Lawan Tanding

karimsuryadi's picture

Karim Suryadi

Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat

SENTUHAN art and science membuka selubung keanggunan budaya Indonesia yang kerap tampil tersipu. Dalam balutan seni yang canggih, kecantikan budaya Indonesia tampak kian menonjol. Tari Saman yang disuguhkan secara kolosal misalnya, bukan hanya indah, namun sarat makna dan nilai.

Hal terakhir, menjadi kekuatan ragam pesona yang ditampilkan para seniman Indonesia dalam acara pembukaan dan penutupan Asian Games 2018, sekaligus pilihan jalan modernitas. Bahwa untuk menjadi modern, bangsa kita tidak perlu meniru atau menjadi bangsa lain, tetapi cukup mengeluarkan daya pikat bangsanya yang dikolaborasikan dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Inside-out harus menjadi pilihan, alih-alih menjiplak bangsa lain.

Selain paduan art and science, panggung Asian Games juga mengirim pesan kekuatan skuad muda dan penghayatan mereka terhadap budaya bangsanya. Keduanya menepis sinyalemen miring tentang nasib bangsa ke depan, sekaligus mengenyahkan pandangan merendahkan tentang karakter anak muda.

Anak-anak muda kita tidak hanya mampu menyuguhkan performance menarik, tetapi juga mengumpulkan jumlah medali yang banyak. Sebuah jumlah yang melampaui target. Kekuatan, keindahan, dan kecepatan para atlet tanah air, sekaligus ketangguhan strategi, teknik, dan taktik yang diterapkan jajaran pelatih membuahkan prestasi yang fenomenal. Memang prestasi yang diraih tidak bisa sepenuhnya dilepaskan dari keuntungan teknis sebagai tuan rumah, namun secara objektif apa yang dicapai atlet Indonesia amat membanggakan.

Hal yang dibutuhkan hanyalah konsistensi dalam melakukan pembinaan. Anak-anak berbakat terus bermunculan dari berbagai pelosok. Potensi alamiah ini tidak boleh mati sebelum berkembang. Perlu disusun kurikulum pembinaan untuk setiap cabang, lengkap dengan infrastruktur pelatihan di daerah-daerah. Apa yang diraih hari ini adalah buah dari pembinaan yang panjang. Menjadi juara adalah direncakanan. Kemudahan mendapatkan infrastruktur pembinaan adalah hipotek penjamin sukses.

Pembinaan dalam beragam aspek akan memastikan bonus demografi yang diraih Indonesia beberapa tahun ke depan tidak akan berubah menjadi petaka demokrafi. Fakta bahwa peraih medali terbanyak selalu direbut negara-negara maju, kaya, dan makmur menunjukkan korelasi antara pembinaan olah raga dengan  pembangunan kualitas sumber daya manusianya. Tak heran banyak juara terlahir dari kampus, atau disandang oleh mereka yang berstatus sebagai mahasiswa. Perkuliahan cabang olah raga di kampus menjadi bagian dari pembinaan prestasi (binpres) atlet.

Apa yang disebut terakhir menuntut perubahan paradigma kampus. Meski sejatinya adalah lembaga akademik, namun banyak kampus terkenal lewat jalur non akademik. Di luar negeri ada kampus yang dikenal karena basket ballnya, seperti juga hokey, atau baseball. Kendati lebih dikenal karena olah raganya, secara akademik performance mereka tidak kedodoran. Hal ini mudah dipahami, karena ketika teknik olah raga mereka dibina, otaknya pun diasah.

Lebih dari itu, para atlet mampu menorehkan prestasi gemilang dengan menumbangkan rekor olimpiade misalnya, karena mereka mendapatkan perlawanan ketat dari kompetitor lainnya. Mereka mendapatkan lawan tanding yang sepadan. Dengan begitu, mereka tertantang mengeluarkan seluruh kemampuannya.

“Soal lawan tanding yang sepadan” terasa relevan dikupas dalam konteks menjelang pemilihan anggota legislatif. Mengapa ? Kelak mereka (para anggota legislatif) akan menjadi tandem jajaran pemerintahan (eksekutif) dalam melahirkan berbagai kebijakan. Para anggota legislatif akan turut menyusun kebijakan dalam bidang anggaran. Mengawasi kebijakan piskal. Bahkan harus membedah postur anggaran negara. Mereka akan diskusi, dengar pendapat, bahkan menjadi pengawas kebijakan yang diambil Bappenas, Bank Indonesia, atau lembaga lain yang dihuni para pakar di bidangnya. Padahal menjadi anggota legislatif menjadi jabatan terbuka dengan persyaratan yang tidak menekankan kompetensi akademis, tidak pula menyertakan pengalaman dalam menangani sebuah urusan publik. Apa maunya mereka, hingga kini masih lebih kuat ketimbang atribut yang menunjukkan kemampuannya.

Di sisi lain, mendorong kalangan akademisi terjun ke wilayah politik pun bukan perkara mudah. Lebih banyak akademisi yang nyaman di kampus, laboratorium, atau menggerakan pemberdayaan masyarakat. Hal ini sama sulitnya menggoda kalangan eksekutif berkiprah di lembaga politik.

Gejala ini hampir ditemui di banyak tempat. Karena itu, banyak negara memperkuat postur legislatif dan eksekutif dengan mennyuntikan orang-orang hebat.

Tak heran, ada peraih nobel atau peneliti terbaik ditugaskan menjadi tenaga ahli di parlemen, sehingga ketika lembaga ini mengadakan hearing dengan otoritas moneter, institusi hukum, atau jajaran keamanan bukan hanya menguras kesabaran (karena berondongan pertanyaan tak perlu, atau komentar “mentah”), melainkan menghasilkan bahan kebijakan yang berguna. Atribut “keahlian” pada institusi tenaga ahli benar-benar merujuk pada kecakapan yang dibutuhkan bidang yang ditanganinya, bukan karena pertimbangan politis, atau sekedar mewadahi mereka yang dianggap berjasa atau menyimpan produk yang tidak lagi up to date.

Sekali lagi, prestasi lahir bukan hanya karena keunggulan dalam kekuatan, kecepatan, atau keindahan, tetapi juga karena mendapat lawan tanding yang sepadan. Karena itu, meski menang dapat dicapai dengan cara melemahkan lawan, namun seorang ksatria akan memilih jalan kemenangan yang memberinya peluang menunjukkan keunggulan lebih. Siapa pun yang menang bukan karena lawannya lemah atau dilemahkan, melainkan karena ia memiliki keunggulan lebih banyak. Jadilah pemenang ksatria, tanpa merendahkan lawan.***