Ekonomi Pasca Tol Soroja

Acuviarta Kartabi

Dosen dan Pengamat Ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unpas

PERESMIAN ruas Tol Soreang ke Pasir Koja (Soroja) oleh Presiden Joko Widodo Senin 4 Desember 2017 dapat juga dimaknai sebagai peresmian awal babak baru perekonomian kawasan Bandung Selatan, khususnya perekonomian Kabupaten Bandung. Bagaimana tidak, berfungsinya tol Soroja secara otomatis akan merelaksasi atau tepatnya mengatasi problem klasik sumbatan konektivitas dan mobilitas sektor-sektor ekonomi serta penduduk masuk dan keluar kawasan Bandung Selatan yang sudah terjadi mungkin lebih dari 20 tahun terakhir. Akibat selalu macet, jarak tempuh 10,55 Km dari Bandung ke Soreang sebelumnya hanya bisa ditempuh lebih dari 1 jam perjalanan (bahkan lebih). Beroperasinya Tol Seroja, dikabarkan bisa memangkas waktu tempuh Bandung ke Soreang menjadi kurang dari 20 menit. 

Perekonomian Kabupaten Bandung sudah sejak dahulu kala menjadi andalan pengembangan ekonomi kawasan Bandung Raya dengan perekonomian Kota Bandung sebagai titik sentralnya. Posisi Kabupaten Bandung selama ini bisa diibaratkan sebagai satelit yang mengelilingi orbit perekonomian Kota Bandung. Oleh sebab itu perekonomian Kota Bandung yang berbasis jasa juga tergantung dengan kemajuan perekonomian Kabupaten Bandung yang berbasis sektor riil. Interaksi aktivitas ekonomi Kabupaten Bandung dengan kabupaten/kota sekitarnya dalam kawasan Bandung Raya diyakini telah memunculkan banyak skenario simbiosis mutualisme yang menguntungkan masing-masing perekonomian kabupaten/kota di kawasan Bandung Raya. 

Memperkuat

Interaksi positif, menyebar dan mengakar sesungguhnya sudah terbentuk jauh sebelum adanya Tol Soroja. Untuk itu kehadiran Tol Seroja akan semakin memperkuat sinergi, konektivitas dan mobilitas perekonomian Kabupaten Bandung dan Kota Bandung serta kabupaten/kota lainnya di kawasan Bandung Raya. 

Potensi pengembangan ekonomi yang semakin menguat dengan adanya tol Soroja dalam hal ini bisa terjadi melalui: Pertama, Pengembangan Pariwisata, khususnya Agro Wisata serta Wisata Alam. Kawasan Bandung Selatan khususnya Ciwidey dan Pangalengan dikenal memiliki potensi pengembangan destinasi wisata alam serta Agrowisata. Namun kondisinya sebelum ada tol Soroja potensi-potensi tersebut kurang tergali optimal. Secara logis dengan tingginya jumlah penduduk Kota Bandung dan sekitarnya serta kunjungan masyarakat ke Kota Bandung yang sangat tinggi (hal itu bisa dibuktikan pada saat-saat hari libur) merupakan basis potensi pengembangan ekonomi kepariwisataan yang dapat dimanfaatkan oleh Kabupaten Bandung, artinya potensi wisatawannya ada dan potensi destinasinya ada, tinggal dikembangkan saja, apa susahnya? 

Kedua, pengembangan sektor-sektor ekonomi, khususnya sektor riil berbasis produk industri dan pertanian (perkebunan). Keberadaan tol Soroja akan mempercepat arus distribusi dan mobilitas input sektor riil di Kabupaten Bandung. Kita mengenal kawasan kiri dan kanan sepanjang ruas jalan Bandung ke Soreang dihuni oleh  beragam industri. Adanya 2 exit tol Margaasih dan Kutawaringin akan semakin mempercepat arus distribusi dan mobilitas input unit-unit usaha di Kabupaten Bandung. Kondisi yang sama juga terkait komoditas pertanian, karena kita mengenal kawasan Bandung Selatan juga merupakan kawasan pertanian (perkebunan) yang terus tumbuh dan berkembang. Potensi pengembangan unit-unit usaha di Kabupaten Bandung akan terbuka lebar sejalan dengan tumbuhnya ekonomi lokal Kabupaten Bandung pasca tol Soroja, begitu juga mobilitas ekspor komoditas daerah Kabupaten Bandung ke Kota Bandung serta daerah lainnya. Jumlah unit usaha di Kabupaten Bandung perlu diketahui merupakan yang kedua tertinggi di Jawa Barat, setelah Kabupaten Bogor. Sensus ekonomi BPS yang diadakan 10 tahun sekali terakhir tahun 2016 mencatat ada 353.277 unit usaha di Kabupaten Bandung. Jumlah itu mencakup 7,62 persen dari total unit usaha yang ada di 27 Kabupaten/Kota di Jawa Barat. Menariknya, dari 355.277 unit usaha di Kabupaten Bandung sebanyak 348.858 di antaranya adalah Usaha Mikro Kecil (UMK).

