Gagal di Asian Games 2018, Renang Indonesia Optimistis di SEA Games

Tiongkok vs Uzbekistan/ANTARA FOTO
PERENANG Tiongkok Yan Zibei (kiri) dan Perenang Uzbekistan Mustafin Vladislav memacu kecepatan saat bertanding pada final 50 meter gaya dada putra Asian Games ke-18 Tahun 2018 di Aquatic Centre GBK, Senayan, Jakarta, Jumat 25 Agustus 2018.*

JAKARTA, (PR).- Cabang renang Indonesia butuh waktu lebih lama lagi sepertinya untuk bisa kembali berprestasi di level Asian Games. Di Asian Games 2018 ini, Indonesia belum mampu berbicara banyak untuk bisa bersaing dengan para atlet level Asia. 

Terakhir renang Indonesia memperoleh medali di Asian Games pada Tahun 1990 lalu di Beijing, Tiongkok lewat Richard Sambera (100 meter gaya bebas), Wirmandi Sugriat (200 meter gaya dada), dan tim estafet 4x100 gaya bebas putri. Di Asian Games ini, dari 41 nomor pertandingan yang diperlombakan di Stadion Aquatik, Gelora Bung Karno (GBK), 19-24 Agustus 2018 lalu, belum satu pun medali yang bisa dibawa pulang I Gede Siman Sudartawa dkk. Di ajang ini catatan terbaik mereka hanya menciptakan 10 rekor nasional dari sembilan nomor yang diikuti. 

Ke-10 rekornas tersebut dihasilkan oleh Aflah Fadlan Prawira di 400 meter gaya bebas, 800 meter gaya bebas, dan 1500 meter gaya bebas, Siman di 50 meter gaya punggung, tim estafe 4x100 meter gaya ganti campuran, tim estafet 4x100 meter gaya ganti putri, tim estatef 4x100 meter gaya ganti putra, A.T Vanessae Evato di 100 meter gaya dada putri, dan Nurul Fajar Fitriyati di 100 meter gaya punggung putri. 

Di level Asia, Indonesia kalah bersaing dengan Jepang, Tiongkok, Singapura, dan bahkan Vietnam, yang hingga empat tahun lalu masih perunggu, kini sudah bisa mendapatkan satu perak. 

Di Asian Games 2018, Jepang menjadi juara umum dengan 19 emas, 20 perak, dan 13 perunggu. Lalu menyusul Tiongkok dengan 19 emas, 17 perak, dan 14 perunggu. Singapura duduk di posisi ketiga dengan dua emas, satu perak, dan tiga perunggu, kemudian menyusul Korea Selatan dengan satu emas, satu perak, dan empat perunggu. Di peringkat kelima ada Hong Kong dengan satu perak dan dua perunggu, terpaut satu perunggu dari Vietnam yang bertengger di posisi enam.

Kepala Pelatih Timnas Renang Indonesia, Albert C Sutanto kepada "PR", Sabtu 25 Agustus 2018 mengakui jika level Indonesia belum bisa bersaing. Meskipun secara catatan waktu, ada kemajuan secara perorangan, tapi tidak semua perenang dinilainya "perform".

"Sembilan rekornas artinya sudah ada progres, terutama untuk atlet yang usianya 20 tahun ke atas, mereka sudah siap secara mental. Tapi berbeda dengan atlet yang 20 tahun ke bawah, mereka masih berjuang mental. Mereka belum bisa mengatasi tekanan tampil di depan publik banyak. Didatangi Presiden malah gugup, mereka belum siap," katanya. 

Para perenang Indonesia ini  dinilainya maisih butuh jam terbang. Bukan karena kurang bertanding, tapi lebih kepada butuh kejuaraan besar agar bisa mendapatkan atmosfer pertandingan besar. 

"Selama ini kita hanya ikut event yang deket dan kecil. Sementara semua pemegang medali Asia yang berkuasa di olimpik sudah terbiasa tampil di event-event besar, sebut saja Yuta Watanabe, Schooling, dan Sun Yang. Untuk bisa mengimbangi mereka, satu-satunya cara adalah dengan lebih banyak menurunkan para perenang muda ke kejuaraan-kejuaraan besar. Tidak seperti sekatang, hanya pembinaan singkat tiga bulan," katanya.

Taka da salahnya renang Indonesia berkaca ke Singapura 

Menurutnya renang Indonesia harus berkaca dan mencontoh pada Singapura dan Vietnam. Mereka kini sudah mulai membangun pembinaan atlet muda sejak 7 tahun lalu. Kedua negara ini dinilai sudah terbiasa dengan kompetisi level dunia, jadi secara mental dinilainya sudah kuat.  

"Kami ingin pemerintah lebih perhatian dengan olahraga multimedali dan olimpik. Selama ini mereka (pemerintah) hanya bertumpu pada cabang yang secara sejarah medali, ini yang harus diubah," tuturnya. 

Setelah Asian Games ini, sesuai permintaan pelatih asing, Tim renang Indonesia akan langsung melakukan program persiapan umum untuk SEA Games 2019 di Filipina mulai 10 September mendatang. Semua perenang yang masuk proyeksi sudah harus berkumpul di Bali mulai tanggal tersebut. 

"Kita tidak mau kecolongan lagi di SEA Games. Harus mulai serius membangun, mengingat di Olimpiade 2020 kita bertekad untuk bisa meloloskan perenang lewat kualifikasi," ujar Albert kemudian.***

Baca Juga

Sudah Hari ke-10, Asian Games 2018 Masih Dihantui Masalah

JAKARTA, (PR).- Sudah masuk hari pelaksanaan ke-10, Asian Games 2018 ternyata masih dihantui masalah. Masalah muncul dari hasil laporan pertemuan Komandan Kontingen (CdM) yang digelar setiap pagi di Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta.

Akhir Cerita Pahit Debby Susanto di Asian Games 2018

JAKARTA, (PR).- Debby Susanto gagal menciptakan akhir manis untuk Asian Games terakhirnya. Bersama pasangannya, Ricky Karanda Suwandi, dia tersingkir di babak kedua cabang bulutangkis nomor perorangan Asian Games 2018.