Dipuji Wartawan Asing, Begini Perkembangan Venue Equistrian Asian Games 2018

venue equistrian asian games/WINA SETYAWATIE/PR

JAKARTA, (PR).- Pembangunan venue cabor equistrian Asian Games 2018 di Pulo Mas Jakarta mendapat acungan jempol dari para wartawan asing yang berkunjung, Selasa 3 April 2018. Mereka tak menyangka jika progres pembangunan Equistrian Center begitu cepat dan saat ini hampir mencapai 100 persen.

Mereka menilai, venus tersebut tinggal menyisakan penyelesaian landscape dan penambahan beberapa hal di arena trek cross country sepanjang 3,7 meter. Misalnya seperti peralatan untuk pengelolaan air dan menyiram pasir (spesial putting). 

"Ini sesuatu yang tidak bisa dipercaya. Karena pada saat saya datang kesini pertama kali, saat media forum Asian Games pada November 2017 lalu, masih belum berbentuk arenanya akan seperti apa. Tanah juga masih dikeruk. Jadi progres ini dalam kurang dari enam bulan sangat cepat prosesnya, bagus," kata Editor Sporting Asia magazine Dewan Olimpiade Asia (OCA) Jeremy Walker di hadapan media lokal, kepada CEO PT Pulomas Jaya, Bambang Mursalin selaku pengelola Equistrian Center.

Menurut Bambang, Equstrian Center itu sendiri terdiri dari beberapa sektor. Pertama adalah bangunan utama empat lantai yang dipergunakan untuk kantor pengelola, media room, tempat penonton, dan menara pandang untuk bisa melihat keseluruhan arena perlombaan equistrian di kawasan tersebut. Di lantai 1 dipergunakan untuk retail fasilitas, lalu lantai dua adalah untuk arena tribun penonton luar ruangan yang dapat menampung 1000 orang. Di lantai 3 arena media dan EFI control room, serta dilantai 4 adalah menara pandang indoor dengan kapasitas 500 orang. 

Sektor lainnya adalah arena perlombaan untuk tiga nomor event cabang equastrian yakni nomor jumping, dressing, dan eventing. Lalu juga ada groom dormitory yakni asrama untuk perawat kuda yang berkapasitas 91 kamar yang terbagi dalam empat lantai. Kemudian sektor lainnya adalah kandang kuda (stable). Stabel kuda ini memiliki muatan 156 kuda dan dibuat dalam dua lantai. 

"Untuk kenyamanan kuda, kami juga sedang membuat spesial footing material di seluruh area perlombaan. Spesial footing material ini dibuat dari campuran khusus pasir dari Pulau Bangka dan geo textile dari Jerman. Komposisinya 120 ribu ton pasir berbanding 60 ribu ton bahan khusus, ini agar tanahnya atau tempat bertumpu kuda di arena perlombaan empuk dan tidak menyebabkan kaki kuda lecet," ujar Bambang menambahkan. 

Dengan kelengkapan fasilitas yang dimiliki oleh Equistrian Center tersebut, menurut Bambang, delegasi teknis cabang equistrian sempat mengatakan bahwa ini merupakan salah satu arena perlombaan berkuda paling terbesar di Asia. Bahkan untuk designnya sendiri sudah disetujui oleh Federasi Equistrian Dunia (EFI), jadi bila tidak mendapatkan sertifikasi EDFZ sangat disayangkan ungkapnya.

Menunggu Sertifikasi

Meskipun venus sudah hampor rampung, Indonesia masih menunggu proses sertifikasi zona bebas penyakit untuk hewan khususnya kuda yang berlomba di cabang olahraga equistrian. Mei 2018 mendatang, Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) akan melakukan sidang Sertifikasi  EDFZ (Equistrian Diseases Free Zone) agar Equistrian Center Pulo Mas, Jakarta bisa mendapatkan pengakuan dan menggelar perlombaan untuk Asian Games 2018, Agustus mendatang. 

OIE telah menganalis dan mengevaluasi lewat kunjungannya selama lima kali ke Equistrian Center Pulo Mas. Mereka menganalisa tentang riwayat penyakit kuda dan hewan apa yang ada di kawasan Pulo Mas sampai dengan kawasan Jabodetabek. 

"Jadi mereka (OIE) mencari sejarahnya dulu, apakah ada riwayat penyakit dikawasan dari Pulomas hingga tujuh daerah penyangga, Jabodetabek. Kalau ada sejarahnya, maka nanti harus divaksinasi hewannya dulu untuk kemudian dipantau selama enam bulan kedepan sejak akhir tahun lalu," ujar Bambang.

Indonesia sendiri tengah menyiapkan zona karantina bagi kuda-kuda yang akan digunakan dalam perlombaan Asian Games nanti. Namun, untuk karantina ini menurut Bambang sampai saat ini belum diputuskan. Tapi yang pasti akan ditaruh di luar kawasan Pulo Mas. 

"Untuk zona karantina harus disiapkan kawasan khusus, tidak di dalam sini. Namun sampai sekarang belum ditunjuk oleh Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan  selaku pihak yang berwenang. Tapi sudah disiapkan tiga opsi oleh mereka areanya, yakni di Tangerang, Depok, dan Jakarta," kata Bambang.

Bio security, kata Bambang juga dilakukan pihaknya sebagai tambahan dalam upaya untuk memutuskan rantai masuknya agen penyakit seperti vektor, lalat, dan penyakit hewan lainnya sebagai sumber penyakit dalam suatu peternakan agar tidak menyebar ke dalam ataupun luar peternakan.  Untuk upaya tersebut pihaknya juga membangun fasilitas laboratorium dan obat-obatan di Equistrian Center. 

"Jadi diharapkan nantinya dengan adanya bio security ini dalam radius 1-2 kilometer tidak boleh lagi ada kuda-kuda liar yang tidak divaksinasi," ujarnya.

Demi bisa meloloskan proses sertifikasi pihaknya juga telah sosialisasi ke masyarakat sekitar untuk sterilisasi kawasan/arena untuk sementara dalam radius 1-2 kilometer. Hal itu dilakukan terkait dengan kebiasaan Idul Adha di Indonesia. 

"Ini karena sehubungan dengan Idul Adha, kami sudah sosialisasi untuk sterilisasi kawasan agar sementara tidak memotong hewan qurban atau menjual dalam radius 1-2 kilometer dari sekitar arena perlombaan. Jadi harus digeser," kata Bambang menjelaskan. ***

Baca Juga

Cedera Leher, Insan Nurhaida Atlet Asian Para Games 2018 Membaik

JAKARTA, (PR).- Kondisi atlet para atletik Indonesia, Insan Nurhaida yang sebelumnya mengkhawatirkan karena mengalami patah tulang leher pada saat berlomba di nomor 100 meter T36, Rabu 10 Oktober 2018, kini kondisinya sudah membaik.