Ayo Berkenalan dengan Lili dan Lala, Maskot PON XIX/2016

Lili dan Lala, Maskot PON XIX 2016/DOK. PR

PEKAN Olahraga Nasional (PON) XIX tahun 2016 akan segera digelar. Tuan rumah Jabar menetapkan Surili (Presbytis comata) bernama Lili dan Lala menjadi maskot pada pesta olahraga nasional empat tahunan itu.

Seperti PON sebelumnya, perhelatan ini selalu memiliki Maskot unik. Pada PON 2012 di Riau, burung Serindit menjadi ikon khas yang mencirikan tuan rumah penyelenggara yang melambangkan semangat, enerjik dan kontinuitas gerakan. Pesut, Orangutan dan Burung enggang menjadi tiga maskot sekaligus pada PON XVII/2008 di Kalimantan Timur.

Surili merupakan Primata endemik Pulau Jawa khususnya bagian barat, saat ini persebarannya di alam hanya ditemukan di hutan konservasi dan hutan lindung di Jawa Barat, khususnya di hutan dataran tinggi. Mamalia ini mempunyai ukuran tubuh sepanjang 43-60 cm dengan berat tubuh saat dewasa sekitar 6-8 kg dan ekor yang panjang melebihi panjang tubuhnya. Panjang ekornya bisa mencapai antara 56-72 cm.

Tubuh Surili ditumbuhi bulu berwarna hitam, kecoklatan atau keabuan di bagian kepala hingga punggung. Sedangkan rambut di bagian dagu, dada, perut, lengan bagian dalam, kaki, dan ekor berwarna putih. Kulit pada muka dan telinga berwarna hitam pekat agak kemerahan. Tercatat, kini populasinya hanya 4.000 - 6.000 ekor dan menjadikan hewan ini berstatus terancam punah.

Menurut catatan The Aspinall Foundation (TAF) sebuah lembaga yang konsen pada konservasi satwa liar yang terancam punah, Surili merupakan binatang diurnal (aktif pada siang hari). Sebagian besar aktifitasnya, termasuk tidur, dilakukan di atas pohon (arboreal). Menempati habitat hutan primer dan sekunder mulai dari hutan pantai, hutan bakau, hutan pegunungan pada ketinggian sekitar 2000 mdpl.

Hewan ini juga cenderung hidup berkelompok dengan jumlah rata-rata 7-15 ekor individu dalam sebuah kelompoknya dengan daerah jelajah kelompok antara 9-20 hektar. Surili mengonsumsi lebih dari 75 jenis tumbuhan yang berbeda dihutan dengan perbandingan 64% berupa daun, 14 % berupa buah dan biji, 7% bunga dan sisanya 15% berbagai jenis makanan seperti serangga, jamur dan tanah.

“Surili merupakan pemakan serat kasar dan dedaunan di habitat aslinya. Buah-buahan seperti pisang, justru makanan yang sedikit mereka konsumsi” tutur Ida Masnur (45) dokter hewan lembaga The Aspinall Foundation di Rancabali Kecamatan Ciwidey Kabupaten Bandung.

Ida juga berharap dengan dijadikannya Surili sebagai Ikon PON Jabar, masyarakat menjadi sadar dan mendukung terhadap upaya-upaya konservasi dan rehabilitasi terhadap spesies hewan yang terancam punah. (Restu Syauqi)***

Baca Juga