Riset Inovasi Teknologi Harus Mudah Dipahami Masyarakat

Ilustrasi riset/ADNAN HARADE

MAKASSAR, (PR).- Dosen dan peneliti diharapkan mampu mengomunikasikan hasil riset inovasi teknologi dengan lebih baik. Pasalnya, hingga saat ini, manfaat kecanggihan teknologi tak selalu dianggap penting bagi masyarakat. Pengetahuan dan pemahaman masyarakat, termasuk kalangan industri yang terbatas membuat hasil riset akhirnya banyak menumpuk di perpustakaan. 

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Ali Ghufron Mukti mengatakan, nuklir menjadi salah satu contoh teknologi yang kerap mendapat penolakan dari masyarakat. Padahal, penggunaan nuklir nasional sudah dicanangkan sejak 1965.

"Tiga reaktor nuklir yang dimiliki pemerintah dan dikelola Batan (Badan Tenaga Nuklir Nasional) akhirnya belum termanfaatkan maksimal," ucap Ghufron dalam seminar Science Communication di Gedung Kopertis IX, Makassar, Jumat, 11 Agustus 2017.

Ia menuturkan, untuk memasyarakatkan manfaat teknologi, para peneliti harus bisa memaparkan hasil riset dengan penjelasan yang mudah dimengerti. Pemilihan diksi saat membuat tulisan atau bicara langsung di depan masyarakat harus lebih sederhana.

"Kurangi istilah-istilah yang terlalu sulit, akademis. Pilih kata-kata yang pas tetapi tak melenceng dari makna. Penyampaian seperti ini memang membutuhkan kemampuan khusus, makanya perlu belajar sains komunikasi," ucapnya.

Dengan pendekatan komunikasi yang sederhana tapi kontekstual, masyarakat akan bertindak lebih rasional ketimbang emosional dalam menyikapi kemajuan teknologi. Dengan demikian, program hilirisasi hasil riset dapat berjalan lebih lancar.

"Seperti tenaga nuklir, sampai saat ini masih dianggap menyeramkan. Masyarakat lebih banyak memandang dampak negatifnya ketimbang melihat sisi manfaatnya," katanya.

Ghufron mengatakan, pemerintah tak bisa berjalan sendiri dalam upaya menyosialisasikan hasil riset. Perlu mendapat dukungan dari akademisi, praktisi, media massa, dan bahkan politisi. Media massa menjadi alat komunikasi massa yang paling efektuf untuk mengubah pandangan masyarakat.

"Peran media sangat strategis. Perlu diperbanyak konten berita baik cetak mau pun televisi yang isinya soal kemajuan teknologi. Manfaatnya tersampaikan dengan baik kepada masyarakat. Tapi memang, peneliti juga harus mampu berkomunikasi lebih merakyat dalam menyampaikan gagasan," ujarnya.

Bahasa ringan

Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Yuliandre Darwis menuturkan, perlu usaha lebih besar untuk memasyarakatkan manfaat teknologi. Tak hanya isi tayangan, tujuan dari sebuah konten informasi pun harus memiliki target yang jelas.

"Fungsi media itu kan to inform (penyampai informasi, to educate (mendidik), to entertaint (menghibur) dan to influence (untuk menengaruhi). To educate nya masih kurang," ucapnya.

Ia menjelaskan, kemampuan komunikasi popular para peneliti sangat penting. "Pengemasan tulisan atau tayangan jangan terlalu berat, misalnya seperti program televisi) Si Bolang. Bahasanya yang ringan, jangan terlalu abstrak. Program talk show, lebih banyak libatkan pakar yang punya kemampuan komunikasi sederhana. Agar hal yang rumit bisa jadi lebih menghibur," ujarnya.***

Baca Juga

750 Peneliti Yakin Kebudayaan Bisa Sejahterakan Masyarakat

DEPOK, (PR).- Sebanyak 750 peneliti dari berbagai negara di Asia Pasifik sepakat untuk mendorong pemerintah agar mau memanfaatkan lebih banyak hasil riset kebudayan dalam upaya mensejahterakan masyarakat.