Menanti Pemimpin Milenial

Isti Larasati Widiastuty

Statistisi Madya di Badan Pusat Statistik

STRATEGI  pasangan Rindu jitu dalam memenangkan pilkada Jawa Barat. Dengan total raihan 32,88 persen suara, Ridwan kamil dan Uu  Ruzhanul Ulum sukses melenggang ke Jabar 1.  Pada pemilu 27 Juni lalu, pasangan ini berhasil menyisihkan ketiga pasangan calon lainnya dengan raihan lebih dari tujuh juta suara.

Raihan tujuh juta suara tentu bukan hal mudah. Dari total 21.979.995 suara sah yang masuk, 7.226.254 suara memilih pasangan ini. Strategi di era kontestasi kiranya berhasil. Menggaet suara pemilih milenial ternyata berbuah manis. Ya, dalam era kampanye lalu pasangan ini fokus menyasar suara golongan milenial. Bukan tanpa sebab. Kaum milenial di Jawa Barat kala itu mencapai sekitar 30 persen dari total DPT.

 

Potensi & tantangan

Pasca dilantik sebagai gubernur Jawa Barat pertengahan September 2018 nanti, Ridwan Kamil memiliki tantangan besar yang harus dihadapi.  Sejatinya hal ini sudah terbaca ketika masa kontestasi dahulu.

Sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia, Jawa Barat memiliki modal besar. Pada tahun 2018 penduduk Jawa Barat diproyeksikan mencapai 48,68 juta jiwa (Proyeksi Penduduk Jawa Barat, BPS). Jawa Barat yang terletak pada posisi antara 5o50'-7o50' Lintang Selatan dan 104o48'-108o48' Bujur Timur, memiliki luas daratan seluas 35.377,76 kilometer persegi (Jawa Barat Dalam Angka 2017).

Tantangan yang tidak mudah, mengelola dan membangun penduduk yang banyak dengan luas wilayah yang tidak sedikit. Namun demikian, Ridwan Kamil setidaknya tidak perlu bekerja dari nol. Sudah banyak capaian pembangunan yang telah diraih pemimpin sebelumnya. Jika dimanfaatkan dengan baik, ini bisa menjadi modal awal yang kuat.

Di tahun 2017, pertumbuhan ekonomi Jawa Barat mencapai 5,29 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional (5,07 persen). Capaian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Barat pada tahun 2017 sebesar 1.786 triliun rupiah. PDRB Jawa Barat ini berperan sekitar 13,14 persen terhadap PDB nasional. Artinya sebesar 13,14 persen perekonomian nasional digerakkan oleh ekonomi Jawa Barat.

Selama Januari hingga Desember 2017, ekspor Jawa Barat mencapai 29,18 miliar USD. Dengan total ekspor nasional pada periode yang sama sebesar 168,73 miliar USD, maka Jawa Barat berperan sebesar 17,29 persen terhadap ekspor nasional.

Dari sisi pembangunan manusia, capaian yang diraih pun tidak kalah. Pada tahun 2017 status pembangunan manusia Jawa Barat berada pada level “tinggi”. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jawa Barat tahun 2017 mencapai 70,69. Selisih 0,12 poin di bawah rata-rata IPM Indonesia.

Seluruh dimensi pembentuk IPM menunjukkan tren meningkat setiap tahunnya. Usia Harapan Hidup saat lahir (UHH) mencapai 72,47 tahun. Ketersediaan fasilitas kesehatan dan kemudahan akses, menjadi pendorong utama meningkatnya harapan hidup di Jawa Barat. Pada dimensi pendidikan, Harapan Lama Sekolah (HLS) telah mencapai 12,42 tahun dengan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) sebesar 8,14 tahun. Artinya, penduduk usia 25 tahun ke atas di Jawa Barat telah menyelesaikan pendidikannya hingga kelas VIII. Masih lebih rendah dari target wajib belajar 9 tahun, bahkan 12 tahun.  Kemudian pada dimensi hidup layak, rata-rata pengeluaran penduduk per kapita (PPP) setahun telah mencapai 10,28 juta rupiah.

Provinsi Jawa Barat di tahun 2018 ini telah berhasil menurunkan tingkat kemiskinan dari 7,83 persen (September 2017) menjadi 7,45 persen (Maret 2018). Jumlah penduduk miskin kondisi Maret 2018 sebanyak 3,62 juta jiwa, berkurang sebanyak 159 ribu jiwa jika dibandingkan September 2017. Namun tingkat kesenjangan pendapatan semakin lebar, ditunjukkan dengan gini rasio yang meningkat dari 0,393 (September 2017) menjadi 0,407 di tahun 2018 (Maret).

Di sisi lain, tingkat pengangguran pun menunjukkan tren menurun. Pada Februari 2018 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Barat mencapai 8,12 persen. Turun dibandingkan Agustus 2017 yang mencapai 8,22 persen atau Februari 2017 yang mencapai 8,49 persen.

Berbagai kondisi ini tentunya menjadi bekal dalam upaya membangun Jawa Barat ke depan. Jawa Barat memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan.

Hasil Sensus Ekonomi 2016 (SE2016) listing mencatat sebanyak 4,63 juta unit usaha di Jawa Barat dan menyerap 11,37 juta orang tenaga kerja. Sebanyak 98,49 persen adalah unit Usaha Mikro Kecil (UMK) dengan daya serap tenaga kerja mencapai 74,73 persen. Menjadi tantangan pemerintah baru, bagaimana menggerakan pelaku UMK di Jawa Barat agar kontribusinya dalam perekonomian semakin meningkat dan mampu berdaya saing.

Selain potensi UMK yang besar, Jawa Barat juga memiliki potensi ekonomi kreatif yang luar biasa. Buktinya, di tahun 2016 total PDRB ekonomi kreatif (ekraf) Jawa Barat mampu menopang 20,74 persen ekonomi kreatif nasional. PDRB ekraf Jawa Barat di tahun 2016 mencapai 191,34 triliun rupiah, sedangan PDB ekraf nasional mencapai 922,59 triliun rupiah. Gambaran nasional menunjukkan pelaku usaha ekraf sebagian besar berusia 15-40 tahun (61,06 persen). Kiranya tidak terlalu jauh dengan kondisi Jawa Barat.

Refleksi data di atas kiranya menjadi sebagian kecil aset bagi gubernur Jawa Barat mendatang. Tak hanya strategi kala kampanye untuk meraih suara kaum milenial. Setelah dilantik kelak, kembali dibutuhkan desain tepat untuk memaksimalkan potensi generasi milenial Jawa Barat. Apalagi Jawa Barat telah memasuki era bonus demografi. Menurut Adioetomo (2018), jika ingin memetik bonus demografi setidaknya ada empat komponen yang  perlu diperhatikan. Komponen itu adalah pendidikan, kesehatan, kebijakan ekonomi yang menyerap tenaga kerja, serta tata kelola pemerintahan yang baik dan benar.***