Angkutan Udara Pemudik Lebaran

Totok Siswantara

Pengkaji transformasi teknologi dan infrastruktur

PERLU persiapan prima dan kewaspadaan terhadap angkutan udara bagi pemudik Lebaran. Kini angkutan udara menjadi primadona bagi pemudik karena nyaman dan terhindar dari kemacetan di jalan raya. Namun demikian angkutan udara masih mengandung kerawanan. Mulai dari kesiapan pesawat terbang, terbatasnya SDM penerbangan hingga ancaman terorisme. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan ada peningkatan penumpang pada Idulfitri 1438 Hijriah. Moda angkutan udara menjadi unggulan pemudik tahun Ini. Jumlah penumpang pesawat pada masa angkutan Lebaran 2017 di seluruh bandara PT Angkasa Pura II (Persero) diprediksi mencapai 6,90 juta penumpang. Pada arus mudik tahun ini atau H-10 hingga H-1, diperkirakan jumlah penumpang mencapai 3,45 juta penumpang.

Bandara merupakan infrastruktur yang strategis bagi pemudik Lebaran. Sayangnya sejumlah bandara masih mengandung masalah krusial yang bisa berakibat fatal.
Berbagai proyek ekspansi dan renovasi yang dilakukan oleh PT Angkasa Pura terhadap beberapa bandara hasilnya akan terlihat dalam pelayanan pemudik Lebaran kali ini. Masih ada kondisi bandara yang dikepung rapat oleh pemukiman penduduk dan dikelilingi oleh gedung bertingkat. Hal itu tentunya merupakan masalah serius bagi penerbangan.

Masalah lainnya adalah pengembangan apron bandara. Masih ada beberapa bandara yang kondisi area apron sempit sehingga jarak antar wingtip tidak sesuai standar regulasi dan posisi parkir pesawat nose out sehingga mendekati strip runway. Pembangunan terminal baru sudah mendesak karena daya tampungnya sudah tidak sebanding dengan pertumbuhan penumpang. Hal itu karena pesatnya maskapai berbiaya murah (low cost carrier / LCC ) dikawasan Asia Pasifik dan Indonesia.
Langkah PT Angkasa Pura untuk mengembangkan terminal dan apron di beberapa bandara masih terkendala oleh berbagai aspek. Terkait dengan masalah yang berpotensi mengundang bahaya transportasi udara, perlu audit kinerja bandara. Dibutuhkan sistem organisasi pengelola bandara yang andal danĀ  didukung SDM berkompotensi tinggi yang mampu mengimplementasikan berbagai regulasi penerbangan.

Salah satu kerawanan yang harus diantisipasi secara serius dalam melayani pemudik Lebaran adalah masalah beban kerja pilot dan awak pesawat. Kondisi bisnis transportasi udara yang mengalami pertumbuhan pesat dewasa ini mendorong perusahaan penerbangan menggenjot produktivitas sebesar-besarnya tetapi kurang memperhatikan postur dan rasio tenaga kerja profesional terutama bagi pilot, kopilot dan teknisi. Akibatnya keselamatan penerbangan tergerus oleh beban kerja pilot yang kurang proporsional.
Kekurangan pilot dan teknisi merupakan masalah signifikan dalam kondisi maskapai penerbangan yang sedang jor-joran untuk menambah jumlah armadanya. Pihak Federasi Pilot Indonesia acap kali mengeluh terkait pilot yang terpaksa melanggar batas maksimal jam terbang yang ditetapkan Kementerian Perhubungan. Sebagai catatan, batas maksimal jam terbang pilot adalah 30 jam per minggu, 110 jam per bulan, dan 1.050 jam per tahun. Namun, faktanya banyak pilot yang melanggar ketentuan ini.

Fatal
Langkah untuk menggenjot produktivitas SDM penerbangan dengan cara melebihi beban kerja alami bisa berakibat fatal. Profesi pilot berisiko tinggi dengan tanggung jawab yang amat besar karena menyangkut keselamatan banyak orang. Oleh sebab itu faktor kesamaptaan menyeluruh atau total fitness merupakan syarat wajib bagi pilot yang akan menjalankan tugasnya.
Meskipun Indonesia tengah mengalami kekurangan pilot, namun pemerintah mesti memperketat persyaratan pilot pesawat komersil. Utamanya dengan mencegah adanya pilot karbitan yang beroperasi di beberapa maskapai penerbangan domestik. Definisi pilot karbitan mencuat sehubungan dengan beberapa kasus kopilot yang belum layak menjadi pilot namun dipaksakan menjadi pilot. Hal ini terjadi akibat tingginya persaingan antarmaskapai.

Masalah lain angkutan udara bagi pemudik Lebaran yang perlu diperhatikan adalah penerbangan komuter atau perintis yang melayani daerah terpencil. Pengoperasian pesawat komuter yang beroperasi di bandara perintis sangat rentan dengan rintangan alam. Kondisinya makin rawan karena mahalnya suku cadang impor dan biaya perawatan rutin pesawat.
Pengertian bandar udara perintis adalah bandara yang melayani jejaring dan rute penerbangan untuk menghubungkan daerah terpencil atau daerah yang belum terlayani oleh moda transportasi lain dan yang secara komersial belum menguntungkan. Secanggih apapun pesawat masih harus menghindari rintangan alam yang berat seperti awan Cumulonimbus, sekelompok burung yang sedang terbang hingga kondisi bandara yang acap kali diterobos binatang ternak atau binatang liar.

Bandara perintis berperan merangsang pertumbuhan ekonomi, menunjang pembangunan dan mengembangkan pariwisata daerah. Hingga kini bandara perintis masih mengandung bermacam kerawanan. Seperti kondisi runway atau landas pacu bandara yang sering dilalui oleh hewan ternak, dijadikan area bermain sepakbola oleh warga sekitar, sebagai jalan pintas oleh warga sekitar serta dijadikan tempat anak-anak bermain layang-layang. Tentunya hal itu mengganggu keselamatan penerbangan. Banyak masyarakat yang masih menganggap bandara perintis hanya bandara kecil biasa yang dilalui oleh pesawat kecil, mereka tidak mengetahui sepenuhnya tentang peran bandara perintis ini.
Mestinya kondisi seluruh bandara perintis harus memenuhi prosedur keamanan bandara seperti Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP). Fasilitas bandara perintis hingga kini ada yang belum memenuhi standar. Misalnya kondisi runway yang tidak beraspal, terminal, ruang tunggu, gudang, kantor, peralatan pemadam kebakaran, alat komunikasi dan juga tenaga ahli yang belum disiapkan.

Kondisi pesawat komuter yang dipakai untuk penerbangan perintis juga masih sarat dengan masaalah. Jumlah pesawat dan SDM penerbangan yang mendukung penerbangan perintis masih kurang. Pesawat komuter kebanyakan bekas pakai atau sewa dari luar negeri.
Mestinya pemerintah jangan terlalu fokus terhadap bandara besar dan pesawat besar yang mengambil rute yang gemuk. Akibatnya kurang perhatian terhadap rute penerbangan perintis yang secara ekonomi kurang menguntungkan. Kondisinya bertambah rawan karena penerbangan perintis kekurangan SDM penerbangan yang berkompetensi baik.
Kekurangan pilot dan teknisi merupakan masalah laten penerbangan perintis. Hal itu sangat ironis di tengah kondisi maskapai penerbangan besar yang sedang jor-joran untuk menambah jumlah pesawat canggih berbadan lebar.***