Datsun Risers Expedition 2 Ungkap Kisah Benteng Fort Rotterdam

Datsun Risers Expedition 2/DENI YUDIAWAN/PR
SEJUMLAH mobil Datsun Go yang ikut serta dalam program Datsun Risers Expedition 2 saat berada di Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin 20 Maret 2017.*

MAKASSAR, (PR).- Menjelajah lebih dalam budaya lokal Sulawesi Selatan adalah tujuan utama gelaran Datsun Risers Expedition 2 kali ini. Pada hari pertama dari tiga hari ekspedisi menjelajah Makassar itu, para risers dan media diajak untuk lebih mengenali sejarah di sekitar Kota Makassar. Benteng sarat sejarah, Fort Rotterdam, adalah pilihannya.

Senin 20 Maret 2017, para penjelajah bermobil Datsun Go ini memasuki area Fort Rotterdam yang juga dikenal dengan nama Benteng Ujungpandang. Benteng berbentuk penyu dengan 15 bangunan di dalamnya ini merupakan sebuah kompleks pertahanan yang luar biasa kuat. Dindingnya tebal. Segala sarana dan prasarana di dalam kompleks benteng itu juga lengkap untuk memenuhi kebutuhan para penghuni di dalam benteng.

Benteng ini semula dinamakan Benteng Ujungpandang dan dibangun oleh Raja Gowa ke-9, Daeng Matanre Karaeng Mangutungi, pada tahun 1545. Tujuan pembangunannya adalah untuk memperkuat basis pertahanan Kerajaan Gowa di sepanjang pantai Makassar dalam rangka menghadapi ekspansi kekuasaan VOC. Saat itu, VOC terus berupaya meluaskan pengaruhnya dalam bidang politik dan ekonomi di kawasan timur Indonesia.

Pembangunan benteng itu kemudian dilanjutkan oleh Raja Gowa ke-10 yang bernama lengkap I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Kaliung Tunipallangga Ulaweng. Raja ini menambahkan batu karang dan tanah liat pada dinding untuk menambah kekuatannya.

Pada masa Raja Gowa ke-14, I Mangarangi Daeng Manrabia Sultan Alauddin Tumenanggari Guakanna memperkuat struktur dinding dengan susunan bata dan batu yang dibentuk persegi empat. Bangunan dalam benteng pada awalnya terdiri dari rumah-rumah panggung bertiang kayu, berdinding bambu dengan atap daun nipah yang ditempati prajurit dan bangsawan Kerajaan Gowa. Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, benteng itu dijadikan pusat persiapan perang menghadapi tentara Belanda.

Sayangnya, Belanda dapat menaklukkan Kerajaan Gowa melalui perang Makassar pada tahun 1667. Penaklukan itu kemudian dikukuhkan dengan Perjanjian Bungayya (Bongaish Verdag) dan sebagian benteng-benteng yang dimiliki Kerajaan Gowa dihancurkan kecuali untuk Benteng Somba Opu dan Benteng Ujungpandang. Benteng Ujungpandang itu kemudian dijuluki Fort Rotterdam. Rotterdam merupakan sebuah kota di Belanda yang menjadi tempat kelahiran Cornelis Speelman, panglima perang Belanda penakluk Kerajaan Gowa.

Setelah benteng diduduki Belanda, struktur dan desainnya mulai dirombak. Ditambahkan lima bastion di sisi timur dan sisi barat. Karena bentuknya seperti kura-kura maka warga lokal menyebutnya sebagai Benteng Panyyua.

Pada masa pemerintahan kolonial Belanda Beteng Ujungpandang berfungsi sebagai markas komando pertahanan, pusat perdagangan, pusat pemerintahan, dan permukiman pejabat-pejabat Belanda temasuk tahanan bagi para penentang Belanda. Pangeran Diponegoro adalah salah satu pahlawan Indonesia yang diasingkan di dalam Benteng Ujungpandang pada tahun 1834-1855.

Di salah satu bangunan dalam kompleks Benteng Fort Rotterdam itu kini djadikan Museum La Galigo yang dikelola Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sejak 1970. Museum itu sekarang memiliki 4.567 koleksi dengan koleksi terbanyak adalah etnografika, numismatika, dan heraldika.***

Baca Juga

#KlipingPR Saat Tukang Becak Diajak Beralih Profesi

28 Juni 1986. Berita di rubrik Jawa Barat, halaman 3 Harian Umum Pikiran Rakyat edisi 28 Juni 1986 memunculkan berita kecil yang menarik. Kejadiannya di Kota Tasikmlaya yang dulu masih disebut kota administratif atau kotif.

Jangan Berenang di Pantai Garut Selatan

GARUT, (PR).- Pantai Garut selatan memiliki karakter yang cukup berbahaya bagi wisatawan untuk berenang di lautan. Meski demikian, tak sedikit wisatawan yang mengabaikan peringatan itu hingga membahayakan dirinya sendiri.