Endang, Mahasiswi Berprestasi Penemu "Sereal Daun Kelor"

SOLO, (PRLM).- Masyarakat Jawa tradisional, mengenal daun kelor dengan nama latin moringa oleifera, identik dengan jenazah dan kepercayaan mistik berupa ajian, seperti "susuk", "kesaktian" dan lain-lain.

Namun di era modern ini, para ahli mendapati di dalam daun kelor terkandung unsur-unsur kimiawi yang berguna bagi kehidupan manusia.

Barangkali, akibat paham mistik tersebut selama ini daun kelor belum banyak dikembangkan menjadi produk makanan atau keperluan lain yang dapat dikonsumsi manusia.

Padahal, daun bewarna hijau berbentuk kecil tersebut mengandung banyak vitamin dan nutrisi tinggi yang dibutuhkan tubuh. Itu sebabnya, di kalangan para pakar gizi daun kelor disebut miracle of tree atau pohon keajaiban.

Sebutan itu akhir-akhir ini memotivasi seorang mahasiswi program studi (prodi) Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Endang Rahmawati (20), melakukan berbagai percobaan dengan bahan baku daun kelon untuk membuat makanan olahan.

Gadis berparas manis kelahiran 8 Maret 1994 itu mendapati, dalam literatur disebutkan daun kelor mengandung zat besi lebih banyak 25 kali dibanding bayam, vitamin A 10 kali lebih banyak dari wortel, kalsium 17 kali lebih banyak dari susu, potasium 15 kali lebih banyak dari pisang, vitamin C 10 kali lebih banyak dari anggur merah, dan unsur-unsur lain, seperti kandungan asam amino sebagai penyusun protein.

“Selama ini, penelitian daun kelor pada umumnya di bidang kesehatan dan kecantikan. Penggunakan daun kelor untuk bahan pangan masih jarang. Karena itu saya mencoba membuat diversifikasi pangan dari daun kelor untuk membuat sereal sebagai solusi malnutrisi pada balita,” ujar Endang Rahmawati kepada wartawan, Rabu (2/7/14).

Berdasarkan mini riset yang dia lakukan, daun kelor terbukti sangat bagus untuk meningkatkan nutrisi pada bayi dan anak-anak. Masalahnya, dedaunan kelor tidak dapat langsung dikonsumsi anak-anak, karena citarasanya kurang enak.

Dia mencoba mengatasi masalah itu dengan membuat produk makanan yang rasanya enak dan disuka anak-anak, dengan menambahkan ekstrak pisang atau tepung jagung manis, agar rasa getir dan bau kurang enak pada daun kelor hilang.

"Untuk membuat sereal daun kelor Tidak perlu ditambah susu, karena kandungan kalsiumnya sudah cukup tinggi,” kata mahasiswa penerima Beasiswa Unggulan S-1 Double Degree Kemendikbud itu.

Latar belakang mahasiswa asal Wonogiri yang akrab dengan tumbuhan kelor, mampu menjelaskan dengan fasih proses pembuatan sereal daun kelor atay "Selor".

Menurut dia, prosesnya cukup mudah, yakni dengan merajang daun kelor dan mengeringkannya. Rajangan daun kelor kering, kemudian ditumbuk menjadi tepung dan memasak tepung daun kelor dengan menambah bahan lain, misalnya tepung jagung, perasa, atau unsur tambahan lain.

Bahan tambahan itu agar "Selor" bercitarasa lebih enak dan mencukupi kebutuhan karbohidrat. Tahap terakhir dari proses pembuatan sereal, adalah memanaskan campuran tepung dengan bahan lain, menggunakan suhu tinggi sampai kering dan menjadi sereal.

Cara mengonsumsi sereal daun kelor tinggal menyedu dengan air panas seperti makanan bayi lainnya. Endang meyakinan, meski daun kelor dikeringkan kandungan gizinya tidak berkurang.

"Proses pembuatannya sangat sederhana dan tidak neko-neko, sehingga mudah dilakukan para ibu rumah tangga,” katanya lagi.

Peneliti muda berprestasi itu menyatakan tidak berhenti melakukan percobaan daun kelor untuk makanan. Bersama teman-temannya sesama mahasiswa FKIP-UMS, Endang ingin membuat produk lain dengan bahan baku daun kelor, seperti teh, minyak rambut dan emulsion untuk bayi. Hal itu karena daun kelor memiliki kandungan anti-kanker, anti-diabet, dan anti-inflamasi.

Hasil percobaan Endang berupa sereal daun kelor itu akan dipresentasikan pada final pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Tingkat Nasional Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Jakarta, 10 Juli 2014. Ia terpilih di antara "15 besar" finalis Mawapres nasional dan merupakan satu-satunya wakil PTS jenjang S-1 di ajang bergengsi tersebut.

Prestasi Endang dalam penelitian, katanya bukan hanya dalam membuat "Selor". Dia pada Mei 2014 lalu diundang sebagai pembicara dalam seminar sains di empat perguruan tinggi (PT) Malaysia, yakni, Universiti Sains Islam Malaysia, Universitas Kebangsaan Malaysia, Universitas Teknologi Malaysia dan International Islamic University Malaysia.

“Di Malaysia saya mempresentasikan eceng gondok sebagai bahan alternatif pembuatan kertas. Pertimbangannya, karena konsumsi kertas sangat tinggi, sedangkan bahan baku utama berupa kayu makin sulit diperoleh,” jelasnya (Tok Suwarto/A-89)***

Baca Juga

Praktisi Industri Diajak Jadi Dosen Politeknik

JAKARTA, (PR).- Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) mengajak para praktisi industri untuk menjadi dosen di politeknik. Hal tersebut dilakukan untuk mempercepat proses revitalisasi pada pendidikan vokasi.