Buntut Tuduhan Pengaturan Skor, Hidayat Mundur dari Exco PSSI

Bandung Melawan/ARMIN ABDUL JABBAR/PR
RIBUAN bobotoh melakukan aksi unjuk rasa "Bandung Melawan" di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu, 13 Oktober 2018. Dalam aksinya mereka menuntut keadilan atas sanksi yang diberikan oleh PSSI kepada Persib Bandung.*

JAKARTA, (PR).- Anggota Komite Eksekutif PSSI, Hidayat yang diduga terlibat pengaturan skor dalam kompetisi sepak bola profesional Indonesia mengundurkan diri dari jabatannya, Senin 3 Desember 2018. Di hadapan media sembari ditemani oleh Direktur Media PSSI Gatot Widakdo, di Hotel Sultan, Jakarta, dia mengumumkan pengunduran dirinya.

Langkah mundur ini, menurutnya merupakan bentuk pertanggungjawabannya kepada PSSI, pecinta sepak bola Indonesia, serta guna menjaga ketenangan di lingkungan luar sepak bola. Dirinya menyadari apa yang dilakukannya lima bulan lalu, memfasilitasi keinginan untuk bersepakat, seharusnya tidak boleh dilakukan oleh anggota Exco. 

"Saya sekali lagi menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia, pecinta sepak bola, dan pengelola klub atau pun yang terlibat dalam kegiatan sepakbola karena kegaduhan yang terjadi. Saya secara prinsip menyadari apa yang saya lakukan harusnya tidak boleh sebagai anggota exco. Memfasilitasi keinginan untuk bersepakat. Harusnya saya melarang, atau minimal saya tidak gubris telepon itu," ujarnya. 

Setelah merenung dan secara spontan meminta Komisi Disiplin untuk memeriksanya serta menyidangnya. Maka dia pun memutuskan untuk mundur lebih cepat dari exco PSSI. Berbeda dari pernyataannya sebelumnya yang mengatakan bahwa dia akan mundur bila mana diputus bersalah oleh Komdis. 

"Ini niatan baik saya menjawab apa yang dituduhkan kepada saya sebagai pelaku pengaturan skor. Saya merenung dan setelah melihat proses ada fakta yang saya pahami. Saya pikir saya tidak perlu menunggu putusan untuk mundur. Sebab ini berdampak pada beban PSSI dan berikutnya jadi beban siapapun yang terkait dengan saya, termasuk ketenangan keluarga saya dan rekan-rekan seprofesi saya. Saya pun minta proses tetap jalan. Daya tidak akan menggunakan status saya sebagai exco, tapi saya sebagai Hidayat," katanya.

Hingga jumpa pers ini berlangsung, Hidayat menegaskan bahwa dirinya belum menerima hasil keputusan Komdis. Meski dari pertanyaan wartawan, terkuak bahwa sebenarnya Komdis sudah mengeluarkan keputusannya untuk Hidayat. Seperti yang diutarakan salah satu anggota Komdis, Umar Husein kepada salah satu media, bahwa Hidayat telah dinyatakan bersalah. Dia disanksi dua tahun tidak boleh berkecimpung dalam sepakbola dan didenda beberapa ratus juta.

"Saya tegaskan lagi, bila sampai detik ini saya belum menerima putusan Komdis. Jadi tidak benar kalau persepsi saya mundur karena bersalah. Secara ego saya merasa tidak bersalah. Bahwa saya tidak melindungi siapapun dan tidak sedikit pun memberikan ruang, tidak menawar maupun mengancam. Kalau saya bersembunyi, tentu saya tidak perlu bicara hari ini. Niatan awal saya sebagai exco adalah untuk memperbaiki sepakbola Indonesia," tegasnya. 

Terkait dengan kerjasama dengan pihak Komdis untuk menjadi pembisik (justice collaborator), membuka siapa saja yang bermain sebagai mafia, Hidayat secara tegas kembali mengatakan bahwa semua hal yang diketahuinya telah dilaporkannya kepada Komdis. 

"Semua sudah saya buka di Komdis. Saya jawab apa yang saya alami dan saya lakukan. Bahwa Peristiwa itu terjadi 5 bulan lalu, satu-satunya yang terjadi ya hanya hal itu (menerima telepon PSS) dan itu proses alami. Bukan inisiatif saya, dan saya tidak pernah melakukan komunikasi dengan siapapun lagi berkaitan dengan pertandingan kompetisi Liga 2 dan Liga 1. Saya bilang silakan dilacak saya termasuk ke dalam mafia kompetisi atau tidak. Ini kecelakaan," ujarnya. 

Apa yang dialaminya ini, menurut Hidayat semoga bisa menjadi pelajaran bagi semua pihak dan tidak memperkeruh persepakbolaan Indonesia. 

Seperti yang diketahui Manajer Madura FC, Januar Herwanto dalam salah satu acara televisi secara langsung mengatakan bahwa Hidayat pernah meneleponnya dan menawarkan sejumlah uang dengan meminta Madura FC memberikan kemenangan kepada PSS Sleman, pada pertandingan Liga 2, Mei lalu. Hidayat sendiri tidak menampik bahwa dia meneruskan tawaran dari salah satu manajemen PSS yang menghubunginya, kepada pihak Madura FC. Meski kemudian tidak ada kesepakatan, hanya saja kasus tersebut dinilai Madura FC sebagai salah satu pengaturan skor. ***

Baca Juga

Komdis PSSI Jatuhkan Sanksi Ringan untuk Hidayat

JAKARTA, (PR).- Komisi Disiplin secara resmi telah mengeluarkan putusannya atas kasus indikasi pengaturan skor yang dilakukan mantan anggota Komite Eksekutif PSSI, Hidayat.