Masyarakat Tangguh Bencana

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

GEMPA  bumi dan tsunami Aceh tahun 2004 yang menelan korban tewas lebih dari 200.000 jiwa, merupakan contoh terbesar bencana alam abad ini yang menelan banyak korban dan kehancuran bentang alam. Belum terhitung kerugian lainnya dengan nilai yang sangat besar. Sebelum bencana alam di Aceh, sebenarnya banyak terjadi gempa bumi besar dan tsunami yang telah menewaskan ribuan penduduk yang mendiami pulau kecil di tengah laut. Demikian juga letusan gunung api banyak menelan korban manusia dan harta benda.

Karena ada manusia yang terkena dampak, maka dinamika lithosfer, atmosfer, dan hidrosfer, yang sesungguhnya merupakan peristiwa alam biasa, menjadi bencana alam. Bila manusia belum ada pada saat gunung api, gempa bumi, atau tsunami dahsyat terjadi, peristiwa itu belumlah dikatakan bencana. Secanggih apa pun teknologi yang dikuasai manusia, pada posisi ini, manusia tidak bisa menolak dan mencegah gejala alam, seperti gempa bumi, tasunami, letusan gunung api, atau suhu panas, dan badai. Itulah pentingnya mempertangguh masyarakat dalam menghadapi bencana.

Namun, tampaknya sejak terjadi bencana alam mahadahsyat tahun 2004, atau sudah 13 tahun sejak peristiwa itu terjadi, belum ada upaya secara nasional yang dapat mengimbaskan ilmu pengetahuan tentang keadaan alam Indonesia dengan segala karakteristiknya yang dapat memicu bencana alam, apakah yang bersumber dari bencana kebumian, bencana atmosferik, dan bencana kelautan.

Begitu banyak penyebab bencana alam, maka masyarakat Indonesia harus menjadi masyarakat yang tangguh bencana. Untuk menjadikan masyarakat yang tangguh bencana itu, diperlukan upaya yang nyata, rapi, terkonsep dengan baik, dan dilaksanakan terus-menerus dan berkesinambungan. Upaya pengurangan risiko itu harus dilakukan oleh berbagai kalangan di semua lini, tidak terkecuali para mahasiswa yang jumlahnya sangat banyak. Pada tahun 2014/2015 saja jumlahnya mencapai 689.181 orang.

Kesiapsiagaan

Pengurangan risiko bencana itu dalam bentuk pembangunan infrastruktur, penataan ruang, peningkatan kapasitas mahasiswa/masyarakat dalam kesiapsiagaan terhadap bencana. Dua hal yang bisa diperoleh dengan mengajarkan kebencanaan dan mitigasinya, pertama, para mahasiswa sebagai anggota masyarakat terpelajar akan menjadi masyarakat yang tangguh terhadap bencana. Kedua, para mahasiswa itu mengambil berbagai disiplin ilmu saat kuliah, setelah lulus dan bekerja, mereka akan menjadi pengimbas pengetahuan mitigasi kepada masyarakat dengan baik. Dan apabila berperan sebagai perencana, atau bahkan sebagai pengambil keputusan, mereka akan memasukkan unsur kebencanaan dan mitigasi dalam rancangan dan keputusannya.

Pintu masuk untuk memperkenalkan tentang kebencanaan dan mitigasinya di pergurauan tinggi dapat melalui mata kuliah dasar Umum (MKDU), khususnya mata kuliah ilmu kealaman dasar (IAD). Namun sayang, setelah terjadinya gempa bumi dan tsunami Aceh, belum ada perubahan mendasar dan menyeluruh terhadap kurikulum MKDU IAD. Mata kuliah ini dapat mengajarkan tentang dinamika bumi dan manusia Indonesia yang tangguh bencana. MKDU IAD ini dapat mengajarkan kedua tema besar itu kepada seluruh mahasiswa, dengan catatan mata kuliah IAD harus diberikan kepada seluruh mahasiswa, sehingga ratusan ribu mahasiswa setiap tahunnya akan mendapatkan ilmu pengetahuan tentang kebencanaan dan mitigasinya, dan mereka akan menjadi motor penggerak mitigasi bencana alam di lingkungannya.

