Merger PTS akan Dipermudah

Ilustrasi Wisuda/SARNAPI/PR

JAKARTA, (PR).- Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) akan membentuk panitia khusus untuk mengawal percepatan proses penggabungan (merger) beberapa perguruan tinggi swasta (PTS). Kemenristekdikti juga akan memberi insentif dan kemudahan prosedur bagi yayasan yang sepakat mengikuti penggabungan.

Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Patdono Suwignjo menuturkan, penggabungan PTS merupakan satu dari beberapa solusi yang ditawarkan pemerintah untuk meningatkan kualitas pendidikan tinggi nasional. Menurut dia, para pemilik yayasan tidak perlu khawatir pemerintah akan mempersulit proses penggabungan.

“Agar perguruan tinggi swasta dapat tetap beroperasi secara efisien, yayasan sebagai badan penyelenggara PTS kami dorong untuk menggabungkan atau menyatukan PTS mereka. Penggabungan dan penyatuan ini merupakan  suatu kesempatan supaya PTS  lebih sehat,” ucap Patdono di Kantor Kemenristekdikti Senayan, Jakarta, Jumat 10 November 2017.

Ia menjelaskan, dalam proses penggabungan,pansus akan berperan sebagai pihak yang menjembatani kepentingan pemerintah dan yayasan. Dengan demikian, beragam kekhawatiran dari pihak yayasan bisa dikomunikasikan dengan baik dan menghasilkan solusi. Pansus akan memproses usulan penyatuan dan penggabungan PTS.

“Supaya penanganannya lebih baik, dan PTS tidak kecewa, saya buatkan panitia khusus untuk penyatuan dan penggabungan tersebut. Jangan sampai PTS dipersulit, karena mereka sudah membantu program pemerintah,” ucap Patdono.

Kurang sehat

Ia mengatakan, saat ini ada sebanyak 3.128 PTS di seluruh Indonesia yang berada di bawah pembinaan Kemenristekdikti. Dari jumlah tersebut, sekitar 14 persen di antaranya dikategorikan kurang sehat atau kesulitan operasional. Pemerintah menargetkan sebanyak 1.000 PTS yang kurang sehat sudah dapat bergabung dengan PTS yang sehat pada 2019. “Sehingga mereka dapat tetap beroperasi secara efisien,” ujarnya.

Ia menuturkan, sebagian besar dari 14 persen PTS yang tidak sehat itu terjadi karena tidak bisa menjalankan operasional kampus, kekurangan dosen dan mahasiswa. Menurut dia, PTS yang bermasalah itu terpaksa terus beroperasi meskipun tidak sesuai standar pendidikan tinggi nasional. “Bahkan ada yang akhirnya sudah ditutup,” ujarnya.

Saat ini, Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) sedang memperjuangkan sebanyak 102 PTS yang berada dalam masalah agar tidak ditutup. Aptisi meminta waktu hingga akhir tahun kepada Kemenristekdikti untuk melakukan pembinaan dan pengawasan.

PTS kurang berkualitas

Ketua Aptisi Jabar Eddy Jusuf menuturkan, Aptisi telah beberapa kali beraduiensi dengan pemerintah terkait kondisi PTS yang dianggap kurang berkualitas. Menurut dia, dari 243 PTS yang dinonaktifkan pada 2014, setelah dilakukan pembinaan, hanya 129 yang dinyatakan masih tetap bermasalah. Dari 129 tersebut, Kemenristekdikti akhirnya resmi menutup 25 PT

“Jadi intinya, kalau dilakukan pembinaan terus menerus, PTS yang bermasalah ini bisa meningkatkan mutunya, memenuhi standar nasional. Tapi itu tergantung keinginan dari PTS nya juga. Kami sudah meminta agar yang 102 ini, jangan dulu ditutup, tapi lakukan pembinaan dan pengawasan lagi,” ujar Eddy.

Rektor Universitas Pasundan ini menjelaskan, permasalahan mutu PTS bisa didorong melalui pendampingan akreditasi. Kendati demikian, pemerintah dan pihak yayasan perlu bersinegis. “Maka muncul skema merger. Jadi nanti PTS-PTS yang susah bertahan bisa merger dengan PTS yang bagus. Keberadaan PTS ini masih penting bagi peningkatan kualitas pendidikan tinggi nasional. Jadi bukan PTS terlalu banyak atau tidak, kalau banyak tapi semua berkualitas, ya gak masalah,” ucapnya. (Dhita Seftiawan)***

Baca Juga

Efisiensi Anggaran, Fakultas Keilmuan Serumpun Akan Digabungkan

JAKARTA, (PR).- Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mewacanakan penggabungan fakultas yang dianggap memiliki latar keilmuan serumpun. Hal tersebut dilakukan untuk menghemat biaya operasional kampus.