Sedulur Hijetter’s Cirebon Jadikan Bandung Lautan Daihatsu 2018 Ajang Berkenalan

Sedulur Hijetter’s Cirebon/DOK. PR
ANGGOTA komunitas Sedulur Hijetter’s Cirebon saat menggelar kopi darat pertama di depan Balai Kota Cirebon, belum lama ini. Nama sedulur sengaja dipilih sebagai pe­nguat fondasi komunitas yang tidak hanya sekadar teman, tetapi sedulur atau saudara.*

BAGI komunitas Sedulur Hijetter’s Cirebon (SHC), Bandung Lautan Daihatsu (Balad) di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabu­paten Bandung, Sabtu 10 November 2018 mendatang menjadi momen yang sangat ditunggu-tunggu, lebih dari ­komunitas yang lain.

Ibarat suatu negara, meskipun sudah memiliki nama berdasarkan kesepakatan bersama, tetapi belum diumum­kan atau diproklamasikan di komunitas negara-negara lain di sekitarnya.

Komunitas beranggotakan 15 orang ini baru disepakati dibentuk beberapa hari sebelum mengikuti Jambore Nasional 6th of Hijet Owner Indonesia di Bumi Perkemahan Kiarapayung, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, 8-9 September lalu.

”Makanya kami sepakat untuk menjadikan event Balad yang bersamaan dengan Hari Pahlawan, pada 10 November 2018 mendatang, menjadi hari lahir komunitas SHC,” ucap Imam Marzuki yang didaulat menjadi ketua didampingi Sekretaris SHC Aris Supriyatno.

Bermula dari tiga sahabat, yakni Imam dan Aris ditambah Fery yang didaulat ­sebagai bendahara yang semangat mengikuti Jamnas, akhirnya saat ini anggota SHC sudah mencapai 15 orang.

Bukan sekadar teman

Kata sedulur, menurut Imam, se­ngaja dipilih sebagai penguat fondasi ­komunitas yang tidak hanya sekadar teman, tetapi sedulur atau saudara.

”Kami ingin di komunitas SHC ini ikatan yang terbangun adalah pasedulur­an atau persaudaraan yang lebih kuat maknanya ketimbang pertemanan. Harus saling bantu, saling support, dan saling mengingatkan,” katanya.

Diakui Imam, selama dua bulan terbentuk memang belum banyak kegiatan yang dilakukan. ”Baru dua kali kegiatan silaturahmi kopi darat sambil mema­tang­kan rencana kegiatan di Balad nanti,” katanya.

Selain kopi darat, mobil anggota yang rusak juga dimanfaatkan untuk semakin merekatkan tali persaudaraan dengan ramai-ramai memperbaikinya.

”Momen memperbaiki mobil rame-rame, sekaligus dimanfaatkan anggota lainnya untuk belajar memperbaiki ­mobil. Hitung-hitung kursus otomotif gratis,” kata Imam sembari terkekeh.

Touring menjadi salah satu rencana kegiatan yang ditunggu-tunggu setelah Balad. Meskipun Hijet yang dimiliki anggota SHC sudah tua, mereka yakin masih sanggup untuk dibawa jalan jauh.

Menurut Imam, meskipun tua, mobil Hijet tergolong bandel sehingga masih sanggup diajak menjajal rute jarak jauh.

Bahkan Hijet Bagong keluaran 1952 dengan mesin 550 CC milik salah satu anggota komunitas SHC juga masih ­lin­cah wara-wiri di jalanan Cirebon dan ­sekitarnya.

Menurut Imam, hampir semua anggota komunitas SHC memanfaatkan Hijet tidak hanya sebagai mobil untuk keperluan transportasi ke­luarga, tetapi juga untuk urusan niaga.***

Baca Juga