Mendikbud Apresiasi Guru di NTB Tetap Mengajar dalam Keterbatasan

Tetap sekolah/ANTARA FOTO
SEJUMLAH anak-anak korban gempa belajar di halaman sekolah beralaskan terpal karena bangunan sekolahnya rusak di SDN 2 Kekait, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, NTB, Kamis 6 September 2018. Para siswa SD di daerah tersebut tetap bersekolah dengan fasilitas seadanya sambil menunggu dibangunnya sekolah darurat.*

JAKARTA, (PR).- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy memastikan kegiatan belajar mengajar (KBM) di Nusa Tenggara Barat tetap berjalan meskipun dalam keterbatasan. Melalui program Gerakan Kembali sekolah, Muhadjir menjanjikan pemulihan sarana dan prasarana sekolah berjalan sesuai target dan rencana.

Ia menegaskan, anak usia sekolah di NTB tidak boleh berhenti sekolah. Menurut dia, guru dan orang tua harus terus memotivasi anak didiknya untuk tak putus asa. Dengan kondisi yang terbatas, pendidikan di sekolah harus tetap menyenangkan bagi para siswa.

“Tiada hari tanpa belajar. Yang paling penting anak-anak diajak untuk bergembira dulu. Gurunya bisa membuat anak-anak merasakan the joy of learning dulu. Anak-anak NTB tidak boleh berhenti belajar,” kata Muhadjir dalam siaran pers di Jakarta, Senin 10 September 2018.

Saat mengunjungi Mataram, NTB, Minggu 9 Agustus 2018, Muhadjir melepas 21 truk yang membawa bantuan bagi warga belajar di berbagai wilayah. Bantuan itu berisi paket peralatan sekolah, peralatan permainan dan kesenian, alat tulis dan kertas untuk keperluan sementara kegiatan sekolah, serta logistik untuk keperluan tenaga kependidikan. 

Bantuan tersebut akan didistribusikan ke tujuh kabupaten/kota terdampak gempa bumi, yaitu Kabupaten Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, Sumbawa Barat, dan Kota Mataram. Total bantuan yang disiapkan Kemendikbud untuk penanganan gempa di NTB sebesar Rp 258 miliar. 

“Bantuan tersebut merupakan optimalisasi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) serta donasi dari seluruh pegawai Kemendikbud. Pemerintah pusat telah optimal menangani masalah gempa NTB ini. Pada akhirnya yang harus menyelesaikan adalah masyarakat dan pimpinan daerah NTB sendiri," ujar Muhadjir. 

Kelas sementara

Ia menuturkan, Kemendikbud akan menambah sebanyak 650 tenda untuk sekolah darurat sehingga total tenda yang didistribusikan lebih dari 1.000 unit. "Target kita seratus persen siswa NTB kembali ke sekolah dalam waktu sesingkat-singkatnya," kata Muhadjir. 

Ia menuturkan, beberapa daerah sudah memberikan komitmen untuk bersama-sama membangun kembali sekolah-sekolah di NTB. Di antaranya, pemerintah Provinsi Jawa Timur, pemerintah Provinsi DKI Jakarta, pemerintah Kota Surabaya, dan pemerintah Kota Malang.

"Kalau perlu, nama sekolah yang dibantu dibangun dapat diubah dengan nama yang berkaitan dengan daerah yang telah membantu. Untuk kenang-kenangan bahwa seluruh bangsa Indonesia turut prihatin, dan bersama-sama mendukung pemulihan NTB. Ini wujud kerukunan sesama anak bangsa,” kata Muhadjir. 

Sampai saat ini, Mendikbud mengklaim telah menyalurkan Program Indonesia Pintar (PIP) kepada 360 ribu siswa NTB. Ia mengaku akan segera melakukan pemutakhiran data untuk memberikan penambahan jumlah siswa penerima manfaat.

Mendikbud mengimbau agar pemberian bantuan harus relevan dengan kebutuhan. Unit-unit pelaksana teknis dapat fokus memberikan bantuan yang paling dibutuhkan, berbasis data, dan meningkatkan koordinasi antarlembaga baik pusat maupun daerah, serta lembaga nonpemerintah. 

“Laporan jangan yang baik-baik saja. Ini memang berat, tetapi kerja keras kita untuk membangun kembali NTB. NTB harus bangkit kembali, lebih baik lagi,” ucapnya.*** 

Baca Juga