Pilkada & Piala Dunia

 Hadi Purnama

Dosen Prodi Digital Public Relations, Telkom University, penikmat sepak bola

RITUAL  empat tahunan Piala Dunia senantiasa ditunggu miliaran penduduk bumi yang tahun ini dihelat di Rusia, menarik untuk disimak. Bukan semata sebagai ajang olah raga paling populis, yang tidak kerap mempertontonkan keahlian para pemain bintang dan kekompakan tim tiap negara, tetapi sebagai pembelajaran bagi para parpol dan politisi yang akan berlaga dalam perhelatan pilkada serentak yang akan berpuncak pada 26 Juni nanti.

Piala Dunia sejatinya adalah miniatur politik serta praktik demokrasi yang berlangsung di lapangan hijau. Ibarat Piala Dunia, maka pilkada sebagai sebuah ritual demokrasi yang memiliki siklus berulang serta ada sejumlah prasyarat agar bisa memenangkan hati pemilih untuk mencapai gelar juara. Siklus lima tahunan dalam pilkada merupakan waktu yang dimiliki setiap parpol menyiapkan formasi permainan yang paling tepat bagi skuad politiknya, disertai teknik permainan yang mumpuni, kekompakan tim, strategi dan pola permainan yang tepat. Kelima faktor ini bila dikelola dengan baik akan menjadi kunci keberhasilan skuad parpol dalam pilkada kelak.

 

Formasi bermain

Dalam sepak bola terdapat lima formasi dasar yang kerap diterapkan kesebelasan untuk menguasai permainan di lapangan hijau. Mulai dari formasi klasik 4-4-2 yang cocok digunakan untuk teknik permainan menyerang maupun bertahan. Formasi ini kerap digunakan skuad Italia untuk menaklukan musuhnya di lapangan hijau. Selain formasi 4-4-2, kesebalasan yang bertarung di piala dunia dapat memanfaatkan formasi lain seperti 3-5-2, 4-3-3, 4-2-3-1, hingga formasi 4-3-2-1.

Tentu saja pilihan atas kelima formasi akan sangat ditentukan bukan saja materi pemain, kualitas fisik prima, skill individu yang bagus, melainkan juga keputusan manajer dan pelatih. Ibarat para pemain sepak bola, maka para kandidat kepala daerah yang diusung parpol sejatinya bukan saja bermodal popularitas personal, namun mereka yang sudah “hatam” dalam teknik menendang dan menggiring pesan dalam setiap kesempatan berkampanye dengan calon pemilihnya. Namun, pada saat bersamaan mereka juga terampil dalam menghentikan serangan politik yang dilancarkan lawan politiknya dengan merebut simpati publik secara elegan.

 

Spirit soliditas

Para kandidat sudah seharusnya memiliki insting penyerang yang juga memiliki kemampuan berkomunikasi yang mumpuni, karena harus bisa mengartikulasikan pesan politik kepada calon pemilihnya. Sebagai kapten yang harus mengatur pola permainan di lapangan hijau, para kandidat kepala daerah adalah seorang komunikator yang mampu mengumpan, menggiring, menangkap, mengunci serangan hingga melakukan serangan balik ke gawang lawan.

Setiap kesebelasan yang berlaga merupakan representasi parpol yang berkompetisi memenangkan hati para penonton sebagai konstituen yang memiliki hak pilihnya dengan beragam preferensi politik. Setiap parpol memiliki seorang manajer dan pelatih dan tim teknis lain yang akan berdiri di pinggir lapangan hijau, yang selalu mengedepankan spirit soliditas tim.

Sementara di lapangan hijau, seorang kapten tim adalah representasi tim yang bertindak sebagai jenderal yang mengomando seluruh anggota tim yang memiliki beragam skill dan karakter. Tim kesebelasan yang unggul di lapangan hijau bukan semata ditentukan oleh satu atau dua pemain bintang, karena sepak bola merupakan representasi praktik pencapaian tujuan bersama, bukan ambisi pribadi.

 

Politik sportivitas

Ibarat permainan sepak bola, pilkada harus melahirkan pemenang di ujung kompetisi. Setiap potensi yang dimiliki masing-masing skuad, mulai dari skill individu, formasi bermain, kekompakan tim, dan strategi bermain, dan dukungan penonton, menjadi modal dalam meraih kemenangan. Last but not the least, faktor keberuntungan menjadi hal yang tidak bisa diabaikan dalam permainan sepak bola.

Begitu pun dengan pilkada, bisa jadi ada peristiwa tertentu yang ikut menjadi penentu kemenangan skuad yang sebelumnya bukan favorit juara. Jadi, setiap kemungkinan bisa terjadi di atas lapangan hijau, karena si kulit bundar tidak selamanya terprediksi. Bahkan, beberapa skuad favorit juara bisa saja angkat koper duluan, sementara kesebelasan yang jadi “kuda hitam” justru lolos ke babak final. 

Kompetisi pada dasarnya mencari pemenang sejati yang memiliki nilai-nilai sportivitas. Dalam konteks ini, sportivitas harus dimaknai dari dua sisi, pihak pemenang dan yang kalah. Bagi pemenang, harus memegang filosofi menang tanpa ngasorake, merayakan kemenangan seperlunya sebagai buah kerja keras dan kerjasama tim, seraya tetap merangkul pihak yang kalah. Sebaliknya, bagi skuad yang kalah harus mampu menerima kekalahan dengan legowo, tanpa menyimpan dendam kesumat apalagi menabuh genderang permusuhan lanjutan.

Akhirnya, alangkah indahnya bila memaknai pilkada sebagai peristiwa kompetisi sebagaimana halnya sepak bola. Meniru tradisi simbolik nilai-nilai sportivitas sepak bola seperti selebrasi kemenangan yang tidak berlebihan, saling bertukar kostum skuad antarpemain yang sebelumnya bertarung, atau saling berpelukan untuk melupakan kompetisi yang baru saja lewat. Memandang pilkada sebagai kompetisi bukan sebagai konflik, sebuah pertarungan tapi bukan sebuah sengketa yang menjunjung etika dan  sportivitas.

Semoga Pilkada nanti bukan menjadi tontonan yang menegangkan apalagi menakutkan, tetapi justru menjadi ajang hiburan yang menginspirasi banyak pihak serta membawa manfaat bukan saja bagi pemenangnya, tetapi bagi kita, seluruh rakyat sebagai pemberi mandat dan penentu kemeriahan dalam stadion bernama demokrasi.

Wallahualam bisawab.