Perubahan Sistem Perkuliahan

C. W Watson, Professor

School of Business and Management, ITB Emeritus Professor, School of Anthropology, University of Kent, UK

SEKALI lagi Singapura, menurut laporan PISA – badan internasional yang tiap tahun mengukur ketercapaian siswa di seluruh dunia -  telah membuktikan keunggulan dalam penyelenggaraan sistem pendidikan negara. Tentu kita semua mengangkat tangan pada Singapore dan kemudian bertanya pada diri kita sendiri, bagaimana dapat kita belajar dari keberhasilan negara tetangga kita? Dalam rangka ini sangat menarik membaca pernyataan Menteri Pendidikan Singapore yang tanpa ragu-ragu menyebut bahwa kunci sukses ialah kemampuan para guru. Bukan fasilitas, kurikulum, jam ajaran, tetapi sistem pendampingan siswa.

Akan tetapi sementara kita memikirkan cara bagaimana meniru contoh teladan Singapura dalam meningkatkan mutu dan kompetensi guru, semestinya kita jangan lupa pentingnya meningkatkan kompetensi guru dari guru, yaitu guru besar dan dosen. Di Indonesia kini ada kecenderungan di dunia perguruan tinggi yang menurut pandangan saya kurang sehat, yaitu perlombaan menjadi world class university  bareng dengan pra-anggapan bahwa satu-satunya usaha untuk mencapai sasaran ini ialah lewat penambahan jumlah publikas di jurnal internasional. Usaha ini sangat dipacukan, sampai di beberapa PT kita mendapati bahwa dosen diberi perangsang cukup tinggi untuk menulis: $1000.00 AS lebih per artikel terbit. Sebenarya memberi ganjaran, imbalan tinggi, kepada dosen yang banyak menulis sudah diturut bertahun-tahun di AS. Akan tetapi tindakan ini melahirkan banyak masalah. Sebagaimana dilaporkan belakangan ini di  artikel BBC yang berjudul Shouldn’t Lectures be Obsolete by Now? (‘Kan Kuliah Sekarang Sudah Kedaluwarsa?) (http://www.bbc.com/news/business-38058477), orang sekarang sadar bahwa imbasnya kebijakan ini pada sistem pengajaran dan pembimbingan mahasiswa di PT sangat fatal. Mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di PT  di mana penulisan diutamakan selalu menjadi korban sistem ini. Sebabnya ialah karena para dosen begitu sibuk berlomba-loba menulis sehingga kewajiban mereka  mengajar mahasiswa dianaktirikan.

Ambilah contoh pemberian kuliah, umpamanya, kata laporan BBC. Sudah lama orang ahli pendidikan sadar bahwa sistem yang dipakai sekarang yang turun-temurun dari ratusan tahun dulu, tidak sesuai untuk zaman sekarang, tidak ‘fit for the purpose’, tidak  sesuai lagi untuk mencapai tujuannya. Dijelaskan berkali-kali kelemahan sistem perkuliahan di mana mahasiswa menjadi pelajar pasif dan lekas lupa apa yang mereka dengar.

 

