Hal Kotor di Sepak Bola Indonesia: Liga Settingan, Pengaturan Skor dan Bobroknya Federasi

Sepak bola/DOK. PR

AKHIR-akhir ini sepak bola Indonesia kembali dibuat gaduh dengan terbongkarnya kasus pengaturan skor atau match fixing. Isu yang kental dengan hal-hal kotor dan membuat sepak bola kehilangan unsur sportifitasnya tersebut menjadi perbincangan khalayak sepak bola usai mantan runner pengaturan skor yang bisa disebut sebagai perantara, Bambang Suryo membeberkan betapa kotornya hal-hal yang terjadi diluar lapangan sepak bola Indonesia.

Dalam acara Mata Najwa di Trans 7 belum lama ini, Bambang Suryo mengatakan Vigit Waluyo menjadi salah satu dalang pengaturan skor di tanah air. Mencuatnya nama Vigit Waluyo ke pemukaan yang santer dikabarkan sebagai salah satu dalang dibalik kasus-kasus pengaturan skor menghadirkan fakta bahwa sepak bola Indonesia tengah sakit dan tidak baik-baik saja.

Masalah pengaturan skor di sepak bola Indonesia bukanlah hal baru dalam kompetisi di negeri kita. Publik tentu ingat dengan sepak bola gajah antara PSIS Semarang vs PSS Sleman pada Oktober 2014 yang lalu dalam pertandingan Liga 2.

Saat itu para pemain kedua tim melakukan gol bunuh diri ke gawangnya masing-masing dengan total 5 gol. Sontak saja hal tersebut menjadi perhatian, bahkan mencuat ke media-media luar negeri.

Jauh sebelum tahun 2014, isu pengaturan skor sebenarnya sudah marak terjadi. Hal tersebut dibeberkan oleh salahsatu mantan pemain Tim Nasional Indonesia Rochy Putiray. Saat dia masih aktif sebagai pemain, Rochy Putiray mengaku bahwa pengaturan skor pernah dia alami dan pernah ditawari untuk melakukannya.

“Dari masih bermain juga sudah ada, pada saat bermain mengalamin ditawarin juga. Sebenarnya bukan hal baru, dimana kita juga tahu bahwa federasi kita memang harus dibenahi, bukan pelatihnya, bukan pemainnya. Kalau federasinya tegas, otomatis manajemen klub, pelatih dan pemain sudah bisa dibikin ke jalur yang bener,” kata dia dalam acara Pangeran, Mingguan yang diunggah oleh akun youtube Asumsi pada Minggu 2 Desember 2018.

Mantan pemain Persija Jakarta dan PSM Makassar tersebut bahkan menilai bahwa kompetisi tertinggi sepak bola Indonesia Liga 1 telah diatur siapa yang akan keluar sebagai juara. Dia mengatakan bahwa sudah jarang menonton sepak bola Indonesia karena sudah ketahuan siapa yang akan menang dan akan keluar sebagai juara.

“Sudah ga pernah nonton bola, ngapain buang-buang waktu, tau-tau siapa juga yang menang,” tuturnya.

Liga settingan

Dalam kesempatan tersebut, Rochy yang saat ini sudah gantung sepatu tidak memungkiri bahwa kompetisi Liga 1 adalah liga settingan. Dia bisa memprediksi bahwa pada akhirnya Persija Jakarta yang saat ini tengah memuncaki klasemen sementara Liga 1 akan keluar sebagai juara Liga 1 musim 2018.

“Yaiyalah (settingan), sekarang siapa yang mau taruhan sama saya kalo tahun ini Persija yang menjadi juara. Kita sudah tahu siapa yang jadi juara, pasti Persija,” ujarnya.

Dia bahkan menyebut bahwa pada pertengahan musim Liga 1 Persib Bandung adalah tim yang paling punya kans atau peluang untuk juara paling besar. Sebab Persib Bandung merupakan juara paruh musim dan unggul jauh atas lawan-lawannya hingga pekan ke-23. Namun seiring berjalannya Liga 1, Rochy mengatakan bahwa Persib Bandung terus digembosi sehingga keadaannya seperti sekarang.

“Sudah lihat dong, seharusnya Persib itu punya poin punya kans untuk juara musim ini. Tapi dari awal digembosin terus kok,” katanya.

