Risalah Panjang Legenda Jalanan

Pikiran Rakyat edisi 31 Oktober 1980

“MOBIL ini sudah menemani saya sejak TK, saya diantar ke sekolah pakai mobil ini,” kata Nudiya Ghulam (21), mahasiswa Arsitektur Institut Teknologi Nasional, mengawali perbincangan.

Ghulam bahkan baru kelar mencuci Kijang lansiran 1991 miliknya saat berbicang dengan Pikiran Rakyat, Sabtu 29 Desember 2017. Kendaraan yang kini dibuat ceper itu lantas diparkirkan tepat di muka Pet Park, Jalan Ciliwung, Kota Bandung. Cat abu-abu yang membalut mobil, terlihat bersih dan mulus. Si Mobil Tua, seolah tengah bergaya di antara kendaraan-kendaraan muda yang ramai menyapa.

Membicarakan roda empat kesayangannya, sama saja dengan mengobrolkan silsilah keluarga. Ghulam bertutur, mobil ini dibeli kisaran tahun 1999 oleh sang eyang. Lalu diwariskan pada ayah, lalu padanya.

Menjadi moda transportasi keluarga sejak dia kecil, Ghulam pun masih mengingat berbagai pengalaman dengan Kijang ini; diantar-jemput ke sekolah sejak TK, mulai belajar mengendarai Kijang itu saat SMA, sampai menjadi kendaraan pribadinya setelah berstatus mahasiswa.

“Sejak kecil saya sudah suka mobil. Saya selalu duduk di kursi depan itu kalau diantar ke sekolah. Enggak mau di belakang, biar bisa lihat jalanan,” tutur Ghulam mengenang masa TK.

Sudah berusia 26 tahun, kini Kijang seri Super miliknya sudah mendapatkan beberapa perubahan. Dua kali renovasi telah dilakukan. Atap dan lantai, baru rampung diganti baru. Interior juga diremajakan. Bahkan sejak resmi diwariskan ke tangan Ghulam, mobil ini banyak dieksplorasi dengan berbagai macam bentuk dan aksesori.

“Pernah pakai knalpot yang panjang sampai ke atap mobil, sampai ada pengendara motor yang penasaran terus dipegang, ya panas,” ujar Ghulam.

Kijang Super miliknya, merupakan produk karoseri Montana, yang konon sudah langka. Karena itu pula, sudah sulit untuk mengetahui patokan harga. Banderol ditentukan dari kondisi dan originalitas unitnya. Berkaca dari transaksi yang pernah terjadi, dalam kondisi mulus hampir sempurna, uang kisaran Rp 60 juta menjadi mahar untuk mendapatkan kendaraan sejenis ini. Tapi terlepas dari harga, Ghulam menyebut belum ada rencana menjual roda empatnya.

“Karena sudah turun-temurun, sudah tiga generasi. Lama-kelamaan ya sudah nyaah (sayang),” tutur dia.

Bagi Ghulam, Kijang Super miliknya sudah jadi saksi perjalanan hidup keluarga. Menemani beragam aktivitas, dari generasi ke generasi. Namun Ghulam hanya contoh kecil. Lebih dari itu, Kijang juga telah menjadi simbol perkembangan industri otomotif Indonesia. Seruas jalan panjang, dari masa ke masa.

Tonggak awal industri lokal

Perjalanan panjang itu dimulai pada 1957, tepat 60 tahun lalu. Sebuah perusahaan dagang didirikan di Jakarta dengan nama Astra International. Perusahaan dagang biasa mulanya. Kalaupun sudah menyentuh bisnis otomotif, Astra hanya berperan sebagai importir.

Butuh 12 tahun bagi perusahaan dalam negeri tersebut sampai menggaet produsen otomotif kenamaan di kancah internasional. Toyota, perusahaan masyhur asal Jepang, akhirnya berhasil diajak bekerja sama. Tahun 1969 itu menjadi awal mula Astra berperan sebagai distributor resmi Toyota. Mereka mendistribusikan kendaraan-kendaraan kenamaan dari Jepang, untuk wilayah Indonesia.

