Headlines

Dinas Kebersihan Bekasi Tertibkan TPA Ilegal

BEKASI, (PRLM).- Dinas Kebersihan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, akan menertibkan puluhan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah ilegal dengan total luas lahan mencapai 15 hektare yang tersebar di Desa Tanjung Sari, Kecamatan Cikarang Utara.

Kepala Dinas Kebersihan Kabupaten Bekasi, Djamaluddin, di Cikarang, Selasa (25/8), mengatakan, puluhan TPA liar tersebut dianggap melanggar aturan menyusul banyaknya keluhan warga yang terganggu akibat polusi udara yang ditimbulkan dari bau sampah.

"Para pemilik TPA tidak mengantongi izin, justru itu sudah menyalahi peraturan tentang kebersihan. Kami kan sudah menyediakan TPA resmi di TPA Burangken. Dalam waktu dekat kami akan ambil langkah penertiban," katanya seperti dikutip Antara. 

Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, kata dia, lokasi TPA ilegal di Desa Tanjung Sari, kian menjamur setelah menjadi bisnis persampahan yang mendatangkan omzet jutaan rupiah bagi pengelolanya.

"Meski beberapa di antaranya sudah pernah kami tutup paksa, namun mereka kembali lagi. Dengan berbisnis sampah, pengelolanya bisa meraup keuntungan rata-rata Rp500 ribu hingga Rp2 juta dari daur ulang sampah plastik," ujar Djamaludin.

Secara terpisah, Iis (30), salah satu pemilik TPA Ilegal di Desa Tanjung Sari, mengaku telah menjalankan usaha tersebut sejak tahun 2007. Ia bersama keluarga besarnya memiliki lahan seluas empat hektare yang dibagi ke dalam tiga zona pembuangan sampah.

"Ini tanah milik kami pribadi, yang memang saya sewakan untuk pembuangan sampah. Izinnya kami dapat dari kepala desa untuk mendaur ulang sampah," katanya.

Iis yang semula menekuni usaha pembuatan batako, beralih menjadi pengusaha sampah dengan omzet per bulan mencapai Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta. Pendapatan tersebut dua kali lipat dari usaha batako.

"Tapi memang saya batasi pada sampah perumahan dan sampah pasar. Kendaraan pengangkut sampah ada tiga truk, bisanya dua hari sekali membuang sekitar dua ton per truk," katanya.

Diakui Iis, lahan TPA miliknya merupakan satu di antara puluhan TPA ilegal lainnya yang tersebar di wilayah setempat. Rata-rata lahan yang mereka sewakan memiliki luas antara satu hingga empat hektare.

"Bahkan ada TPA yang dipakai untuk membuang limbah B3 dari pabrik, dan ketahuan lalu ditutup. Kalau punya saya, terus saya awasi jangan sampai ada yang buang limbah B3, karena bisa jadi masalah. Sampahnya berasal dari Cikarang. Kadang kalau malam, suka ada kendaraan Dinas kebersihan yang diam-diam buang sampah di tempat saya," tuturnya.

Kendati demikian, tidak sedikit warga yang mengeluhkan dampak negatif TPA ilegal tersebut, di antaranya pencemaran air sungai Cibereum yang berada dekat TPA tersebut.

"Sejak beberapa tahun terakhir airnya berubah warna jadi hitam dan berbau sampah. Padahal kami menggunakan air sungai ini untuk mencuci," kata Kismi (45), warga sekitar.

Hal senada diungkapkan Jakfar (32), warga Desa Tanjung Sari, yang mengatakan, TPA Ilegal itu banyak dilindungi jasa preman desa tersebut, karena pembuang sampah harus ditarik retribusi.

Sementara itu, Kepala Desa Tanjung Sari, Djamal saat dimintai keterangan menolak memberikan komentar, dan menutup diri. (A-120) ***