Kondisi Geologi & Garam

Adjat Sudradjat

Ahli Geologi Manggala pada Akademi Budaya Sunda Universitas Pasundan

BARU-BARU ini kita mendengar bahwa terjadi kelangkaan garam di pasaran, baik garam untuk bumbu masak maupun untuk industri. Dampak kelangkaan garam bumbu masak atau yang dikenal sebagai garam konsumsi, bukan saja dirasakan oleh ibu rumah tangga, akan tetapi yang lebih luas adalah oleh industri terutama industri rumah tangga (IRT). Bagi para pengolah ikan hasil tangkapan, kelangkaan garam industri mengancam busuknya ikan.

Pada zaman Belanda, garam dikuasai sebagai monopoli oleh negara. Sesudah kemerdekaan, monopoli ini dicabut tahun 1957 dan tata niaga garam dibebaskan. Pembuatan garam dapat dilakukan oleh rakyat di berbagai tempat, tidak hanya di Madura sebagaimana ditetapkan Belanda. Dewasa ini terdapat tidak kurang dari 44 lokasi pembuatan garam mulai dari Aceh, Pulau Jawa, Madura, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur sampai ke Sulawesi.

Produksi garam di Indonesia pada tahun 2014 mencapai 2,19 juta ton, sedangkan konsumsi mencapai 3,61 juta ton, sehingga terjadi defisit. Terdapat dua jenis garam yaitu garam konsumsi dengan kadar 94,7% dan garam industri dengan kadar harus melebihi 97%. Produksi garam amat sulit ditingkatkan, karena kendala luasnya tambak dan kondisi musim. Pada musim hujan produksi menurun. Musim yang tidak teratur juga memengaruhi produksi. Impor garam dari tahun 2012 sampai 2016 berfluktuasi antara 1,4 sampai 2,2 juta ton per tahun.

 

Industri garam di dunia

Produksi garam di dunia didominasi oleh penambangan garam dari dalam tanah. Pengamatan mengenai produksi dan cadangan garam dilakukan oleh Jawatan Geologi. Di Inggris oleh British Geological Survey (BGS), sedangkan di Amerika oleh Jawatan Geologi Amerika Serikat (USGS).

Produsen garam terbesar di dunia adalah Cina yang menghasilkan 27% dari produksi dunia, sedangkan Amerika 16,8%. Selanjutnya disusul oleh India, Jerman, Australia, Kanada dan Meksiko. Bila produksi ketujuh negara tersebut disatukan, maka mereka menguasai lebih dari 70% produksi garam dunia. Bahkan hanya oleh lima negara saja yaitu Cina, Amerika, India, Jerman dan Australia separuh produksi garam dunia dapat dikuasai. Bila kelima negara tersebut membuat organisasi semacam OPEC, niscaya harga garam dunia sangat ditentukan oleh organisasi itu. Posisi politik negara-negara tersebut sejauh ini memang tidak kondusif untuk maksud itu, tetapi kepentingan dagang tidaklah mustahil untuk memotong kepentingan politik.

Melihat dominasi garam hasil penambangan, maka garam hasil penguapan dari air laut tidaklah mempunyai makna, karena produksi masing-masing negara tidak lebih dari 0,5%. Indonesia menempati urutan ke-37 atau di bawah Filipina yang menempati urutan ke-35 dan Vietnam di urutan ke 29. Bahkan produksi garam Vietnam mencapai dua kali lipat produksi garam Indonesia.

 

Pengendapan

Cebakan garam terbentuk sebagai hasil pengendapan di laut yang setengah tertutup. Diperkirakan kondisi global dunia pada jutaan tahun lalu berkali-kali mengalami masa kering, sehingga terjadi pengendapan garam yang intensif. Dasar laut kemudian terangkat menjadi pegunungan. Pengambilan cebakan garam di dalam bumi dilakukan dengan penambangan, sehingga produksi dapat direncanakan sesuai dengan jumlah yang dikehendaki. Keadaan ini sangat kontras dengan pembuatan garam melalui penguapan air laut yang sangat tergantung kepada kondisi musim. Wilayah  yang memiliki iklim basah dan persentasi sinar matahari yang relatif rendah bukanlah tempat yang ideal bagi pembuatan garam air laut.

Cebakan garam pada umumnya terdapat di dalam batuan sedimen tua. Di Eropa garam terdapat pada batuan yang berumur Perem dan Jura atau 150 sampai 250 juta tahun. Di Amerika Serikat cebakan garam berumur antara 200-300 juta tahun. Cebakan garam yang tertua terdapat di Australia dengan umur mencapai 1,17 milyar tahun yaitu di Cekungan Amadeus, Australia Tengah. Ketebalan cebakan pada umumnya antara 100 sampai 600 meter dan kedalamannya antara 200 sampai 300 meter. Selain dengan membuat terowongan, penambangan dapat juga dilakukan melalui pemboran dengan cara melarutkan cebakan garam yang kemudian dialirkan ke permukaan.

 

Geologi Indonesia

Batuan di Indonesia pada umumnya berumur relatif muda. Lebih dari 50% daratan Indonesia ditutupi oleh batuan Tersier yang berumur kurang dari 50 juta tahun. Cebakan garam pada umumnya terdapat dalam batuan yang berumur lebih dari 100 juta tahun, walaupun di sana-sini ada juga yang berasosiasi dengan batuan Eosen yang berumur 50 juta tahun.

Di beberapa tempat di Kalimantan terdapat batuan tua berumur sampai 200 juta tahun namun jenisnya adalah batuan granit yang bukan merupakan tempat terdapatnya garam. Demikian pula halnya di Sumatra dan Kepulauan Riau. Di Sulawesi dan Papua, batuan tua telah berubah menjadi batuan metamorfosa, sehingga tidak memungkinkan terdapatnya garam.

Walaupun batuan di Indonesia relatif muda, namun terdapat tanda-tanda kandungan garam pada batuan yang berumur Miosen atau lebih kurang 20 sampai 30 juta tahun yang lalu. Gunung lumpur yang menyebar mulai dari Grobogan sampai Madura, mengandung garam dalam kadar yang bervariasi antara 7,5 sampai 17 gram per liter. Lumpur Sidoarjo mengandung garam sebanyak 18 sampai 26 gram per liter. Di Ciuyah Kuningan Jawa Barat kadar garam mencapai 20 gram per liter. Beberapa cekungan minyak bumi di Indonesia juga mengeluarkan rembesan lumpur yang mengandung garam.

Melihat kadar garam yang relatif rendah dibandingkan dengan kandungan garam air laut sebesar 35 gram per liter, maka penambangan garam di zona gunung lumpur tersebut tidaklah ekonomis. Selain itu, posisi garam terjebak di dalam lumpur. Berdasarkan hal tersebut diperkirakan produksi garam Indonesia akan sangat bergantung kepada pembuatan melalui penguapan air laut. Selat Madura sangat potensial, karena diperkirakan terdapat rembesan larutan garam pada dasar selat tersebut sebagai kelanjutan dari gunung lumpur yang berderet dari Bledug Kuwu di Grobogan sampai Sidoarjo di Kabupaten Sidoarjo. Zona ini merupakan zona tertekan atau elisional yang menyebabkan terbentuknya diapir, rembesan lumpur bergaram dan gunung lumpur.***