Tentunya dalam visi, misi, dan kompetensi MKDU IAD diperlukan adanya perubahan dan penambahan. Saat ini visi kelompok mata kuliah berkehidupan bermasyarakat (MBB), induk dari mata kuliah IAD adalah: ”Visi kelompok MBB di perguruan tinggi merupakan sumber nilai dan pedoman bagi penye1enggaraan program studi guna mengantarkan mahasiswa memantapkan kepribadian, kepekaan sosial, kemampuan hidup bermasyarakat, pengetahuan tentang pelestarian, pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan hidup, dan mempunyai wawasan tentang perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni”.
Perlu ditambahkan, serta menjadi masyarakat yang tangguh bencana.

Misi kelompok matakuliah berkehidupan bermasyarakat (MBB): ”Membantu menumbuhkembangkan: daya kritis, daya kreatif, apresiasi, dan kepekaan mahasiswa terhadap nilai-nilai sosial dan budaya, demi memantapkan kepribadiannya sebagai bekal hidup bermasyarakat selaku individu dan makhluk sosial yang:
a.      Bersikap demokratis, berkeadaban, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, bermartabat, serta peduli terhadap pelestarian sumber daya alam dan Iingkungan hidup.
b.      Memiliki kemampuan untuk menguasai dasar-dasar ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
c.       Ikut berperan mencari solusi pemecahan masalah sosial budaya dan Iingkungan hidup secara arif.
Perlu ditambahkan:
d.      Memiliki ilmu pengetahuan tentang kebencanaan dan menjadi masyarakat yang tangguh bencana.

Demikian juga dengan kompetensi dasar mata kuliah lAD perlu ada penambahan, yang semula: ”Menjadi ilmuwan dan profesional yang berpikir kritis, kreatif, sistemik dan ilmiah, berwawasan luas, etis, estetis, serta memiliki kepedulian terhadap pelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup, serta memiliki wawasan tentang perkembangan ilmu pengetahuan, dan teknologi serta dapat ikut berperan mencari solusi pemecahan masalah lingkungan hidup secara arif, perlu ditambahkan: dan menjadi masyarakat yang tangguh bencana”.

Sebagai turunan dari visi, misi, dan kompetensi dasar MKDU IAD, ialah berupa kurikulum. Materi yang ada dalam kurikulum MKDU IAD, khususnya tentang bumi dalam alam semesta, materi inilah yang perlu mendapatkan penyempurnaan, sesuai dengan kepentingan, yaitu menjadikan masyarakat Indonesia yang tangguh bencana. Yang semula terdiri dari tiga topik, yaitu: a). Pembentukan alam semesta dan tata surya, b). Bumi sebagai planet, dan c). Pembentukan benua dan samudera, perlu ditambahkan tentang Geografi Indonesia yang terdiri atas: 1). Geologi Indonesia, 2). Iklim Indonesia, 3). Maritim Indonesia, dan 4). Penduduk Indonesia.

Karena dinamika bumi Indonesia yang rumit dan sangat aktif, serta keadaan alam di atasnya berupa dinamika atmosfer dan hidrosfer, maka bencana alam yang dapat terjadi di wilayah Indonesia adalah: 1). Bencana kebumian, seperti: gempa bumi, letusan gunungapi, longsor, dan penurunan muka air tanah dan muka tanah, 2) Bencana atmosferik, seperti: kekeringan, banjir, el niño, dan La Nina, 3). Bencana kelautan, seperti: tsunami, gelombang badai, dan kenaikan muka laut sebagai dampak pemanasan global.

Setelah mengetahui penyebab dan jenis bencana yang diakibatkannya, para mahasiswa akan mengetahui upaya-upaya terbaik dalam pengurangan risiko bencana.

Ancaman bencana alam saat ini begitu besar, gunung-gunungapi aktif sudah dikepung pemukiman dan investasi dalam pariwisata. Demikian juga banyaknya masyarakat dan investasi dalam pariwisata dan industri yang dibangun di sepanjang pantai yang rawan diterjang tsunami. Keadaan Indonesia secara alami sangat rentan bencana. Hal inilah yang menuntut masyarakat yang bermukim di negara yang rentan bencana ini harus melakukan upaya-upaya untuk pengurangan risiko bencana. Upaya ini harus dibangun oleh semua pihak, tak terkecuali para mahasiswa. Hal ini tiada lain agar terjadi percepatan tumbuhnya masyarakat Indonesia yang tangguh bencana. Di sinilah letak pentingnya perubahan kurikulum MKDU IAD tersebut.***