Citarum & Daya Saing Bangsa

Gai Suhardja

Universitas Kristen Maranatha                                                                                                                                                                Perintis  Forum Indonesia Peduli Citarum (Gemricik).

SEBAGAI  warga masyarakat Jawa Barat kita semua mengetahui bahwa kini sungai Citarum sedang berlanjut proses dibersihkan dari berbagai sampah padat maupun limbah beracun. Program yang dinamai Citarum Harum sudah berjalan sejak dicanangkan oleh RI1 pada bulan Februari tanggal 23 tahun 2018 dan menurut rencana pemerintah akan menuntaskannya  dalam waktu 7 tahun. Berarti pada tahun 2025 Citarum harusnya sudah tak lagi digolongkan sebagai satu dari 10 sungai terkotor di dunia, negara tak boleh lagi dipermalukan oleh kondisi kemalangan sungai Citarum.

Sebenarnya pada tahun 1970 sungai Citarum masih jernih air mengalir dan tak ada pemandangan sampah yang mengalir dipermukaan airnya. Pada masa itu waduk Saguling dan waduk Jatiluhur tak ada genangan tanaman eceng gondok yang memenuhi permukaan, tambak keramba ikan pun masih belum sebanyak saat ini. Maka air tampak jernih dan membiru dari pandangan mata kita.

Keadaan berubah secara bertahap oleh karena pertambahan penduduk selama puluhan tahun, dan perubahan itu terjadi oleh ulah banyak orang, bukan terutama warga yang menghuni di bantaran sungai atau waduk melainkan oleh ulah semua orang . Dikatakan demikian sebab kepedulian akan pemeliharaan dan pelestarian lingkungan hidup semakin abai. Negara sibuk dengan masalah lain dan terjadi pembiaran puluhan tahun, kita pernah bangga akan produk tekstil  kita yang terkenal, namun abai akan limbah air bekas proses yang mengalir langsung ke sungai tanpa melalui penetrasi penyaringan untuk menghilangkan air yang mengandung racun kimia yang begitu saja dibuang  ke aliran sungai Citarum, berpuluh tahun. Maka dampak luar biasa yang kini dihadapi masyarakat Jawa Barat adalah sumber air minum  bagi warga Jawa Barat dan yang 80% dari aliran sungai Citarum hasil produksi PDAM dialirkan ke DKI Jakarta. Mengerikan bagi kehidupan kita semua bila melihat hasil survey penelitian dari pakar kesehatan bahwa kandungan aliran air sungai Citarum sudah berisi berbagai jenis racun berbahaya bagi hidup manusia dan hewan serta bakteri e-coli yang akan menyebabkan penyakit bagi manusia.

Pembiaran puluhan tahun ini segera diubah sepenuhnya oleh pemerintah bergerak mengajak seluruh komponen di masyarakat untuk membersihkan semua sungai dari segala buangan sampah maupun limbah beracun, pemanggilan pemilik pabrik yang  semestinya bertanggung jawab terhadap pencemaran Citarum. Perubahan perilaku membuang sampah dan limbah inilah yang mesti berganti serentak, yakni tidak membuang sampah melainkan mengelola sampah di tempat masing-masing sehingga tak ada lagi yang dibuang ketempat sampah terlebih ke sungai dan selokan sekitar. Perubahan pada sistem pengeluaran air limbah pabrik yang wajib hukumnya untuk melalui proses penyaringan hingga air bekas tak lagi berbahaya bagi segala ikan dan jentik air semua mahluk hidup dilingkuan DAS Citarum. Selain itu seluruh warga masyarakat hendaknya berubah dan serentak memperbaiki sistem sanitasi di rumah dan gedung perkantoran agar selalu membangun sistem septic tank terbaik dan aman agar tinja tak lagi disalurkan ke sungai dan selokan.