Pikiran Rakyat edisi 13 September 1974

Kerja sama distribusi dengan Toyota seakan menjadi portofolio andalan bagi perusahaan dalam negeri. Hanya berselang satu tahun kemudian, yakni 1970, Honda turut menjalin perjanjian distribusi sepeda motornya dengan Astra. Langkah Honda diikuti perusahaan ternama di bidang mesin perkantoran, Xerox pada tahun yang sama. Setelah itu, giliran Daihatsu yang mempercayakan distribusi produknya di Indonesia pada perusahaan ini, terhitung sejak 1973.

Lahirnya legenda

Tahun 1977 bak tonggak utama yang perdana. Industri otomotif dalam negeri merintis kemandirian. Astra International dan Toyota resmi memasarkan Kijang untuk pertama kalinya. Kala itu, kendaraan ini membidik kalangan usaha sebagai pasar. Generasi pertama memang berbentuk kendaraan angkut barang dengan bak terbuka di bagian belakang.

Generasi pertama karib disebut Kijang Buaya. Kap mesin yang sangat tebal, memang membuatnya mirip buaya menganga jika kap dibuka.

Sejak saat itu, Kijang kerap diidentifikasikan sebagai kependekan dari “Kerja Sama Indonesia Jepang”. Indonesia diwakili oleh Astra International, Jepang diwakili Toyota. Selain hubungan industri antara kedua perusahaan, memang ada peran pemerintah Indonesia dalam beberapa proses lahirnya Kijang. Saat itu, pemerintah ingin agar Indonesia memiliki mobil yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal, sekaligus merintis industri otomotif sendiri.

Kemandirian industri otomotif dalam negeri pun dimulai dengan 19% komponen lokal pada Kijang edisi pertama. Kijang Buaya sang pionir, resmi diproduksi selama tiga tahun, sampai 1980.  

Pikiran Rakyat edisi 21 Juni 1979

 

Pikiran Rakyat edisi 19 Juni 1979

 

Menginjak 1981, pembaruan dilakukan dengan lahirnya generasi lanjutan. Kijang Doyok, demikian sebutan masyarakat untuk generasi ini. Kijang Doyok semakin terasa Indonesia-nya. Itu karena komponen lokal yang digunakan sudah bertambah banyak, mencapai 30%.

Lewat generasi ini pula, Kijang tak lagi memposisikan diri sebagai kendaraan niaga yang cuma membidik kalangan usaha. Lebih dari itu, juga menjadi kendaraan penumpang yang bisa membawa satu keluarga. Dengan demikian, pilihan tipe diperbanyak. Kijang Doyok ini berusia satu tahun lebih lama, diproduksi sampai 1985.

Pikiran Rakyat edisi 16 November 1981

Kijang terus menikmati perjalanannya. Jauh, dan semakin jauh. Sampai tahun 1986, pembaruan kembali dilakukan. Azam pemerintah Indonesia yang menginginkan majunya industri otomotif dalam negeri, kian terwujud di edisi yang bernama Kijang Super ini. Pasalnya, generasi kali ini menjadi kendaraan buatan dalam negeri pertama yang diekspor. Total ada tiga negara yang menerimanya. Pengiriman pertama kali dilakukan pada 1987. Generasi Super yang merupakan edisi ketiga Kijang, juga sudah mengandung 44% komponen lokal. Dia diproduksi sampai tahun 1996.

Pikiran Rakyat edisi 6 Desember 1996

Tahun 1997, Astra kembali melakukan penyegaran pada Kijang. Generasi yang akrab disebut Kijang Kapsul lahir di warsa ini. Ketenaran edisi-edisi sebelumnya, membuat nama Kijang semakin mengakar di benak masyarakat dalam negeri. Apalagi, komponen lokal yang terkandung di tiap unit edisi ini, sudah lebih dari setengahnya, yakni 53%.

Edisi ini juga diekspor ke enam negara. Kijang Kapsul bahkan menjadi generasi pertama yang produksi unitnya mencapai 1 juta. Edisi ini bertahan sampai 2003 karena keberadaannya digantikan generasi Kijang Innova.

