Soal Minat Baca, Indonesia Peringkat 60 dari 61 Negara

SEORANG petugas polisi membaca buku, di bursa buku bekas Jln. Cikapundung Barat, Kota Bandung, Jumat (1/11/2013). Minat baca di Indonesia kini masih rendah, karena belum menjadi budaya dan cenderung lebih senang menonton daripada membaca.*
Ilustrasi/DOK. PR

JAKARTA, (PR).- Buku adalah jendela dunia, dan kegiatan membaca buku merupakan suatu cara untuk membuka jendela tersebut agar dapat mengetahui lebih tentang dunia yang belum kita tahu sebelumnya. Oleh karena itu, kebiasaan membaca harus ditumbuhkan sejak usia dini.

Berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). 

Hal itu terungkap dalam forum Kafe PT Bank Central Asia Tbk (BCA) V yang mengupas "Bagaimana budaya membaca perlu ditumbuhkan sedini mungkin" dengan tema "Membaca dari generasi ke generasi", seperti disebutkan dalam siaran pers di Jakarta, Jumat 17 Maret 2017.

Hadir sebagai pembicara Kepala Perpustakaan Nasional RI Muh. Syarif Bando, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Tjut Rifameutia Umar Ali, dosen Sosiologi Universitas Indonesia Lucia Ratih Kusumadewi, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Dadang Sunendar, Duta Baca dan Presenter "Kick Andy" Metro TV Andy F. Noya, serta Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja.

Mengambil tema itu, dibahas peran sentral perpustakaan dengan koleksi buku yang senantiasa diperbaharui sebagai salah satu kunci menuju generasi muda Indonesia yang gemar membaca. 

Dari sisi psikologis, kebiasaan bedtime story oleh orangtua kepada anaknya, misalnya, juga bermanfaat mendorong rasa ingin tahu yang berdampak meningkatkan minat baca anak sejak usia dini. Sedangkan dari sisi sosiologis, untuk dapat meningkatkan kebiasaan membaca di Indonesia, perlu terlebih dahulu menanamkan persepsi, ketertarikan, dan kesadaran generasi muda akan manfaat membaca buku sebagai jendela dunia dan inspirasi kehidupan.

"Minat baca bangsa Indonesia yang rendah merupakan masalah serius yang harus segera kita tanggapi bersama karena berhubungan dengan masa depan generasi muda Indonesia kelak di tengah pesatnya informasi dan pengetahuan yang berkembang dewasa ini," kata Jahja. Dalam kesempatan itu juga, dia menegaskan, mereka berkomitmen untuk menumbuhkan kembali semangat membaca di berbagai pelosok Indonesia, memperkenalkan dan mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam gerakan berbagi "Buku untuk Indonesia".

Gerakan berbagi ini bertujuan untuk memberikan dan memperluas akses masyarakat terhadap buku. Melalui gerakan ini, ujar dia, BCA mengajak seluruh lapisan masyarakat Indonesia untuk ikut ambil bagian, sehingga anak-anak Indonesia mendapatkan akses buku sebagai sarana penunjang belajar. 

Masyarakat dapat memilih paket donasi yang tersedia dan nantinya, dana yang terkumpul melalui gerakan berbagi “Buku untuk Indonesia” akan dikonversi menjadi buku dan disalurkan ke beberapa daerah di Indonesia.

"Besar harapan kami, gerakan berbagi 'Buku untuk Indonesia' ini dapat menginspirasi masyarakat luas untuk berbagi dan peduli pada anak-anak di daerah yang masih terkendala akses ketersediaan buku yang memadai. Mari sebarkan buku ke penjuru negeri untuk masa depan Indonesia yang lebih baik," tutur Jahja.***

Baca Juga

ITB Segera Miliki Pusat Penelitian di Kawasan Vasanta Innopark 

BEKASI, (PR).- Institut Teknologi Bandung didirikan pada tahun 1920 ialah salah satu perguruan tinggi Teknik pertama di Indonesia yang termasuk dalam daftar 500 besar perguruan tinggi bergengsi di dunia, memiliki keunggulan fasilitas serta