Mengenai istilah komunal sering kali menjadi pula perencanaan bagi sistem-sistem pengamanan, namun belum  signifikan menyelamatkan sungai. Oleh  karena itu kita sebagai negara yang terus akan meraih kemajuan segala bidang, perlu menimbang kondisi perkembangan dan pertumbuhan kaum muda generasi pembelajar kita di perguruan-perguruan tinggi. Berbagai keahlian dan tenaga ahli dari tingkat D3, hingga sarjana dan master sebenarnya berdaya untuk bidang teknik dengan teknologi anak bangsa. Kita dapat melaksanakan pembuatan peralatan teknologi untuk sistem percepatan program Citarum Harum. Di Bandung pendidikan keahlian politeknik kita memiliki lulusan yang sudah berhasil berkreasi dengan berbagai produk teknik yang dihasilkannya. Dengan memberdayakan kaum muda pembelajar maupun lulusan dalam neger,i kita mampu menghasilkan peralatan percepatan untuk menangani proses sungai bersih baik sampah maupun limbah beracun. Laboratorium kajian anak bangsa untuk pengembangan pertanian dan peternakan ada di kita.  Negara seharusnya mempercayakan anak negeri karena potensi lulusan SMK maupun para mahasiswa yang peduli untuk mendukung program Citarum Harum ini dapat berkolaborasi bersama para seniornya, dosen maupun alumni dan industri teknologi dalam negeri. Ini moment penting saat pemerintah menyatakan harapan millenials bonus demografi generasi muda  Indonesia.

 

Menanti bukti

Rupanya bukan saja Perpres 15 bagi Citarum, penegakan hukum, dan ajakan pemerintah bagi warga untuk maju secara mandiri, namun masyarakat  menantikan bukti negara percaya pada kaum muda kreatif (yang dapat dipercaya) di dalam negeri untuk turut sepenuhnya mengatasi  bersama problem Sungai Citarum secara berdikari, tanpa bantuan asing. Dengan APBD dengan APBN  barangkali negara sanggup mendanai dan membayar hasil kreasi dan  hasil produk kaum muda kita. Dari mana kita dapat memulai ini adalah instruksi yang mungkin dapat  berasalkan komando yang sudah disebutkan oleh pemerintah bahwa grand design program Citarum Harum dicanangkan oleh RI 1. Program ini dilaksanakan di bawah  Kemenko Kemaritiman dengan kerja sama berbagai kementrian terkait dengan menunjuk Gubernur Jawa Barat yang didampingi Pangdam III Siliwangi, saat mana dimulai oleh Pak Doni Monardo (kini Letjen Sekjen Wantanas) kemudian amanah keberlanjutan Citarum Harum oleh penggantinya Mayjen Besar Harto Karyawan yang juga paham akan penanganan Lingkungan Hidup berdasarkan pengalaman beliau ketika bertugas di Malang.

Sungai Citarum tak hanya dibersihkan dari sampah dan limbah beracun, DAS Citarum direvitalisasi. Perkebunan  dan peternakan di wilayah hulu, tengah hingga hilir menjadi tugas yang juga dilaksanakan. Reboisasi, dan energi listrik yang dihasilkan oleh teknologi turbin di titik waduk yang ada sebagai kawasan strategis bagi pulau Jawa dan Bali masih perlu berlanjut dikembangkan demi masa depan kebutuhan pembangunan energi listrik untuk Revolusi Industri 4,0. Menjadi saat penting di Jawa Barat, khususnya Kota Bandung yang dikenal sebagai kota pembelajar dan pusat intelektual dan industri kreatif. Kiranya harapan kepercayaan negara bagi kaum muda dan sebaliknya kepercayaan generasi muda warga masyarakat pada political will yang diembankan pada pemerintah saat ini amat dinantikan, bukan saja dari masyarakat Jabar (yang mana Provinsi Jabar sebagai acuan bagi kemajuan provinsi lain) melainkan secara nasional demi kekuatan saling percaya guna membangun kemampuan mumpuni daya saing bangsa akan martabat Negara Kesatuan Republik Indonesia di mata dunia.***