Menristekdikti: Riset Perguruan Tinggi Jangan Berhenti di Laboratorium

Menristekdikti Mohamad Nasir/DOK HUMAS KEMENRISTEKDIKTI

JAKARTA, (PR).- Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mendorong sebanyak mungkin perguruan tinggi untuk mengembangkan program teaching industry. Menristekdikti Mohamad Nasir mengatakan, teaching industry penting untuk mempercepat proses hilirisasi hasil riset akademik kepada kalangan dunia usaha. Teaching industry juga dapat meningkatkan jumlah publikasi ilmiah Indonesia pada jurnal bereputasi dunia.

Nasir menuturkan, teaching industry pada setiap kampus akan memiliki keunggulan masing-masing. Seperti Universitas Diponegoro yang menitikberatkan ada industri berbasis teknologi plasma untuk pangan. Menurut dia, kampus yang mengembangkan teaching industry akan  mampu melahirkan lulusan yang kompeten, terutama pada beberapa bidang yang menuntut keahlian lebih. 

“Teaching industry merupakan pola akademik yang kini sangat dibutuhkan oleh dunia industri. Jumlah publikasi Indonesia di bulan September tahun 2017 ini sudah pada angka sekitar 11.000 lebih. Bayangkan jika publikasi dan riset tersebut banyak tentang hasil riset yang dibutuhkan industri, maka hilirisasi produk akan berjalan dengan baik karena dibutuhkan industri. Tidak cukup riset berhenti di laboratorium, tapi harus dihilirisasi. Itu mengapa teaching industry penting dilakukan,” ujar Nasir di Jakarta, Minggu 24 September 2017.

Ia menjelaskan, teaching industry juga akan meningkatkan kerja sama triple helix, yakni antara akademisi, pemerintah, dan industri. Ia menekankan bahwa semua perguruan tinggi harus siap untuk mengubah pola perkuliahan di masa depan. Menurut dia, ke depan, perguruan tinggi juga harus siap dengan e-learning.

“Teknologi sudah maju, jangan tertinggal dengan negara lain. Kita harus selalu siap dengan perubahan zaman yang mau tak mau menggunakan teknologi informasi dan inovasi baru,” ucapnya.

Rektor Undip Yos Johan menyatakan, fungsi teaching industry di antaranya untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa. Menurut dia, teaching industry akan membiasakan mahasiswa untuk banyak belajar praktik di lapangan. “Sehingga mahasiswa terbiasa untuk bekerja atau belajar membentuk industri baru,” ujarnya.

Publikasi Ilmiah

Selain mengembangkan teaching industry, untuk mengejar target 15.000 publikai ilmiah pada tahun ini, Nasir juga menerbitkan Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor. Dengan terbitnya aturan tersebut, publikasi ilmiah Indonesia kini berada di peringkat ke-3 ASEAN atau naik satu peringkat dari tahun lalu.

Peringkat pertama masih diduduki Malaysia (15.985 publikasi) dan Singapura (10.977) di posisi ke-2. Nasir menyatakan, publikasi ilmiah merupakan salah satu indikator kemajuan suatu bangsa, selain jumlah kekayaan intelektual dan tingkat kesiapan penyerapan hasil teknologi. Menurut dia, meningkatnya publikasi ilmiah menandakan aktivitas penelitian sebagai motor bagi kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi dari sebuah negara berjalan dengan baik. 

“Publikasi ilmiah itu terindeks Scopus. Saya yakin, tak lama lagi publikasi ilmiah internasional Indonesia akan melampaui Singapura pada akhir tahun ini. Penelitian di perguruan tinggi dan lembaga penelitian harus terus produktif untuk mencapai target itu. Untuk mendongkrak semangat melakukan penelitian dan publikasi ilmiah, Permenristekdikti itu cukup membantu,” katanya.***

Baca Juga

Teknologi Telah Mengubah Sistem Perkuliahan

JAKARTA, (PR).- Tata kelola perguruan tinggi harus selaras dengan kemajuan teknologi. Hal ini agar dosen dan mahasiswa bisa beradaptasi dengan perubahan zaman.