Etape Akhir Pilgub

Firman Manan

Dosen  Departemen Ilmu Politik Unpad

PILGUB Jabar telah memasuki etape akhir menjelang hari pencoblosan tanggal 27 Juni 2018. Bagi para paslon dan tim pemenangannya, pengerahan seluruh sumber daya secara optimal di etape akhir Pilgub akan menjadi variabel penentu untuk meraih kemenangan dalam Pilgub. Terlebih, sebagian pemilih di Jabar merupakan pemilih yang menetapkan pilihannya di saat-saat terakhir.

Peta pertarungan Pilgub hingga saat ini sejatinya berjalan sangat dinamis. Mengacu pada hasil survei dari beberapa lembaga, persaingan ketat terjadi antara pasangan Rindu dan pasangan Deddydedi. Namun demikian, pengalaman Pilgub Jabar tahun 2008 dan 2013 dimana paslon yang unggul dalam survei tidak berhasil memenangkan Pilgub, menyebabkan seluruh paslon masih berupaya untuk menjadi pemenang dalam Pilgub.

Pertarungan Pilgub berlangsung ketat karena beberapa hal. Pertama, ketidakhadiran petahana. Pengalaman menunjukkan bahwa petahana sering mendominasi dan bahkan memenangkan pemilihan, karena petahana mempunyai keunggulan - antara lain dari popularitas, rekam jejak kinerja, jejaring dukungan dan ketersediaan logistik - apabila dibandingkan dengan penantangnya. Wakil Gubernur Jabar periode 2013-2018 Deddy Mizwar tidak bisa sepenuhnya diklasifikasikan sebagai petahana. Hal ini dikarenakan regulasi tentang pemerintahan daerah menyatakan bahwa kepala pemerintahan daerah dipegang oleh kepala daerah sementara wakil kepala daerah berposisi membantu kepala daerah. Dengan demikian, klaim keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan dan penguasaan berbagai sumber daya yang berpotensi memberikan insentif pada saat pemilihan berlangsung lazimnya dimiliki oleh kepala daerah. Absennya petahana dalam pemilihan menghadirkan pertarungan yang ketat di antara para paslon.

Kedua, kualitas personal para paslon yang mumpuni. Ridwan Kamil, Uu Ruzhanul Ulum, Ahmad Syaikhu, Deddy Mizwar, dan Dedi Mulyadi memiliki rekam jejak pengalaman sebagai pimpinan di daerah Jabar. Kandidat lain memang tidak memiliki pengalaman mengelola pemerintahan daerah namun mempunyai rekam jejak pengalaman yang baik pula. T.B. Hasanuddin merupakan purnawirawan Jenderal TNI AD yang berpengalaman sebagai anggota DPR dan Ketua DPD PDIP Jabar. Anton Charliyan adalah purnawirawan Jenderal Polri yang pernah menjabat sebagai Kapolda Jabar. Sudrajat merupakan purnawirawan jenderal TNI AD yang pernah menduduki jabatan Duta Besar di RRC.

Ketiga, relatif berimbangnya popularitas beberapa kandidat yang bertarung dalam Pilgub. Figur seperti Ridwan Kamil, Uu Ruzhanul Ulum, Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi memiliki tingkat pengenalan yang tinggi karena sebelum mendeklarasikan diri untuk maju dalam Pilgub telah dikenal luas sebagai pimpinan di beberapa daerah di Jabar. Sosok seperti Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi bahkan dicitrakan sebagai kepala daerah muda dan visioner yang berprestasi selama memimpin daerahnya masing-masing. Selain itu, nama-nama di atas juga telah lama beredar dalam bursa Pilgub.

Keempat, walaupun sebagian besar survei menunjukkan pasangan Rindu memiliki keunggulan tingkat elektabilitas, namun apabila dibandingkan dengan tingkat elektabilitas pasangan Deddydedi, keunggulan pasangan Rindu belum signifikan karena masih berada dalam rentang margin of error pada berbagai survei tersebut. Selain itu, angka pemilih yang belum menentukan pilihan (undecided voters) juga masih tinggi – berada di kisaran 15% - 20%, melebihi margin keunggulan pasangan Rindu terhadap Deddydedi. Selain itu, karakteristik pemilih di Jabar juga diwarnai oleh karakteristik swing voters, yaitu pemilih yang telah menentukan pilihan namun belum yakin atas pilihannya dan masih berpotensi mengubah pilihannya. Dengan demikian, tidak ada jaminan bahwa keunggulan dalam survei akan linear dengan hasil pemilihan.

 

Langkah strategis

Berdasarkan situasi tersebut di atas, terdapat serangkaian langkah strategis yang harus dilakukan oleh para paslon dan tim pemenangan pada etape akhir Pilgub untuk memengaruhi suara swing voters dan menarik dukungan dari undecided voters. Pertama, memanfaatkan momentum penting dalam masa-masa terakhir kampanye. Salah satu momentum penting adalah debat publik Pilgub yang terakhir. Debat publik menjadi momentum krusial karena disiarkan oleh jaringan televisi sehingga paslon dapat menyampaikan pesan kampanye kepada pemilih dari berbagai segmen dan di berbagai wilayah tanpa harus menghabiskan waktu, tenaga dan biaya yang besar. Terlebih, berbagai hasil survei menunjukkan bahwa televisi masih menjadi referensi utama bagi publik Jabar dalam mendapatkan informasi tentang Pilgub. Performa yang baik di panggung debat serta tawaran program-program konkret sebagai solusi mengatasi permasalahan yang menjadi prioritas publik akan menjadi kunci untuk meyakinkan pemilih sehingga paslon akan mendapatkan dukungan yang signifikan.

Kedua, menggalang suara dari kantung-kantung pemilih yang mempunyai suara besar, seperti Kabupaten Bogor, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Garut, Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cirebon. Paslon yang mampu mendapatkan suara yang signifikan di daerah-daerah tersebut berpotensi untuk meraih kemenangan dalam Pilgub. Terlebih, persaingan ketat masih terjadi di wilayah yang mempunyai suara besar, seperti di wilayah Megapolitan.

Ketiga, menggunakan figur-figur yang dikenal luas oleh publik dan memiliki kemampuan mempengaruhi preferensi pemilih untuk menjadi pendukung paslon (political endorser). Hal ini penting untuk dilakukan karena sebagian besar pemilih mempunyai keterbatasan untuk memahami kompleksitas isu yang muncul dalam Pilgub. Dalam situasi seperti ini, pesan sederhana dari political endorser kepada para pemilih akan lebih efektif untuk mendulang suara.

 Keempat, mengantisipasi munculnya kampanye hitam terhadap paslon. Kampanye hitam seringkali dimunculkan di saat-saat akhir masa kampanye sehingga paslon tidak mempunyai cukup waktu untuk memberikan klarifikasi secara komprehensif. Oleh karenanya, paslon dan tim pemenangan harus memetakan kemungkinan isu-isu yang potensial diarahkan menjadi kampanye hitam dan mempersiapkan jawaban untuk mengklarifikasi isu-isu tersebut.

Etape akhir Pilgub Jabar menjelang hari pencoblosan merupakan saat-saat yang menentukan bagi para paslon. Paslon yang mampu memanfaatkan momentum penting, memobilisasi suara di kantung-kantung pemilih besar, merekrut political endorser dan siap menghadapi serangan kampanye hitam mempunyai potensi besar untuk memenangkan Pilgub Jabar.***