Kurs Dolar Mengenaskan, Produsen Tahu Tempe Cemas

Kedelai impor/ANTARA FOTO
PEKERJA membuat tahu di rumah industri kawasan Krian, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu 29 Agustus 2018. Menurut pemilik usaha pembuatan tahu tersebut, ia lebih memilih kedelai impor karena lebih murah seharga Rp7.000 per kg dibandingkan dengan kedelai lokal yang harganya mencapai Rp8.500 per kg.*

BANDUNG, (PR).- Kian dalamnya pelemahan rupiah meresahkan produsen tahu dan tempe. Pasalnya, harga kedelai sebagai bahan baku pembuatan tahu dan tempe mulai merangkak naik. Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu pagi melemah sebesar 25 poin menjadi Rp14.920 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.895 per dolar AS.

Ketua Pusat Koperasi Produsen Tahu dan Tempe Indonesia (Puskopti) Jawa Barat Asep Nurdin menga­takan, harga kedelai di tingkat importir sudah me­nyentuh Rp 7.300 per kilogram (kg). Dengan kondisi tersebut, menurut dia, harga di tingkat eceran bisa mencapai Rp 8.000 per kg. "Ini akan sangat ber­pengaruh bagi produsen tahu dan tem­pe," ujar­nya di Bandung, Selasa 4 September 2018.

Namun, menurut dia, karena permin­taan tahu dan tempe dalam kondisi lesu, importir sempat menunda kenaikan harga kedelai impor. Harga komoditas tersebut baru naik awal pekan ini. "Pada kondisi normal harga kedelai impor Rp 7.000 per kg. Senin kemarin naik menjadi Rp 7.100 per kg. Selasa ini kemung­kinan bisa naik sampai Rp 7.300 per kg," katanya.

Daya beli memang selalu lemah

Asep memprediksi, karena per­min­ta­an tahu dan tempe yang cenderung lesu saat ini, kemungkinan besar produsen tidak akan me­naik­kan harga jual. Na­mun, mereka akan memperkecil ukuran produk untuk menyiasati kenaikan harga bahan baku.

"Seperti tahun-tahun sebelumnya pada periode Iduladha permintaan tahu dan tempe memang cenderung sepi. Bia­sa­nya kondisi tersebut terjadi hingga tiga sampai empat hari setelah Idul­adha," kata Asep.

Namun, menurut dia, tahun ini terjadi anomali. Ia mengatakan, kendati Idul­adha sudah berlalu hampir tiga pekan, permintaan tahu dan tempe masih belum pulih. "Bukan itu saja. Penurunan permintaannya pun jauh lebih tajam. Kalau biasanya permintaan turun 15%-20%, pada Idul­adha tahun ini turunnya bisa sampai 30%," kata Asep.

Ia meminta, dalam kondisi ini peme­rintah segera mengambil solusi untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Menurut dia, selemah apapun nilai tukar rupiah, jika daya beli masyarakat kuat, dampaknya tidak akan terlampau besar.

Salah satu perajin tahu dan tempe, Agus Yusrama, juga mengatakan, lang­kah awal yang akan dilakukan untuk me­nyiasati kenaikan harga kedelai impor adalah  mengurangi ukuran. Kenaikan harga menjadi alternatif solusi terakhir yang akan ditempuh karena terkait daya beli masyarakat. "Kalau menaikkan harga jual agak sensitif. Bisa-bisa konsumen pada lari," tuturnya.

Seperti diketahui, hingga saat ini industri tahu dan tempe masih sangat tergantung pada kedelai impor. Produksi kedelai lokal dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan industri tahu dan tempe nasional. 

Menurut data Asosiasi Kedelai Indo­nesia (Akindo), hingga April 2018, realisasi impor kedelai sudah mencapai 532.000 ton. Realisasi impor ini tidak jauh berbeda dengan tahun lalu.

Sementara itu, impor pada Mei dan Juni sebesar 225.000 ton dan 230.000 ton, sedangkan kebutuhan sebulan bia­sanya mencapai 100.000 hingga 150.000 ton. Tahun 2017, impor kedelai mencapai 2,67 juta ton. 

Kementerian Pertanian sendiri terus mendorong swasembada ­pangan. Salah satunya adalah pada 2020, Indonesia tidak lagi mengimpor kedelai.

Beberapa waktu lalu, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Perta­nian Agung Hendriadi mengatakan, dalam tahun ini impor hanya dibatasi 2 juta ton.

Ia pun memaparkan bahwa ada bebe­rapa komoditas yang ditargetkan bisa swasembada dalam beberapa tahun ke depan, contohnya ke­delai. "Kedelai tidak banyak kok. Kita cuma butuh 2 juta ton kedelai dan untuk beras cuma 33 juta ton per tahun. Kecil sebenarnya. Jadi tidak apa-apa kita masih impor, tapi kita punya program 3 tahun ke depan sudah swasembada kedelai," tuturnya.

Lampu merah pelemahan rupiah

Sementara itu, ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara mengata­kan, nilai tukar rupiah melemah semakin dalam hingga menembus Rp 14.800 per dolar AS. Pelemahan rupiah tersebut diprediksi terus berlanjut hingga adanya normalisasi suku ­bunga Bank Sentral Amerika Serikat.

Dia mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh prediksi kebijakan The Fed yang akan menaikkan suku bunganya di bulan ini. Hal ini menyebabkan investor menghindari risiko dengan membeli aset ber­do­minasi dolar AS. 

Menurut Bhima, hal itu bisa dilihat dari kenaikan indeks dolar AS sebesar 0,13% ke level 95,2. Index dolar merupa­kan perbandingan nilai mata uang dolar AS dengan enam mata uang lainnya. "Tekanan terhadap rupiah ini akan ber­lanjut sampai ada normalisasi suku bunga The Fed. Ada kemungkinan dolar AS bisa menembus batas level psikologis hingga Rp 15.000 per dolar AS," ujar Bhima.

Dia menambahkan, pe­lemahan rupiah juga dipengaruhi oleh krisis ekonomi di Turki dan Argentina. Hal itu menimbulkan sentimen negatif terhadap negara berkembang lainnya termasuk Indonesia.

Dia menambahkan, pemerintah perlu melakukan gebrakan untuk mengembalikan nilai tukar rupiah sesuai fundamentalnya. Namun dia memprediksi hal itu tidak akan berlangsung alam waktu dekat. "Rupiah sudah melemah terlalu dalam. Untuk kembali ke level Rp 14.000 sulit dilakukan dalam waktu dekat," ujar dia.***

Baca Juga

Tips Mengatur Keuangan di Saat Dolar Menguat

MASIH ingat dengan demo ibu-ibu rumah tangga di depan Istana Merdeka pada Juli lalu? Jarang-jarang ibu-ibu rumah tangga mengekspresikan kegundahannya, kegelisahannya, hingga sampai ke Istana Presiden.