Akreditasi Tak Beres, Ini Protes Keras Wartawan Saat Test Event Asian Games 2018

test event asian games/WINA SETYAWATIE/PR
Jajaran panitia penyelenggaran Asian Games 2018 (Inasgoc) berfoto seusai jumpa pres dalam rangkaian test event cabor bola basket Asian Games 2018 di Hall Basket Senayan, Jakarta, Kamis 8 Februari 2018.

JAKARTA, (PR).- Protes keras dari awak media mewarnai hari pertama test event cabor bola basket Asian Games 2018.  Hal itu tak lepas dari proses akreditasi media yang lambat sehingga masih banyak jurnalis yang belum mendapatkan tanda pengenal (ID Card) dan kesulitan melakukan peliputan.

Protes tersebut dilontakan awak media kepada panitia penyelenggaran Asian Games 2018 (Inasgoc) dalam sesi jumpa pres. Namun Inasgog mengaku tak bisa berbuat banyak karena kewenangan akreditasi media berada di tangan Komite Olimpiade Indonesia (KOI).

Aksi boikot pun sempat menghantui pelaksanaan test event hari pertama. Pasalnya awak media merasa sudah melakukan pendaftaran dalam jaringan (daring) 15 Januari 3028 lalu.

Jika memang ada kekurangan persyaratan yang diminta, KOI seharusnya segera memberitahu mereka agar segera dilengkapi. Namun KOI justru seolah lepas tangan, karena petugas yang berwenang hanya mengatakan bahwa pendaftaran media tertentu ditolak oleh sistem, tanpa bisa menjelaskan alasannya.

"Sayangnya kita tidak diberitahukan alasan mengapa ditolak oleh sistem. Kalau diberitahukan dari jauh-jauh hari kan kita bisa melengkapi data yang kurang. Penyerahan syarat akreditasi juga tidak ada tanda terimanya, jadi ini malah lempar-lemparan kayak bola pingpong," kata juru kamera televisi swasta Eko Djatmiko. 

Eko yakin jika pengurusan ID Card untuk media lokal saja berantakan, apalagi untuk media luar negeri dari 40 negara peserta. Hal itu terbukti dari sekitar 700 wartawan yang mendaftar, hanya sekitar 350 yang akreditasinya disetujui oleh sistem.

Waktu Tempuh ke Venue Terlalu Lama

Masalah kedua yang harus segera dievaluasi Inasgoc dalam test event tersebut adalah waktu tempuh yang terlalu lama antara wisma atlet menuju venue pertandingan. Hal tersebut dikeluhkan hampir oleh semua tim peserta test event cabor bola basket. 

Kapten tim Timor Leste De Araujo Soares Joao menilai bahwa sarana dan prasarana untuk sekelas test event sudah bagus. Namun jarak yang terlalu jauh antara wisma atlet dengan venue membuat perjalanan timnya terasa sangat panjang.

Araujo menegaskan, hal itu sangat berpengaruh kepada kondisi fisik pemainnya pada saat pertandingan. "Meskipun kita dikawal oleh patroli, tapi tetap saja memakan waktu sekitar 1 jam lebih. Karena jalur yang kita lalu tadi sangat macet. Itu membuat kami kelelahan di jalan dan sangat mempengaruhi performa tadi di lapangan," ucapnya.

Dalam test event basket tersebut, Timor Leste akhirnya harus mengakui keunggulan tuan rumah Indonesia. Christian Ronaldo Sitepu dkk. memang telak 130-30 atas Araujo cs dalam pertandingan pembuka di Hall Basket Senayan, Jakarta. 

Menanggapi dua keluhan utama di hari pertama test event, Ketua Inasgoc Erick Thohir mengatakan jika test event ini digelar memang dimaksudkan untuk melihat dan mencari kekurangan untuk kemudian dievaluasi di Asian Games nanti. "Dari tanggal 8-15 Februari ini kita benar-benar membangun konsolidasi ke-8 cabang olahraga yang menggelar test event. Karena mereka kan sudah pake wisma atlet, transportasi, termasuk soal akreditasi. Nanti kita lihat titik-titik mana yang harus diperbaiki. Jadi  kami senang kalau ada pengaduan masalah yang masuk ke kami. Biar ada koreksi agar di Asian Games bagus," katanya. ***

Baca Juga