Kemitraaan Budidaya Pohon Albasia

EKONOMI

BANDUNG, (PRLM).- Pembudidayaan berskala bisnis pohon kayu albasia secara kemitraan dengan masyarakat, ditawarkan dikembangkan pada lahan kehutanan dan perkebunan di Jabar selaku sentra produksi nasional. Kementrian BUMN meminta Perum Perhutani Unit III dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII menyediakan lahan cadangan, untuk dapat ditanami pohon albasia untuk dimitrakan dengan masyarakat.

Deputi Bidang Agroindustri Kementrian BUMN, Agus Pakpahan, di Bandung, Kamis (11/6) mengatakan, potensi bisnis pohon kayu albasia sangat menjanjikan pendapatan layak bagi masyarakat, apalagi kebutuhan kayu kelas menengah ke bawah terus meningkat. Dalam satu hektare lahan, akan dapat diperoleh nilai penjualan Rp100 juta dari populasi tanaman albasia berumur delapan tahun.

"Kemitraan penanaman albasia cocok dikembangkan di kehutanan dan perkebunan, sebagai upaya mengangkat perekonomian masyarakat desa sekitarnya. Setidaknya, eksistensi unit kehutanan dan perkebunan menjadi perekat kekompakan dengan masyarakat sekitar, yang timbal baliknya diharapkan mampu menjaga kelestarian lingkungan. (A-81/das)***

Baca Juga

Inilah Kereta Api yang Berhenti di Stasiun Gandrungmangu

EKONOMI

CILACAP, (PRLM).- Terhitung mulai Senin (6/4/2015), layananan Stasiun Gandrungmangu, Kab Cilacap, Jawa Tengah kembali diaktifkan. Sebelumnya, layanan stasiun itu dihentikan pada awal 2014 akibat gangguan ketertiban dari pedagang asongan yang kerap memakasa masuk ke dalam gerbong.

Indonesia Perlu Menggarap Potensi Pasar Kawasan Asia Tengah

EKONOMI

JAKARTA, (PRLM).- Direktur Asia Selatan dan Tengah Kementerian Luar Negeri Listyowati menuturkan, Indonesia perlu menggarap peluang dan potensi negara-negara Asia Tengah sebagai pasar potensial.

BNI dan PLN Kerja Sama Transaksi Lindung Nilai

EKONOMI

JAKARTA, (PRLM).- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) memberikan fasilitas transaksi lindung nilai atau hedging kepada PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

LPG 12 Kg Naik, Pengusaha Hotel Lakukan Efisiensi

EKONOMI

YOGYAKARTA, (PRLM).- Sebagian besar pemilik usaha hotel dan restoran di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) lebih mengutamakan efisiensi bahan baku makanan menyusul kebijakan pemerintah menaikkan harga elpiji 12 kilogram.