Kongres PSSI Harus Jadi Tonggak Pembinaan Sepak Bola

Sumaryoto Padmodiningrat

Mantan Ketua I PSSI, Pencetus Kompetisi Liga Indonesia Penggabungan Kesebelasan Divisi Utama Perserikatan (16 klub) dengan Kesebelasan Galatama (17 klub) menjadi KLI, dan mantan anggota DPR RI 1999-2014.

BRAVO PSSI! Selamat ber-Kongres Tahunan I, 7-9 Januari 2017 di Bandung, semoga sukses dan melahirkan keputusan-keputusan strategis demi kemajuan PSSI dan persepak bolaan nasional ke depan.

Sebagai orang yang cukup lama berkecimpung di PSSI, dan oleh karena itu sepak bola telah mendarah daging dalam diri penulis, maka kurang afdhol rasanya bila tidak menyumbangkan pemikiran, meskipun sekelumit, demi kemajuan PSSI dan persepak bolaan nasional, khususnya mengenai "Pola Pembinaan Sepak Bola Indonesia (PPSI)."

Pembinaan sepak bola dimaksudkan sebagai pembinaan pemain untuk persiapan pembentukan tim nasional segala umur. Sarana dan prasarana yang dimiliki Indonesia sudah cukup lengkap, antara lain klub sepak bola, pemain, lapangan, pendidikan pelatih, pendidikan wasit dan pengawas pertandingan, termasuk satu sarana yang harus ada, yakni pertandingan.

Namun, tidak semua pertandingan bisa melahirkan pemain tangguh. Hanya pertandingan kompetisilah yang dapat melahirkan pemain sepak bola yang sempurna. Dalam konteks ini harus ada 2 jenis kompetisi, yakni kompetisi antarklub dengan pemain amatir, dan untuk pemain nonamatir. Pemain amatir adalah seorang pemain yang bermain sepak bola semata karena hobi, sedangkan pemain non-amatir adalah seseorang pemain yang menjadikan sepak bola sebagai mata pencaharian dan mereka menggantungkan hidupnya dari bermain sepak bola.

Kompetisi Pemain Amatir (Kompetisi Liga Nusantara)
Kompetisi ini diadakan khusus untuk pemain amatir. Klub dengan nama kota/kabupaten seluruh Indonesia untuk berbagai kelompok umur. Kompetisi pemain amatir perlu terobosan baru, yaitu cabang-cabang PSSI membentuk klub sepak bola amatir dengan nama kota/kabupaten tempat home base, misalnya PS Jakarta Pusat, PS Jakarta Selatan, PS Bengkulu, PS Solo, PS Semarang, PS Bandung, PS Surabaya, dll. Bukan klub perserikatannya, karena klub perserikatan sudah tergabung di Kompetisi Liga Indonesia (KLI) dengan pemain nonamatir.

Jumlah Peserta Kompetisi
Kompetisi khusus untuk klub sepak bola dengan pemain amatir berjumlah 400-500 kota/kabupaten seluruh Indonesia.

Sistem Kompetisi
Seluruh wilayah Indonesia (400-500 klub kota/kabupaten) dibagi 3 wilayah, sesuai pembagian waktu, yaitu Indonesia Barat (IB), Indonesia Tengah (ITA) dan Indonesia Timur (IT). Setiap wiayah terdiri dari 100-150 klub kota/kabupaten.

Di wilayah-wilayah dibagi menjadi pool-pool lagi yang lebih kecil. Pertandingan setiap kompetisi di tingkat bawah sampai menghasilkan 4 kesebelasan/klub di setiap wilayah seluruh Indonesia atau 12 klub kota/kabupaten masuk ke babak final yang diselenggarakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).

Kompetisi-kompetisi dengan pemain amatir bisa dibiayai dengan APBD/APBN, dan ini tidak melanggar UU No. 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional. Kompetisi ini dimulai dari tingkat kecamatan, dengan memperebutkan Piala Wali Kota/Bupati. Di tingkat provinsi memperebutkan Piala Gubernur. Di tingkat nasional atau babak final (12 klub kota/kabupaten) diadakan di SUGBK dengan memperebutkan Piala Kemendagri atau Kementerian lain sesuai kelompok umur atau jenis kompetisi, misalnya, kelompok umur ≤ 12 tahun dengan Piala Kemendikbud; kelompok umur ≤ 15 tahun dengan Piala Kemendagri; kelompok umur ≤ 17 tahun dengan Piala Kemenpora; kelompok umur ≤ 19 tahun dengan Piala Suratin (Pendiri PSSI); dan kelompok umur bebas memperebutkan Piala Presiden atau "Road to Senayan".

Di samping Kompetisi Liga Amatir (KLA) dengan 5 tingkatan tersebut, juga perlu dilakukan pertandingan kejuaraan nasional antara lain antarinstansi dan perusahaan; antarmahasiswa; dan antarkesebelasan atau Piala Kemerdekaan, seperti yang pernah dilakukan PSSI pada masa lalu.

Kompetisi Liga Indonesia
Kompetisi untuk pemain nonamatir atau Liga Indonesia yang merupakan penggabungan Kesebelasan Perserikatan (16 klub) dengan Klub Galatama (17 klub) yang sejak 1994 telah terbentuk, yakni Liga Super Indonesia (SLI), Divisi Utama Liga Indonesia, Divisi I Liga Indonesia, Divisi II Liga Indonesia, dan sisanya menjadi Divisi III Liga Indonesia.
 
Bagi kota/kabupaten yang tidak mengikuti KLI, bisa membentuk kesebelasan/klub kota/kabupaten dengan mengikuti kompetisi "Road to Senayan" atau Piala Presiden. Khusus untuk pertandingan KLI setiap tingkat secara otomatis dilakukan sistem promosi dan degradasi. Kompetisi Liga Indonesia di berbagai tingkat dapat menggunakan sponsor produk tertentu.
 
Perpindahan Pemain
Berubahnya pemain amatir menjadi nonamatir melalui proses alih status yang disahkan PSSI. Sebaliknya apabila pemain nonamatir akan kembali lagi menjadi pemain amatir, perlu proses alih status juga.***