Ketiga, menggeliatnya perekonomian Kabupaten Bandung secara logis akan meningkatkan kemajuan indikator-indikator ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Bandung. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bandung dalam tiga tahun terakhir yang hanya berkisar 5,8 persen hingga 5,9 persen diperkirakan tahun 2018 akan tumbuh lebih tinggi akibat stimulus yang muncul sebagai dampak langsung adanya tol Soroja, selain dukungan faktor-faktor internal dan eksternal lainnya yang juga diperkirakan ikut mendorong kemajuan ekonomi Kabupaten Bandung. Seirama dengan harapan sifat inklusif pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bandung, persentase penduduk miskin Kabupaten Bandung juga diharapkan dapat ditekan lebih rendah dibawah 7,61 persen pencapaiannya di tahun 2016. Kadar inklusifitas pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bandung harus terus didorong, oleh karena ketimpangan pendapatan masyarakatnya saat ini masih tergolong tinggi (0,4 dilihat dari Angka Gini Ratio Kabupaten Bandung). Untuk itu tantangannya tidak saja mendorong pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih tinggi, namun bagaimana partisipasi sebagian besar 40 persen kelompok masyarakat berpendapatan bawah serta 40 persen kelompok masyarakat berpendapatan menengah bisa mengimbangi dampak ekonomi yang dinikmati 20 persen kelompok masyarakat berpendapatan atas di Kabupaten Bandung. Untuk itu, pengaturan aktivitas ekonomi diharapkan dapat sejalan dengan kepentingan pengembangan lapangan usaha yang dikelola oleh masing-masing kelompok pendapatan masyarakat. Tidak bisa dimungkiri, pasca beroperasinya tol Soroja investasi di Kabupaten Bandung akan meningkat, begitu juga pengembangan kawasan-kawasan ekonomi. Perencanaan ekonomi dan pemutahiran dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah serta arahan program/kegiatan Pemda Kabupaten Bandung harus betul-betul bisa menjawab itu. Oleh karenanya pasca beroperasinya tol Soroja Pemda Kabupaten Bandung tidak bisa berdiam diri dan duduk manis begitu saja menyerahkan perkembangan ekonomi daerah hanya tunduk pada kebutuhan (kepentingan) pasar dan pemilik modal, sebab eksternalitasnya juga harus terukur dan disitu dibutuhkan peran campur tangan pemerintah secara arif dan bijaksana.

Sempat ada kekhawtiran bahwa kehadiran jalan tol Soroja akan mengkikis peran ekonomi pelaku usaha di sepanjang ruas jalan lama Bandung ke Soreang. Menurut hemat saya hal tersebut tidak akan terjadi, sepanjang pengembangan ruas jalan dan kawasan diluar exit tol Margaasih, Kutawaringin dan Soreang ditata menjadi lebih baik. Kawasan sepanjang jalan Bandung ke Soreang mulai dari Kopo adalah kawasan perumahan dan industri, sehingga secara eksisting kawasan tersebut bukanlah kawasan yang tidak mandiri atau hanya memanfaatkan aktivitas masyarakat yang selama ini melewati jalan tersebut. Artinya saya ingin mengatakan bahwa kawasan tersebut merupakan kawasan mandiri karena potensi ekonomi masyarakat dan industrinya sudah terbentuk menjadi pasar atau pusat transaksi sejalan dengan tingginya jumlah penduduk yang beraktivitas di kawasan tersebut. 

Pada akhirnya kita berharap keberadaan jalan tol Soroja membawa angin segar perubahan ekonomi di Kabupaten Bandung. Untuk menjemput harapan itu, dibutuhkan kreativitas masyarakat dan Pemda Kabupaten Bandung. Selalu ada perubahan kondisi dan iklim dari setiap masa, tinggal bagaimana kita memanfaatkan perubahan-perubahan tersebut dengan terus melakukan inovasi dan mempertajam kreativitas. Ingat! Perubahan tidak bisa bisa dibendung, tapi soal bagaimana kita harus mampu beradaptasi.***