750 Peneliti Yakin Kebudayaan Bisa Sejahterakan Masyarakat

Ilustrasi/ANTARA
Perajin menorehkan lilin dengan menggunakan canting saat membuat motif batik di desa Cikadu Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten, Minggu, 24 September 2017 lalu.*

DEPOK, (PR).- Sebanyak 750 peneliti dari berbagai negara di Asia Pasifik sepakat untuk mendorong pemerintah agar mau memanfaatkan lebih banyak hasil riset kebudayan dalam upaya mensejahterakan masyarakat. Para peneliti tersebut menilai, pendekatan budaya bisa menjadi solusi dalam menghadapi masalah ledakan populasi, kerusakan lingkungan, ketahanan pangan dan keamanan nasional.

Peneliti dari Universitas Indonesia Manneke Budiman mengatakan, unsur kebudayaan menjadi penting untuk menjaga keberlangsungan dan kesejahteraan suatu negara. Menurut dia, budaya akan memperkuat negara dari segi produktivitas.

Persoalan serius terkait populasi, lingkungan hidup, pangan dan keamanan akan mempengaruhi kelangsungan dan eksistensi manusia. 

‘’Karena itu, sangat penting untuk mendedikasikan semua upaya riset, ilmu pengetahuan, aktivitas sosial dan inisiatif kemasyarakatan untuk pembangunan berkelanjutan. Pertemuan ini diharapkan menjadi pembuka agar faktor budaya juga diperhatikan dalam membangun negara. Kami ingin mengubah paradigma sehingga ilmu sosial humaniora juga memiliki peranan dalam pembangunan berkelanjutan,” kata Manneka, dalam acara Asia-Pasific Research in Social Sciences and Humanities (APRISH), Depok, Kamis, 28 September 2017.

APRISH tahun ini mengambil tema ‘Culture and Society for Local and Global Sustainable Development’. Menurut Manneke, selama ini unsur kebudayaan kerap tidak diperhitungkan dalam pembangunan, karena yang dikejar hanyalah peningkatan secara angka saja.

Padahal jika unsur budaya dilibatkan, maka sumber daya alam yang ada bisa tetap terjaga. ‘’Soal bagaimana alam tidak rusak itu kan terkait dengan budaya, bagaimana orang berperilaku,’’ katanya.

Pembangunan berkelanjutan

Ia menambahkan,  dalam mencapai pembangunan berkelanjutan, ilmu sosial humaniora perlu mendapat tempat untuk bisa memberikan masukan. “Tujuannya adalah mempertahankan kekayaan yang ada dengan maksud menyelamatkan dan menyejahterakan negara. Jika budaya masuk untuk diperhitungkan maka pembangunan berkelanjutan bisa terwujud,” ucapnya.

Dalam acara tersebut, total ada 560 makalah yang dipresentasikan. Makalah terpilih akan dipublikasikan dalam prosiding yang terindeks Scopus/Thomson Reuter maupun jurnal-jurnal yang terindeks Scopus.

Konferensi juga menghadirkan pembicara utama yaitu Saturnino M. Boras, Jr. yang merupakan Profesor Studi Agraria dari Internasional Intitute of Social Sciences, Den Haag, Belanda. Pembicara utama lainnya adalah Mama Aleta Baun dari Timor Barat Indonesia, yang tak lain adalah penerima Golden Environmental Prize tahun 2013.***

Baca Juga