Dosen Ditantang Menulis di Media Massa

Diskusi ASPIKOM/ADE MAMAD
Dosen tetap dari Universitas Langlang Buana Bandung Oki Baihaki (kanan) menjelaskan pemaparannya mengenai bagaimana menjadi seorang intelaktual publik pada acara diskusi "Menjadi Intelektual Publik : Meretas Jalan Menjadi Penulis di Media Massa" yang diadakan oleh Assosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) KorWil Jawa Barat di Aula Pikiran Rakyat jalan Asia Afrika kota Bandung. Rabu, 11 Januari 2017.*

BANDUNG,(PR).- Dosen perguruan tinggi dituntut untuk menulis di media massa, sehingga pemikirannya dapat bermanfaat untuk masyarakat. Dosen tidak sebatas asyik di dunia akademik dengan hanya mengajar atau sebatas menulis di jurnal ilmiah.

Hal itu terungkap dalam diskusi Asosiasi Perguruan Tinggi Ilmu Komunikasi (Aptikom) di aula "PR", Jln. Asia Afrika 77 Bandung, Rabu, 11 Januari 2017. Acara diisi pembicara dosen Universitas Langlangbuana Eki Baehaki dan Wakil Pemimpin Redaksi Pikiran Rakyat, Erwin Kustiman.

"Tingkat literasi di Indonesia masih lemah karena dari hasil penelitian ternyata dari 60 negara Indonesia menempati peringkat dua dari bawah," kata Eki. Apabila budaya baca Indonesia masih rendah, apalagi dengan budaya menulis yang tentu saja lebih rendah lagi.

"Alasan dosen tidak menulis di media massa disebabkan ada beberapa hal seperti sulit menuangkan ide, honorarium tulisan yang kecil, maupun tulisan tidak signifikan untuk angka kredit di kampus," ujarnya.

Selain itu, alasan lainnya karena tidak memiliki waktu, tidak percaya diri, maupun malas sebab tulisannya sering ditolak. "Faktor lainnya pihalk kampus tak mendukung dengan tidak memberikan penghargaan yang baik," ucapnya.

Sedangkan Erwin Kustiman mengatakan dengan menulis di media massa, keilmuan seseorang akan lebih bermanfaat bagi masyarakat luas. "Ruang opini di PR terbuka bagi siapa pun asal dikaitkan dengan topik yang aktual dan ditulis ilmiah populer," katanya.

Opini di media massa juga bisa menjadi alternatif solusi dan memberi makna pada peristiwa. "Opini juga sarana aktualisasi diri dan menjadi penerjemahan sebuah berita," ucapnya.***

Baca Juga

Murid TK Belajar Jadi Pemadam Kebakaran

SOREANG, (PR).- Sejumlah murid TK Islam Al Halim Perum Gading Tutuka 2 Desa Ciluncat, Kecamatan Cangkuang, mengunjungi Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bandung, untuk belajar menangani api, Selasa 7 Maret 2017.

SEORANG petugas polisi membaca buku, di bursa buku bekas Jln. Cikapundung Barat, Kota Bandung, Jumat (1/11/2013). Minat baca di Indonesia kini masih rendah, karena belum menjadi budaya dan cenderung lebih senang menonton daripada membaca.*

Tiga Daerah di Jabar Raih Anugerah Literasi

JAKARTA, (PR).- Sebanyak tiga daerah di Jawa Barat, yakni Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Tasikmalaya mendapat penilaian sangat baik dari Badan Pembangunan Internasional Amerika (USAID) dalam membangun semangat budaya m

KaMaGaCa, Tingkatkan Minat Baca Anak

BANDUNG, (PR).- Teknologi internet berpengaruh besar pada penurunan minat baca pada anak. Fokus anak yang terlalu banyak memainkan gadget membuat mereka perlahan melupakan budaya membaca buku.