Warga Sekitar Lokasi Kecelakaan di Sukabumi Tolak Julukan Jalur Tengkorak

Sepi/AHMAD RAYADIE/PR
SARANA pengamanan lalu luntas di blok letter Bantar Selang, Desa Cikidang dalam kondisi terlepas. Padahal lokasi tersebut berada tidak jauh dari lokasi bus maut yang terjun bebas menewaskan dua puluh satu dan melunasi belasan kaywana PT Catur Putra Grup.*

WARGA menampik jalur lintas Cibadak-Cikidang-Palabuhananratu dikategorikan lintasan tengkorak. Mereka pun menegaskan sepanjang jalur wilayah Kecamatan Cikidang tersebut sangat rawan kecelakaan lalu lintas.  

Warga bahkan menunjukkan, bukan hanya Tanjakan Letter S, titik merah rawan laka lantas  tersebar di sepanjang  jalur lintas wisata itu. Yakni di  blok Kampung Panjinangan,  Ciareuy,  dan Blok Kampung Panjagan. Keempat lokasi rawan laka lantas tersebut, semuanya berada di wilayah Desa Cikidang, Kecamatan Cikidang. 

"Memang rawan laka lantas, tapi kami keberatan bila jalur destinasi wisata Cikidang  disebut sebut jalur tengkorak. Memang pengemudi perlu hati-hati ketika melintas karena memang banyak tikungan, tanjakan dan turunan tajam," kata warga Cikidang, Juki.

Apalagi kata Juki  jalur lintasan menuju sejumlah obyek wisata sangat berpotensi untuk mendongkrak kesejahteraan  warga disejumlah desa di Kecamatan Cikidang.  Terutama keberadaan Arum Jeram dan potensi keindahan alam disepanjang ruas Cikidang, mampu meningkatkan perekonomian warga disekitar obyek wisata itu.  

Terlepas dari rawan laka lantas, tapi jalur alternatif menunjukkan obyek Palabuhanratu dan Arum Jeram, kata Juki, dapat mendongkar perekenomian warga Cikidang.  Semua destinasi wisata berpotensi meningkatkan kesejahteraan perekonomian. 

"Arus wiasatawan dan kunjungan warga menjadi potensi menguntungkan warga. Kami tidak berharap dikategorikan jalur tengkorak kunjungan wisatawan berkurang," katanya.

Minim sarana dan prasarana lalu lintas

Di sela kegiatan doa bersama di lokasi maut bus terjun bebas, ia sebut bahwa lokasi minim rambu rambu lintas jadi salah satu penyebab kecelakaan. 

Sebagian besar rambu rambu lalu lintas terlihat terbatas dan   kini masih berdiri  dalam kondisi tidak terurus. 

Rambu-rambu  bertahan dan masuh bertahan hanya disekitar pemukiman  warga. Sementara di beberapa areal perkembunan kelapa sawit, di lintasan jalan berkelok,  tanjakan dan curam relatif sangat terbatas.

"Diperlukan penambahan rambu rambu lalu lintas disepanjang jalur lintas tersebut. Bila perlu ada papan peringatan agar pengguna kendaraan melintasi ruas jalan tersebut berhati hati," katanya.

Begitu pun  ruas jalan alternatif milik Dinas Bina Marga Pemerintah Provinsi  Jawa Barat itu,  tidak dilengkapi Penerangan Jalan Umum (PJU). Jalur lalu lintas disepanjang dua belas kilometer hanya mengandalkan penerangan rumah warga.  Itu pun dalam terbatas karena hanya mengandalkan penerangan rumah rumha warga.

"Sementara di beberapa areal tertentu, gelap gulita karena penerangan sama sekali tidak ada. Sehingga pengemudi harus ekstra hati hati saat melintasi lintasan yang berada jauh dari pemukiman warga," katanya.

Begitu pun dari pemantauan Pikiran Rakyat,  keberadaan besi dan tiang beton pengaman yang tersebar di sepanjang jalan hampir sebagian besar dalam kondisi rusak.  Besi pembatas jalan dibeberapa tikungan curam, turunan dan tanjakan dalam kondisi  terlepas. 

Seperti halnya di tikungan, turunan dan tanjakan letter S yang berada tidak jauh dati titik tragis bus terjun bebas di blok Bantar Selang, besi pembatasnya lepas.

"Banyak sarana dan prasarana dalam kondisi rusak. Padahal fasilitas jalan itu, sangat vital terutama menjaga keselamatan para pengguna kendaraan roda dua da empat," kata anggota karang taruna Desa Cikidang,  Yayan.

Class action

Camat Cikidang, Agus  Muhamad Nurdin mengatakan sebelum kejadian tragis, ia sudah melayangkan surat agar dinas terkait untuk penambahan rambu dan penerang lalu lintas.

Tapi hingga saat ini, surat permohonan masih belum juga direalisasikan. Padahal sarana dan prasarana tersebut sangat vital di jalan alternatif terdekat untuk menuju ke tempat wisata di Kabupaten Sukabumi.

"Sebelum kejadian laka lantas kali ini, kami sudah mengirim surat ke propinsi Jabar agar jalur Cikidang tidak hanya ditambah rambu rambu lalu lintas. Tapi dipasang PJU tapi surat permohonan masih belum durespin hingga kejadian tragis terjadi," katanya.

Warga sangat berharap , kata Agus tidak   di setiap tikungan pembatas, marka jalan dan hingga kelokan dipasang penerangan jalan umum. Tapi ada penmbhna  rambu rambu lalu lintas. Mudahan mudahan resiko lantaa dapat diminimaliair" katanya.

Praktisi hukum Sukabumi, Bahtera Gurning mengatakan warga dan pengguna kendaraan bisa melakukan class action terhadap pemerintah. Terutama pada dinas terkait dilingkungan Pemprov Jawa Barat,  bila memamg penyebab laka lantas akibat sarana, prasaran dan fasilitas yang disediakan pemerintah masuh belum optimal. 

"Sesuai dengan UU lalau lintas  No. 22/2009, khususnya pada pasal 213 dimana  sarana dan prasarana harus secara berkala diaediakan dan dipelihara pemerintah masih belum optimal, pemerintah yakni dina terkait dapat dilakukan class action. Semua orang bisa melakukannya, termasuk pengguna kendaraan dan warga," katanya.***

Baca Juga