Hal yang diutarakan oleh Rochy Putiray memang tidak bisa dipungkiri kebenarannya, Persib Bandung masih unggul 6 poin dari PSM Makassar hingga pekan ke-23. Namun keadaan berubah drastis usai pekan ke-23 antara Persib Bandung vs Persija Jakarta yang digelar pada 23 September 2018.

Dalam kemenangan yang diraih oleh Maung Bandung dengan skor akhir 3-2 tersebut, euforia kemanangan langsung buyar, hal tersebut lantaran adanya supporter Persija Jakarta yang meninggal akbiat dikeroyok oleh puluhan oknum bobotoh sesaat sebelum digelarnya duel panas tersebut diluar area stadion Gelora Bandung Lautan Api.

Kejadian nahas tersebut berimbas pada jalannya Liga1, kompetisi sempat dihentikan sementara selama hampir dua pekan lamanya. Hal-hal yang disebutkan oleh Rochy Putiray memang benar adanya.

Persib Bandung digembosi

Persib Bandung mulai digembosi dengan berbagai sanksi yang diberikan, sanksi larangan bertanding di kandang dan diusir keluar pulau jawa, dilarangnya pendukung Persib Bandung hadir di stadion, denda uang, bahkan beberapa pemain yang menjadi bagian inti Persib Bandung juga tidak terlepas dari sanksi PSSI sebagai induk tertinggi sepak bola Indonesia.

Namun perlu digaris bawahi, kasus meninggalnya kembali supporter tidak bisa dibiarkan dan memang harus ditindak dengan tegas. Tapi karena Persib Bandung tengah berada dalam perburuan gelar juara dan menjadi kandidat kuat, sanksi-sanksi tersebut dianggap sebagai upaya untuk menjegal laju Persib Bandung untuk menjadi juara.

Benar saja, sejak memasuki pekan ke-24 Persib Bandung benar-benar dalam keterpurukan. Hingga pekan ke-33 Liga 1, Persib Bandung yang sebelumnya tampil superior justru tampil loyo dan gagal menuai kemenangan dan poin-poin krusial. Dari 10 laga yang telah dijalani, Persib Bandung hanya mampu meraih 1 kemanangan menghadapi Bhayangkara Fc, sementara 5 pertandingan berakhir dengan kekalahan dan 4 kali imbang.

Padahal sejak awal musim hingga pekan ke-23, Persib Bandung berhasil menjadi tim yang kuat dengan memenangkan pertandingan sebanyak 13 kali, 5 kali imbang dan 5 kali kalah. Unggul 6 angka dari pesaing terdekatnya saat itu PSM Makassar. Tetapi saat ini kondisi terbalik, Persib Bandung tertinggal 8 poin dari Persija Jakarta dan telah dipastikan gagal menjadi juara.

Buat jera federasi

Terkait motif yang dilakukan oleh orang-orang dalam hal ini pemain yang terlibat dalam pengaturan skor, Rochy Putiray mengatakan bahwa beragam. Hal tersebut mulai dari iming-iming klub yang dibela ataupun kedekatan pemain dengan para manajemen klub.

“Ya mungkin jaminan dari klub bahwa dia akan dikontrak lagi, mungkin kedekatan dia dengan pengurus, jadi itu yang masih menjadi ketakutan pemain,” ujar dia.

Rochy Putiray mengaku sudah jengah dengan hal-hal kotor yang terjadi dalam sepak bola Indonesia. Dia menilai federasi yang harus dibenahi pertama dan paling utama, namun menurut dia untuk merubah dan “mengkudeta” satu federasi tidaklah mudah. Dia meminta para supporter Indonesia untuk bersatu dan membuat jera federasi.

Salahsatu hal yang disarankan oleh Rochy Putiray adalah agar para penonton tidak menyaksikan Liga, dari kasta terendah hingga yang tertinggi. Karena federasi pasti butuh pemasukan untuk menghidupi Liga tersebut.

“Untuk kudeta satu organisasi enggak mudah, tapi kalau saya mau ngasih saran ke penonton. Toh kalau mereka gak nonton liga Indonesia juga gak mati kok, jadi liga ga pernah nonton, walaupun itu tim kesayangan yang bermain, pasti federasi jera karena butuh pemasukan,” ujarnya.***

You voted 'terinspirasi'.

Baca Juga