Indonesia kini

Bagaimana di Indonesia sekarang? Ternyata kesadaran atas kelemahan sistem pemberian kuliah belum masuk ke PT di sini. Dari pengamatan sepintas lalu  dan dari cerita mahasiswa di beberapa PT, jelaslah bahwa sistem pemberian kuliah di Indonesia kini sangat membosankan. Apalagi sejak adanya power-point. Dalam ruang kuliah mahasiswa disuruh oleh dosen membaca slide power-point yang isinya sering disalin dari buku teks. Mahasiswa ditanya, “Mengerti, tidak?” Dan kalau tidak ada yang bertanya, slide berikut ditayangkan. Tidak heran lagi kalau dalam keadaan begitu mahasiswa sangat frustrasi, apa lagi karena berbeda dari rekannya di AS dan UK, mereka diwajibkan hadir kuliah. Selanjutnya, mereka malas memperhatikan isi kuliah; lebih suka main dengan gawainya, ngobrol dengan teman, memakai hp, atau sebentar-sebentar keluar dari kelas. Semua kebiasaan ini dianggap lumrah oleh sebagian dosen dan guru besar yang mungkin tidak sadar bahwa adanya banyak kemungkinan lain yang jauh lebih ampuh untuk menyampaikan materi pelajaran. Bagi mereka, sistem kuno, serta  kefanatikan menggunakan power-point, ialah cara tunggal memberi kuliah, dan bagi mereka sangat efisien, karena asal mereka siapkan slide, tugasnya dapat dikerjakan dengan gampang. Habis kuliah mereka pulang atau kembali ke kantornya. Tugas berat, menghadapi 40 mahasiswa yang masih bingung yang berkumpul dalam kelas tutorial, diserahkan ke asisten saja. Untuk lulus mata kuliah asal mahasiswa menghafal buku teks dan mengerjakan tugas kuliah, sudah cukup. Tidak ada usaha sedikit pun untuk mengasah daya berpikir mahasiswa supaya mereka boleh bersikap kritis, berupaya kreatif dan bersedia mandiri.

Dalam pembahasan yang sering kita baca di koran mengenai upaya meningkatkan keterampilan guru sekolah sudah banyak yang dianjurkan, terutama dalam pemberian pelatihan yang sesuai demi tugasnya. Tetapi, heran, bagi dosen tidak ada pelatihan sama sekali, tidak ada petunjuk atau kursus tentang bagaimana menjadi dosen yang baik. Padahal syarat mengikuti kursus latihan berbulan-bulan seperti itu sekarang sudah wajib di dunia PT internasional untuk calon yang mau ditetapkan sebagai dosen.

Memang mengubah sistem PT di Indonesia sangat susah, karena banyak kendala birokrasi yang perlu diatasi, terutama tidak adanya otonomi PT sehingga peraturan dari Kemendikti terlalu mengikat. Akan tetapi, walaupun terbatas,  banyak juga yang dapat dikerjakan, asal ada kemauan.  Umpamanya, berilah pelatihan dan  sistem mentoring pada dosen baru supaya mereka diperkenalkan ke bermacam-macam sistem pengajaran; buatlah percobaan-percobaan supaya kuliah menjadi interaktif – dua arah – dan, akhirnya dan ini paling penting menurut pendapat saya, tanamlah keinsafan baik pada dosen maupun pada mahasiswa bahwa sumber pengetahuan ialah isi buku dan artikel mutakhir yang ditulis oleh cendekiawan dunia. Kemudian tugas seorang pengajar ialah membantu mahasiswa menguasai tulisan tersebut dan memantau apakah mahasiswa, bukan saja mengerti pengetahuan mutakhir ini, tetapi dapat menerapkannya dalam memecahkan persoalan baru.

Semuanya tergantung pada kemauan. Dan kemauan itulah yang masih kurang. Terlalu banyak alasan untuk menghalangi pembaharuan dalam sistem pengajaran. Sistem sekarang terlalu enak dan nyaman bagi dosen-dosen senior.  Kementerian sendiri kelihatan tidak mengutamakan sistem pengajaran. Obsesi mendorong orang untuk menulis di jurnal internasional mengataskan segala sesuatu dengan tujuan mengejar fatamorgana, yaitu masuk 100 besar dalam world class university.  Sudah waktunya dunia PT dan Kemenristekdikti mengubah arah setirnya. Jangan lagi tridharma ditafsirkan hanya menyangkut riset, jangan lagi pengajaran dianaktirikan. Nasib bangsa Indonesia dalam segala hal sangat tergantung pada adanya rakyat yang diberi peluang selayaknya  supaya menjadi terpelajar, mampu mandiri, dan pandai memakai pertimbangan kritis dan sehat.***