Sudah Hari ke-10, Asian Games 2018 Masih Dihantui Masalah

Maskot Asian Games 2018/ANTARA
TIGA orang penari bersama tiga maskot Asian Games 2018, Bin-Bin, Atung, dan Kaka menyemarakkan suasana di sela pertandingan regu putra sepak takraw di GOR Ranau, Jakabaring Sport City (JSC), Palembang, Sumatera Selatan, Senin, 27 Agustus 2018.*

JAKARTA, (PR).- Sudah masuk hari pelaksanaan ke-10, Asian Games 2018 ternyata masih dihantui masalah. Masalah muncul dari hasil laporan pertemuan Komandan Kontingen (CdM) yang digelar setiap pagi di Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta.

Hal itu diungkapkan oleh Deputy I Panitia Pelaksana Asian Games 2018 (Inasgoc) Games Operation, Harry Warganegara kepada wartawan di Main Press Center (MPC) Asian Games 2018, JCC Senayan, Senin, 27 Agustus 2018. Keluhan yang masih muncul dalam pertemuan Komandan Kontingen tersebut adalah masalah konsumsi dan transportasi.

"Hari ini (kemarin pagi -Red.) kita ada CdM meeting di Wisma Atlet, beberapa masalah disampaikan, terutama soal konsumsi dan transportasi. Kita masih ada 2 kali CdM meeting lagi untuk membahasnya. Soal transportasi yang dikeluhkan adalah mekanisme sistemnya, sementara untuk konsumsi soal jam operasional tempat makan dan variasi makanan," katanya.

Terkait tranpostasi, menurut dia, karena pihaknya berkerja sama dengan Kemenhub, maka fasilitas transportasi untuk atlet hanya berlaku hingga pukul 22.00 WIB. Padahal, bila habis pertandingan malam ada atlet yang harus menjalani test doping, maka baru rampung sampai pukul 22.00 atau bahkan 22.30 WIB. Untuk kembali ke Wisma Atlet, sudah tidak ada transportasi lagi. 

"Itu yang perlu jadi catatan kami. Terutama untuk komunikasi dengan di bawahnya (garda terdepan yang berhubungan dengan transportasi), itu yang perlu kami selesaikan secepatnya. Jadi hanya masalah komunikasi saja sebenarnya," ucapnya.

Sebenarnya, menurut Harry, tidak ada larangan spesifik untuk menggunakan sarana transportasi lain di luar jadwal resmi. Hanya saja pihaknya mengantisipasi kejadian buruk yang bisa menimpa para atlet atau official tim.

"Kami tidak bisa melarang, tapi ada beberapa kasus dimana mereka mengaku dikerjai supir taksi, diminta untuk bayar 10x lipat. Sayangnya kita tidak bisa menindaklanjutinya, karena mereka tidak mencatat nomor taksinya hingga kami tidak bisa menginvestigasi lebih jauh. Kami hanya bisa merekomendasikan untuk menggunakan oficial transportasi umum yang sudah berkerjasama dengan kami. Karena itu lebih aman, sebab ada rekam jejaknya jadi risikonya lebih terjaga," tuturnya.

Bosan menu makanan

Sementara itu pada kendala makanan, setelah lewat dari sepekan Asian Games 2018 para atlet rata-rata bosan dengan menu yang sama, meskipun variasinya banyak. Mereka mulai jajan ke warung di luar Wisma Atlet. 

"Kami kan larang tidak boleh, karena takutnya kalau ada apa-apa kami yang disalahkan. Di Tower 1 sebenarnya ada kafe tapi hanya diperuntukan bagi panitia. Mereka ingin bisa makan disitu, kami larang. Karena tentu kandungan makannya berbeda dengan makanan atlet kan, kami tidak bisa menjamin. Eh, mereka marah-marah. Makanya, kami minta kepada pimpinan kontingen untuk memastikan bolehkan atletnya diberikan izin. Akhirnya diputuskan dilarang, jadi kami minta mereka pun dari kontingen juga mengkomunikasikan ke atletnya," tutur Harry.

Selain itu pengaturan jam operasional "dinning hall" pun dikeluhkan atlet. Menurut Harry itu karena setelah pukul 23.00 WIB, dapur Wisma Atlet tidak lagi menyediakan "makanan hangat". Hanya makanan dingin saja.

"Jadi hal itu dikeluhkan oleh atlet-atlet yang kembali ke wisma atlet setelah menjalani doping. Karena mereka bisa sampai ke Wisma Atlet itu di atas pukul 23.00 WIB. Sedangkan jam operasional dapur wisma atlet hanya sampai pukul 23.00 WIB. Solusinya kita buka sampai pukul 00.00 WIB," ujarnya. 

Kemudian, soal temuan adanya atlet dan official tim yang membawa minuman keras, menurut dia, sudah ditangani. Di Indonesia ada larangan tersebut, meskipun mereka sudah tidak bertanding lagi. 

"Memang berbeda budayanya, dan hal itu tidak bisa dikontrol oleh pimpinan kontingen masing-masing," ujarnya.***

You voted 'sedih'.

Baca Juga

Akhir Cerita Pahit Debby Susanto di Asian Games 2018

JAKARTA, (PR).- Debby Susanto gagal menciptakan akhir manis untuk Asian Games terakhirnya. Bersama pasangannya, Ricky Karanda Suwandi, dia tersingkir di babak kedua cabang bulutangkis nomor perorangan Asian Games 2018.