Anthony dan Neno

karimsuryadi's picture

Karim Suryadi

Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat

SALING intip kekuatan lawan bukan hanya terjadi dalam cabang olah raga beregu, tetapi juga dalam kontestasi pemililhan presiden 2019. Berbagai drama dalam dua ajang yang berbeda ini, muncul silih berganti.

Meski menyuguhkan adegan keras, beberapa cabang olah raga mampu menampilkan sisi manusiawi yang menyentuh nurani, yang bisa menjadi oase untuk mendinginkan suhu politik yang mulai merambat naik.

Ketika berhasil menekuk timnas Indonesia 1-2, pemain Palestina tidak jumawa. Beberapa pemain yang negaranya dikuasai Israel tersebut tampak mendekati dan menghibur skuad timnas yang menangis. Adu kuat dan adu taktik berakhir begitu wasit meniup peluit panjang.

Sikap sportif dan menghargai lawan pun ditunjukan Rifki Ardiansyah, karateka asal Indonesia yang mampu meraih medali emas dengan menumbangkan karateka ranking dua dunia asal Iran, Amir Mahdi Zadeh. Rifki menyalami Zadeh yang tampak tak percaya.

Dua karateka yang bertarung hebat tampak bersahabat ketika wasit mengakhiri pertandingan.

Adegan paling menyayat hati tersaji ketika Anthony Sinisuka Gintings terkapar di tengah lapangan saat menghadapi pemain Tiongkok Shi Yugi pada final bulu tangkis beregu putra Asian Games 2018 di Senayan Jakarta, Rabu, 22 Agustus 2018.

Ketika memimpin 19-18 pada set penentuan, Anthony mulai tampak kesakitan. Dia sempat mendapatkan perawatan medis sebelum melanjutkan pertandingan, namun lagi-lagi lajunya tertahan cedera.

Wajahnya mengerang menahan sakit, namun tidak ciut sedikitpun. Meski dengan langkah yang kaku, Anthony masih bisa melancarkan smash yang mematikan.

Ingin rasanya menyumbangkan tenaga, atau mencabut rasa sakit yang mendera Anthony, namun tidak mungkin. Anthony benar-benar jatuh bangun.

Presiden Joko Widodo dan beberapa menteri yang menyaksikan langsung di Istora pun tak bisa berbuat banyak. Anthony tidak dapat melanjutkan pertandingan, dan harus ditandu keluar lapangan. Dia
kalah dari Shi Yugi, namun mencatatkan kemenangan dalam benak masyarakat Indonesia.

Meski lebih dari 80 menit terlibat dalam pertarungan sengit, Anthony dan Shi Yugi tidak kehilangan belas kasihnya. Meski semula menunjukan ekspresi kesal, lama-kelamaan Shi Yugi memahami masalah yang dialami Anthony.

Mengetahui Anthony kesakitan dan memaksakan diri melanjutkan pertandingan, Shi Yugi menunjukkan simpatinya. Dia tidak melancarkan smash tajam, namun hanya menempatkan bola di luar jangkauan. Ketika Anthony benar-benar tidak dapat melanjutkan pertandingan, Shi Yugi menghampiri dan memuji daya juang Anthony.

Masih banyak adegan yang bisa dicatat, kesemuanya mengajarkan kerasnya persaingan (bahkan pertandingan) dalam olah raga tidak boleh merusak nilai dasarnya: sportivitas dan persaudaraan. Sekeras apa pun persaingan di lapangan, seorang pemain tidak boleh merendahkan, apalagi berniat mencederai lawan. Lawan bertanding adalah kawan bermain.

Di tengah jatuh bangunnya atlet-atlet Indonesia merebut medali, tersiar kabar Neno Warisman tersandera di Bandara Sultan Syarif Kasim dan ditolak masuk Pekanbaru pada Sabtu, 25 Agustus 2018. Tidak jelas betul apa yang menjadi alasan penolakan, namun penghadangan terhadap salah satu tokoh penggerak #2019GantiPresiden tersebut menunjukan betapa kerasnya persaingan merebut kurisi RI 1.

Menurut kaca mata penonton, pertandingan dalam Asian Games tak jauh berbeda dengan kontestasi pemilihan presiden. Dua ajang ini diharapkan mampu menampilkan persaingan yang fair, sportif, dan menjunjung persaudaraan. Meski kedua belah pihak mengerahkan semua taktik dan jurus, namun tidak merendahkan, apalagi berniat mencederai pihak lain.

Apalagi dua sosok yang bersaing sama-sama warga Indonesia. Mereka sama-masa mencintai Indonesia, dan berusaha memberikan sumbangsih terbaik untuk negaranya, namun berbeda jalan. Untuk tujuan yang sama, berbeda jalan tidaklah salah.

Kontestasi dikatakan fair jika pihak-pihak yang bersaing memiliki kesempatan yang sama untuk menang. Untuk kepentingan ini dihadirkan wasit yang jujur dan tidak memihak, serta aturan yang tidak bisa ditawar.

Dua pasang capres-cawapres telah mendaftarkan diri. Mereka akan bersaing merebut dukungan pemilih berdasarkan aturan yang dibuat Komisi Pemilihan Umum (KPU). Kita berharap ada ruang yang fair bagi kedua pasang, untuk bersaing secara jujur dan adil.

Netralitas TNI, Kepolisian, Birokrasi, dan Korporasi Milik Negara diperlukan. Meski pimpinannya berbekal surat keputusan yang ditandatangai penguasa, organisasi-organisasi tadi dituntut independen karena kehadiran mereka merepresentasikan rakyat yang memiliki sikap dan pilihan yang berbeda.

Inilah ujian terberat panglima TNI, kepala kepolisian RI, gubernur, bupati, wali kota, dan kepala perusahaan milik negara, bagaimana mereka akan keluar dari jebakan dilema partisan. Bahkan presiden sendiri, diusung oleh parpol atau gabungan parpol. Mereka dipromosikan, diusung, dan dihantarkan ke tampuk kekuasaan melalui kuasa partai politik, namun mereka harus bertindak untuk dan atas nama rakyat (termasuk rakyat yang menyalurkan dukungannya kepada kontestan mereka).

Maka tak elok bila panglima TNI, kepala kepolisian RI, gubernur, bupati, wali kota, dan kepala perusahaan milik negara menjadi tim sukses salah satu pasang capres, mengambil kebijakan, atau mengeluarkan perintah yang memihak. Tindakan itu melanggar sumpahnya sendiri.

Mereka adalah “bapak” dari semua anak, baik yang berbaris di belakang Joko Widodo maupun Prabowo Subianto. Orang-orang yang berbaris di belakang kedua capres adalah “anak” sah mereka. Karena itu, ketika anak-anak mereka menunjukkan keinginan yang berbeda tidak boleh yang satu diinjak yang lainnya dijunjung
.
Ketika gerakan #2019TetapJokowi diizinkan, maka aktivitas #2019GantiPresiden tidak boleh dihambat, selama keduanya tidak saling merendahkan dan tidak melanggar aturan.

Biarlah kedua pasang calon dan pendukungnya menunjukan kelebihan masing-masing, hingga mereka yang memiliki kelebihan paling banyak menang dalam pemilihan presiden 2019.***