Tangkapan layar video Youtube Toyota Motor Manufacturing Indonesia

Generasi Innova diproduksi dalam kurun waktu 2004 sampai 2015. Kelokalan kian menguasai tiap unit kendaraan ini. Komponen hasil karya dalam negeri, sudah mencapai 80%. Kian banyak pula belahan dunia yang menjadi tujuan ekspor, mencapai 29 negara.

Tangkapan layar video Youtube Toyota Motor Manufacturing Indonesia

Menginjak 2016, Kijang kembali meremajakan diri. Kali ini diberi nama All New Innova. Sebanyak 85% komponen lokal terkandung di dalamnya. Sebanyak 29 negara juga mempertahankan pembeliannya. Generasi inilah yang banyak beredar di jalanan masa kini.

Legenda lainnya

Selain Kijang yang sudah diterima masyarakat Indonesia sebagai andalan berkendara, sejumlah kendaraan lain lansiran Astra turut menjadi legenda di masanya. Sebut saja Daihatsu Delta, Daihatsu Hi-Jet, Toyota Dyna, Toyota Hi-Ace, juga beberapa sepeda motor Honda.

Pikiran Rakyat edisi 23 Desember 1974

 

Pikiran Rakyat edisi 12 Agustus 1978

 

Pikiran Rakyat edisi 18 Juni 1975

 

Pikiran Rakyat edisi 19 Desember 1979


Pikiran Rakyat edisi 28 September 1981

Layaknya Kijang, beberapa dari deretan kendaraan itu bahkan masih eksis setakat kini. Menjadi saksi perjalanan dan aktivitas masyarakat Indonesia hari demi hari.

Menerawang masa depan

Kisah panjang industri otomotif nasional sudah terpatri. Sejumlah kendaraan, baik Kijang maupun yang lain, juga sudah menjelma jadi legenda. Lantas, bagaimana kelanjutannya? Apa yang harus dilakukan sekarang, untuk dunia transportasi dan industri otomotif Indonesia di masa mendatang?

Lianda Lubis, pengamat transportasi menyebut, semua pemangku kepentingan di dunia transportasi dan industri otomotif nasional harus berpikir jauh ke depan. Baik itu pemerintah, maupun kalangan produsen kendaraan. Bagaimana pun, dunia transportasi Indonesia harus kian maju, dan produk otomotifnya mesti sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Salah satu hal penting yang mesti dipikirkan kini, adalah menghilangkan ketergantungan dunia otomotif nasional terhadap bahan bakar minyak.

"Ke depan, yang harus dipikirkan oleh pemerintah, menurut saya, adalah mendorong industri-industri mobil di Indonesia atau importir, menyediakan mobil yang hemat BBM, bahkan yang tidak pakai BBM. Harus sudah berpikir ke sana, dan harus ada kebijakan yang jelas ke arah itu," ucap Lianda.

Pria yang juga pernah berkecimpung di pemerintahan dalam bidang perhubungan ini mengatakan, industri otomotif nasional juga bisa mulai melebarkan fokus. Tidak hanya berlomba memperkenalkan mobil pribadi atau keluarga. Lebih dari itu, juga mulai menaruh perhatian pada kendaraan pengangkut untuk transportasi massa. Baik kendaraan jenis bus, maupun sarana transportasi jenis lainnya.

Menurut Lianda, pembuatan kendaraan pengangkut massal itu sudah mungkin dilakukan secara mandiri. Pasalnya, perjalanan panjang industri otomotif dalam negeri, membuat teknologi dan sumber daya manusia Indonesia sudah teruji. “Harus, teknologi dan SDM kita sudah mumpuni untuk itu,” kata Lianda, tegas.***

Baca Juga

Avanza Jadi yang Terlaris Sepanjang 2017

SECARA umum, penjualan mobil di Indonesia masih didominasi merek-merek eks Jepang. Merek-merek sekelas, Toyota, Honda, Daihatsu, Suzuki, dan Mitsubishi menjadi merek mobil yang tetap banyak diminati.