan Thailand yang mengoleksi sekitat 12.000 jurnal publikasi internasipnal.

"Angka pastinya saya lupa, tapi kira-kira segitu. Publikasi Indonesia naik terus secara signifikan," ucap Nasir. Dia mengungkapkan itu setelah membuka acara assesment pegawai Kemenristekdikti, di Hotel Century, Jakarta, Rabu 6 Desember 2017.

Ia menuturkan, Kemenristekdikti menargetkan mampu memproduksi 16.000-17.000 jurnal pada akhir tahun ini. Kendati demikian, Nasir mengaku sudah cukup puas dengan capaian sekarang yang membawa Indonesia berada di peringkat ke-3 ranking publikasi ilmiah di antara sesama negara ASEAN.

Pada peringkat pertama diduduki Malaysia dengan 20.304 jurnal publikasi. "Bangga karena untuk pertama kalinya dalam 20 tahun, Indonesia bisa melewati capaian Thailand," ujarnya

Nasir menyatakan, sejak 2014 hingga 2017, kinerja dosen dan peneliti Indonesia mengalami kemajuan signifikan di bidang publikasi ilmiah. Menurut dia, peningkatan jumlah jurnal publikasi ilmiah internasional Indonesia lebih cepat dibandingkan dengan peningkatan jumlah lektor kepala dan profesor mau pun peningkatan anggaran penelitian.

“Semoga Indonesia bisa melewati Singapura pada akhir tahun ini. Pada akhir tahun 2016 lalu, Indonesia berada di peringkat ke-4 dengan jumlah publikasi sebanyak 11.865. Untuk itu, saya optimistis di akhir tahun 2017 publikasi Indonesia mampu mencapai angka 17.000 publikasi sehingga Indonesia bisa berada di peringkat ke-2 di ASEAN,” ujarnya.

Ia menuturkan, jurnal nasional yang terindeks pengindeks internasional bereputasi pada tahun ini juga mengalami naik signifikan. Angkanya meningkat dari 0 menjadi 33 jurnal. Sedangkan, jurnal nasional yang terindeks di Directory of Open Access Journal naik drastis dari 76 menjadi 931 jurnal. Jurnal Nasional Terakreditasi pun meningkat dari 75 menjadi 283 jurnal. “Momentum ini harus dijaga,” kata Nasir.

Tunjangan dongkrak jumlah publikasi ilmiah

Dalam upaya meningkatkan hasil riset dan publikasi, Menristekdikti pada awal tahun ini menerbitkan Permenristekdikti Nomor 20/2017 tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor. Regulasi itu mengamanatkan publikasi ilmiah sebagai salah satu indikator untuk melakukan evaluasi terhadap pemberian tunjangan profesi dosen dan kehormatan guru besar.

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Ali Ghufron Mukti menegaskan, regulasi tersebut memberi manfaat positif. Juga mampu mengatrol kinerja para lektor kepala dan dosen untuk produktif melakukan riset dan mempublikasikannya di jurnal internasional bereputasi. Khususnya di dunia penelitian perguruan tinggi dan lembaga penelitian.

Aturan tersebut untuk melengkapi Permenristekdikti Nomor 44/2015. Permen itu mendorong mahasiswa strata dua (S-2) dan S-3 mampu menghasilkan publikasi yang terindeks global. Kemenristekdikti juga membuat sistem aplikasi yang dinamakan Science and Technology Index (Sinta). Bisa diakses melalui Sinta.ristekdikti.go.id. Itu untuk mendata publikasi dan sitasi nasional serta internasional oleh dosen dan peneliti Indonesia.

“Jumlah publikasi yang tercapai sekarang sebetulnya sudah melebihi ekspektasi, dan saya bersyrukur. Tapi, kami menargetkan minimal mampu menembus 15.000 publikasi pada akhir tahun ini. Saya akan terus meminta lektor kepala, dosen dan peneliti untuk meningkatkan kinerja dan menyampaikan target yang ingin dicapai pemerintah,” kata Ghufron.***

Baca Juga